Alexa Metrics

Penularan COVID-19 di Depok Makin Tak Terkendali, Ini Sebabnya

Penularan COVID-19 di Depok Makin Tak Terkendali, Ini Sebabnya Kota Depok menjadi yang terbanyak dan tercepat dalam hal penularan virus Corona di Jawa Barat. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Kota Depok masih menjadi sorotan lantaran menjadi zona merah dengan angka pasien dan penyebaran virus Corona terbanyak di Jawa Barat. “Daerah ini harus dijaga ketat dan harus diberikan perhatian ekstra khusus. Catatan, agar hati-hati apabila kerjanya mobile dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena ini akan membawa penularan lagi ke masyarakat lain yang didatangi,” jelas Tim Pakar Satuan Satgas Penanganan COVID-19 Pusat Dewi Nur Aisyah, Rabu (12/8).

Berdasarkan data terakhir Tim Satgas COVID-19 Pusat, Kota Depok berada di peringkat 17 secara nasional. Dalam satu hari jumlah penularan Virus Corona ini mencapai 334 kasus aktif.

Temuan itu didapati di seluruh kelurahan yang ada di kota tersebut. Yang makin menakutkan lagi, ujarnya, mobilitas penduduk Depok ke Jabodetabek cukup tinggi.

“Jika dibandingkan berdasarkan insidens kumulatif per 100 ribu penduduk di level nasional, Depok peringkatnya menjadi 68. Ini berdasarkan dengan jumlah penduduknya dan dibandingkan 514 kota lain,” paparnya.
Karena tingginya kasus penularan COVID-19, Dewi meminta Pemkot Depok bersama Gugus Tugas Penanganan Covid-19 harus melakukan pengawasan ekstra khusus. Sebab, jika dibiarkan maka penanggulangan virus tersebut akan semakin sulit.

Apalagi, kota ini berdekatan dengan ibu kota negara yang menjadi sentra berkegiatan. “Jangan dibiarkan, karena akan fatal nanti. Pengecekan kegiatan sosial bersama pengurus lingkungan harus dilakukan bersama. Jika wilayah ini aman maka akan membantu percepatan penanganan COVID-19,” yakinnya.

Dia meyakini, faktor kenaikan kasus terjadi karena banyak kasus positif dan contact tracking belum berjalan. “Orangnya sudah keburu interaksi dengan orang lain, adanya kluster baru, hingga jumlah tes yang ditingkatkan,” lugasnya.

Menanggapi itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengungkapkan, Pemkot Depok tidak dapat berbuat banyak menekan pergerakan warga dalam menanggulangi COVID-19. Apalagi, sejak awal Juni 2020, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Depok resmi diperlonggar secara bertahap dengan kewaspadaan level tiga karena waktu itu ditetapkan sebagai zona kuning.

Ditambah, kondisi perekonomian masyarakat yang semakin menurun. “Saat ini kami tidak bisa membatasi aktivitas orang dalam bekerja yang saat ini sudah dibuka di semua sektor. Kan lihat sendiri pendapatan mereka tak terpenuhi. Makanya ini menjadi semakin tak terkendali penularan COVID-19,” elaknya.

Pihaknya kini mencoba berkomunikasi dengan tim pakar epidemiologi Satgas COVID-19 Pusat yang menghitung skor ini. Karena hitungan mereka mingguan, berdasarkan parameter yang sudah mereka tentukan.

“Mereka juga tidak menyebutkan periode waktunya kapan,” imbuhnya. Sementara itu, Wali Kota Depok Mohammad Idris menjelaskan, salah satu penyebab warga Depok rawan terjadi penularan COVID-19 adalah karena letak geografis kota tersebut yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Bogor.

“Kota Depok di sebelah utara berbatasan dengan Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Bekasi dan sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Dengan demikian, secara geografis rawan terjadi penularan,” ujarnya.

Kemudian, faktor lainnya adalah warga Depok yang bersifat commuter. Menurutnya, sekitar 1 juta lebih masyarakat Depok mencari nafkah di Jakarta dan sekitarnya dengan rata-rata usia produktif.

Selain itu, imbuhnya, sejumlah pabrik di Kota Depok juga menjadi faktor yang mendongkrak angka penularan. Sebab, sekitar 60 persen karyawan pabrik merupakan warga luar Depok.

Tidak hanya itu, sambung dia, kedisiplinan masyarakat juga sudah berkurang. Saat ini suasananya sudah seperti kembali normal.

Untuk mengantisispasi semakin meluasnya penularan COVID-19, dirinya mengeluarkan Surat Edaran untuk Protokol Kesehatan Pribadi guna mencegah penularan COVID-19.
Dia menambahkan, berdasarkan perhitungan 15 indikator kesehatan penentu warna zonasi risiko COVID-19, nilai Kota Depok terakhir 1,71. Maka Depok masuk ke dalam zona merah, yakni risiko tinggi dengan skor 0 hingga 1,8.

Dikatakannya, peningkatan kasus konfirmasi COVID-19 juga karena adanya klaster baru, yakni perkantoran. Contohnya, masyarakat yang bekerja di luar Kota Depok kemudian positif dan menularkan keluarga mereka.

“Jadi untuk pekerja setelah kembali ke rumah harus steril dengan cuci tangan menggunakan sabun yang bersih, kemudian mandi dan baju celana direndam air panas. Setelah itu, baru berinteraksi dengan keluarga,” ulasnya.

Dia juga menambahkan, adanya lonjakan kasus konfirmasi positif di Depok juga merupakan hasil dari semakin masifnya pendeteksian melalui rapid test maupun Swab PCR.

Saat ini, kata dia, Kota Depok masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional. Sebab reproduksi effektif (Rt) masih di bawah 1, namun kondisi genting karena mendekati 1, yaitu 0,93 perlu tindakan nyata dan kehati-hatian.

“Meski begitu, perlu diketahui, persentase kesembuhan di Kota Depok melampaui Jawa Barat dan Nasional,” ucapnya bangga. (cok)



Apa Pendapatmu?