Alexa Metrics

Melestarikan Tradisi Melepas Ikan Larangan, Sumbar

Melestarikan Tradisi Melepas Ikan Larangan, Sumbar Ribuan warga Pasaman Barat, Sumbar tampak antusias mengikuti tradisi melepas ikan larangan, Rabu (12/8).

indopos.co.id – Tradisi melepas ikan larangan di Lubuk Godang, Kecamatan Parit Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), masih terjaga dan lestari. Tradisi itu, rutin dilakukan sekali setahun di Sungai Batang Lapu dengan melibatkan ratusan masyarakat.

”Tradisi ini masih tetap rutin di gelar setiap tahun sekali,” tutur salah seorang pemuda Lubuk Godang Madri, di Pasaman Barat, Sumbar, Rabu (12/8).

Menurut Madri, tradisi melepas ikan larangan itu merupakan bentuk kebersamaan warga. Sepanjang 1,5 kilometer masyarakat beramai-ramai menangkap beragam jenis ikan sejak pagi. Berbeda dengan daerah lain, saat membuka ikan larangan, masyarakat hanya menggunakan alat tangkap tradisional jaring atau tangguak. Bukan menggunakan jala atau tombak. ”Sudah menjadi tradisi di sini karena jika menggunakan jala akan tidak leluasa karena masyarakat ramai yang hadir,” imbuhnya.

Ketua Pemuda Lubuk Godang Albar menambahkan acara buka larangan salah satu upaya mempererat silaturahmi antara sesama warga Lubu Godang dan perantau. ”Sumbangan masyarakat akan kita gunakan untuk kas pemuda dalam kegiatan yang akan diadakan. Salah satunya memberbaiki lapangan sepak bola yang ada,” ujarnya.

Anggota DPD Emma Yohanna mengharapkan tradisi masyarakat membuka ikan larangan itu harus dipertahankan. Itu penting untuk memupuk kebersamaan dan silaturrahmi. ”Tradisi ini turun temurun ada di Pasaman Barat khususnya di Lubuk Godang. Mudah-mudahan masyarakat tetap kompak selalu,” harapnya.

Sementara itu, Bakal Calon Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinady mengapresiasi kegiatan masyarakat Lubuk Godang tersebut. ”Selama saya berkunjung ke Sumbar, kali ini sangat berkesan dan menarik. Penuh canda tawa dan kebersamaan,” ucapnya.

Menurut Audy, tradisi buka larangan itu, perlu dipertahankan. Pasalnya, merupakan budaya Minang secara turun temurun terus ada. “Ada kegiatan menangkap ikan bersama, berlomba-lomba penuh canda tawa. Setelah itu baru bakar ikan, dan makan bersama. Penuh kebersamaan,” ujarnya. (ant)



Apa Pendapatmu?