Alexa Metrics

Kasus Penularan COVID-19 di Banten Bertambah

Kasus Penularan COVID-19 di Banten Bertambah Ilustrasi. (Foto: ANTARA /Muhammad Iqbal)

indopos.co.id -Gubernur Banten Wahidin Halim kembali memperpanjang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah Tangerang Raya yang meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Tapi perpanjangan PSBB jilid VIII yang diterapkan hingga 22 Agustus 2020 itu mendapat kritikan dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten, M Nawa Said.

Politisi yang akrab disapa Cak Nawa ini juga mengatakan, PSBB yang diterapkan di Provinsi Banten seperti banci karena dibarengi berbagai pelonggaran. ”Lebih baik, PSBB langsung ditiadakan saja,” terangnya melalui telepon kepada INDOPOS, Selasa (11/8).

Sebagai gantinya, lanjutnya juga, pemerintah daerah bisa mengkampanyekan protokol kesehatan kepada masyarakat untuk mencegah penularan virus corona. Tapi kampanye itu agar efektif harus melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para pemuda.

Lantaran, katanya juga, pemberlakukan PSBB dengan pelonggaran tidak akan berdampak signifikan menahan penyebaran virus corona di wilayah Tangerang Raya. ”PSBB saat ini bila diartikan jadi Pelonggaran Sosial Bersekala Besar yah,” sindirnya.

Dikatakan Cak Nawa juga, saat PSBB diterapkan tanpa adanya pelonggaran angka penularan COVID-19 di Tangerang Raya menurun. Bahkan wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta itu berubah jadi zona kuning dari zona merah.

”PSBB diterapkan tanpa pelonggaran, angka penularan COVID-19 di Tangerang Raya turun lalu, dari zona merah turun jadi zona kuning. Tapi PSBB diterapkan dengan pelonggaran, angka penularan virus corona malahan naik,” ujar juga politisi asal Partai Demokrat ini.

Cak Nawa juga mengatakan, jangan sampai diperpanjangnya PSBB untuk delapan kalinya ini menjadi alasan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten karena berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta tidak berjalannya kegiatan-kegiatan yang sudah dirancang pada APBD 2020.

”Kita realistis saja. Jangankan di perkampungan, warga yang tinggal di perkotaan saja masih banyak yang enggak percaya dengan COVID-19. Makanya, sosialisasi penerapan kesehatan guna mencegah COVID-19 harus digencarkan dan melibatkan semua pihak,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti membenarkan ada peningkatan kasus penularan corona di wilayah Tangerang Raya.

Kata Ati, selama dua pekan penerapan PSBB perpanjangan ketujuh atau tahap VIII di wilayah Tangerang Raya, terjadi peningkatan kasus penularan COVID-19 bukan hanya di wilayah Tangerang Raya tapi juga di seluruh kota/kabupaten di Banten.

Kata Ati juga, meningkatnya jumlah positif corona karena masifnya tracking, dan skrining, yang dilakukan. Naiknya jumlah kasus COVID-19 juga karena mobilitas masyarakat yang menimbulkan klaster impor bertambah dan dibukanya beberapa perkantoran dan pusat perbelanjaan yang menjadikan klaster baru.

Berdasarkan Data Info Corona Banten yang dipantau koran ini, Selasa (11/8), jumlah kasus terkonfirmasi positif corona sebanyak 1.673 orang, dengan rincian 215 pasien masih dirawat, 1.359 pasien dinyatakan sembuh dan 99 pasien meninggal dunia. (yas)



Apa Pendapatmu?