Alexa Metrics

Hingga Akhir Juli, Serapan Anggaran K/L Rendah

Hingga Akhir Juli, Serapan Anggaran K/L Rendah Pelambatan ekonomi juga memukul dunia usaha, termasuk UMKM. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Penyerapan anggaran yang dilakukan kementerian/lembaga hingga akhir Juli 2020 sangat rendah. Untuk itu, pemerintah akan terus memacu penyerapan anggaran, termasuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), sesuai yang disiapkan yakni sebesar Rp1.700 triliun hingga akhir tahun ini untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Rakerkonas Apindo) 2020, yang disiarkan daring, Rabu, mengatakan penyerapan anggaran perlu dipacu untuk memompa pertumbuhan di triwulan III 2020, setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh negatif 5,32 persen pada triwulan II.

“Triwulan III ini penentuan bagi kita. Dari Rp2.700 triliun anggaran yang disiapkan, termasuk anggaran PEN, sampai Juni pemerintah sudah membelanjakan Rp1.000 triliun. Di triwulan III-IV kita harapkan bisa membelanjakan Rp1.700 triliun, yakni Rp700 triliun di triwulan III dan Rp1.000 triliun di triwulan IV,” katanya.

Airlangga mengatakan hal itu juga dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, di mana dengan memacu belanja pemerintah di setiap kementerian, maka perekonomian bisa kembali masuk jalur positif.

Meski ekonomi Indonesia tercatat tumbuh negatif, mulai dari sisi konsumsi, belanja pemerintah hingga penurunan ekspor dan impor, namun masih ada sejumlah sektor yang tumbuh positif di tengah perlambatan yang terjadi.

Pertumbuhan positif masih tercatat dari sektor informasi dan telekomunikasi, utilitas air, jasa kesehatan, real estate, pertanian, jasa pendidikan serta jasa keuangan.

Sementara itu, sejumlah sektor yang paling terpukul yakni akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi darat, laut dan udara. “Sektor akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi inilah yang jadi perhatian pemerintah. Karena Ketua Apindo juga adalah Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), mungkin kita perlu bahas stimulan yang perlu dilakukan di sektor ini, karena spending-nya juga di dalam negeri, maka harus didorong,” katanya.

Indonesia, lanjut mantan Menteri Perindustrian itu, juga menjadi satu dari sedikit negara yang pertumbuhan ekonominya masih positif pada triwulan I 2020.

Sementara itu, di triwulan II, negara lain turun cukup dalam, misalnya Inggris yang minus 19 persen, Jerman minus 11 persen, Prancis minus 19 dan Jepang yang minus 8 persen, Korea Selatan minus 2,9 persen, dan  India minus 18 persen.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan cara paling cepat untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi adalah dengan memastikan Kementerian/Lembaga (K/L) mempercepat belanja dan mempersiapkan estimasi pencairan anggaran per bulan.

“Kemenkeu siap mengadakan cash-nya dan kegiatan harus berjalan semua apalagi kegiatan berupa padat karya, perlindungan sosial, UMKM,” ungkapnya dalam sebuah webinar, Rabu (12/8/2020).

Pemerintah, kata Wamenkeu, sudah seharusnya menyerap seluruh defisit yang disiapkan. “Sekarang dalam mode mengejar pencairan,” kata Wamenkeu.

Sebelumnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan kinerja birokrasi yang lambat dan rumit menjadi hambatan bagi penyerapan anggaran penanganan pandemi Covid-19 yang cukup besar dialokasikan oleh Pemerintah.

“Salah satu sumbatannya adalah birokrasi yang lambat merespons keadaan dan menyikapi urgency yang terjadi,” kata Ma’ruf Amin. Persoalan yang dialami di birokrasi, dalam hal penanganan Covid-19 tersebut, antara lain lambannya proses perencanaan dan penganggaran, data yang tidak akurat, hingga keterlambatan pengadaan barang dan jasa.

Oleh karena itu, Wapres meminta seluruh K/L dan pemda tetap meningkatkan kinerja di tengah pandemi Covid-19. Kondisi pandemi juga dapat dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan penyederhanaan birokrasi lewat penyesuaian kerja. (ant/nas)



Apa Pendapatmu?