Angka Stunting di Kota Depok hanya Turun Satu Persen

masih Ada Ribuan Lagi yang Idap Gizi Buruk

indopos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok berusaha keras menurunkan angka anak kekurangan gizi atau stunting. Alasannya, sampai saat ini jumlah anak yang menderita gizi buruk mencapai ribuan jiwa.

Bahkan, penyebaran kasus stunting kian menyebar dan kini masih dalam pengawasan wilayah. Kepala Dinkes Kota Depok Novarita mengatakan, sampai sekarang pihaknya masih berupaya menurunkan angka penderita stunting.

Baca Juga :

Program P2L Bantu Cegah Stunting Sejak Dini

“Beberapa tahun ini kami masih mencoba menurukan kasus ini. Ya memang penurunannya tidak terlalu signifikan, tetapi harus kami selesaikan. Masih ada banyak yang mengalami stunting di sini,” katanya, Selasa (11/8).

Dari data Dinkes Depok pada 2020 jumlah stunting mencapai 5.075 anak. Sedangkan pada 2019 dan 2018 berturut-turut angkanya mencapai 5.241 anak dan 6.751 anak.

Gizi buruk rata-rata dialami oleh anak usia delapan bulan hingga sembilan tahun. Mereka tersebar di beberapa kelurahan di Depok.

Di antaranya, Kelurahan Serua, Bojongsari, Pasir Putih, Pangkalan Jati Baru, RangkapanJaya, Bedahan, Depok, Duren Seribu, Cisalak Pasar, dan Mekarjaya. Dirinya menambahkan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan gagal kembang pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Sehingga, pertumbuhan tubuh juga terlihat lebih pendek dan kurus. Tidak tumbuh normal seperti anak lain seusianya.

“Petumbuhan badan dan otak mereka tidak sama dengan yang lain. Anak yang menderita stunting pasti badannya kerdil dan untuk menangkap sesuatu sangat lambat. Memang ini butuh perhatian lebih agar pertumbuhan mereka normal,” paparnya.
Menurutnya, tren grafik stunting di Kota Depok mengalami penurunan sekitar satu persen setiap tahun. Hal itu tidak terlepas dari upaya Dinkes bersama kader dan kelompok masyarakat dalam melakukan pencegahan.
Menurutnya, sejumlah upaya telah dilakukan untuk menekan angka gizi buruk di Depok. Bahkan, sejak anak masih di dalam kandungan.

Di antaranya, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian makanan tambahan, dan penimbangan berat badan anak di Posyandu dan Puskesmas. Selanjutnya, kata dia, edukasi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk bayi usia lahir hingga enam bulan.

“Kami juga bakal melakukan peningkatan penyediaan air minum dan sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Lalu peningkatan kesadaran dan komitmen untuk ibu dan anak,” bebernya.
Dia berharap, dengan berbagai upaya tersebut bisa mempercepat penurunan hingga 25 persen setiap tahunnya. Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Depok Hendrik Tangke Allo menyatakan, Dinkes Depok sebagai ujung tombak penyelesaian kasus gizi buruk.

Apalagi menurutnya, setiap tahun gelontoran dana untuk menekan angka stunting terus dilakukan. “Mungkin selama ini hanya pendataan saja. Harusnya Dinkes dapat berkoordinasi dengan dinas lain untuk membantu pemenuhan gizi penderita stunting. Kalau hanya 1 persen penurunan angka itu untuk apa? Hasilnya minim,” kritiknya.

Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Diah M Utari menengahi. Menurutnya, meningkatnya masalah stunting di wilayah Depok karena minimnya informasi yang disampaikan petugas Posyandu atau Puskesmas. “Inilah tugas dari pemerintah untuk meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi pada masyarakat. Mungkin karena kurang kooperatif Dinkes ke masyarakat, sehingga warga menjadi tidak tahu dan kurang mempedulikan ini,” tuturnya. (cok) 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.