Alexa Metrics

Kisah Para Penggali Makam Covid-19 yang Resah Menunggu Insentif

Kisah Para Penggali Makam Covid-19 yang Resah Menunggu Insentif Penggali makam Covid-19 di Pondok Ranggon, Jaktim. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Selain tenaga medis, salah satu profesi paling sibuk selama pandemi Covid-19 melanda tanah air adalah pekerja penggali makam. Mereka bekerja ekstra keras karena dalam sehari jumlah makam yang harus mereka gali bertambah berlipat kali.

Belum lagi dengan protokol kesehatan yang mengharuskan mereka memakai alat pelindung diri yang membuat susah gerak mereka. Namun, kini mereka kecewa karena insentif yang dijanjikan tidak kunjung diterima.

Para penggali makam untuk jenazah COVID-19 di Jakarta mulai tak bersemangat karena dana insentif yang dijanjikan sebesar Rp1 juta lebih per bulan hingga kini tak kunjung cair.

“Kalau dulu, kami masih kuat buat lubang baru cadangan tiap hari untuk jenazah COVID-19. Sekarang, tidak sanggup, nunggu aja kabar (jenazah) yang datang,” ujar salah satu penggali makam berinisial HA saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Ia mengakui, saat pandemi ini sebenarnya dia diharuskan siap siaga 24 jam terus-menerus menunggu datangnya jenazah sehingga hal itu sangat melelahkan.

Bahkan HA menyebut, di malam hari saat jenazah baru akan diantarkan, dia dan teman-temannya baru akan membuat makam baru.

Ia menjelaskan, dana insentif itu sangat dinantikan sebagai dukungan karena pekerjaannya berisiko tinggi tertular COVID-19 tetapi ternyata belum dibayarkan selama dua bulan.

Dengan demikian, tegasnya, proses pemakaman sedikit melambat, meski pasien meninggal akibat COVID-19 seharusnya dimakamkan tidak lebih dari empat jam. “Dari bulan Juni belum dibayar,” katanya.

Meski keberatan dan protes, HA dan teman-teman tidak berpikiran untuk mogok kerja seperti dilakukan rekan sejawat mereka di Taman Pemakaman Umum (TPU) Gandus Hills Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Jerih payah para penggali makam elite di Palembang tersebut ternyata tak beriringan dengan hasil yang didapatkannya. Para penggali makam jenasah pasien Covid-19 di Palembang ini pun, akhirnya memilih mogok kerja.

Mereka merasa kecewa karena upah yang dijanjikan untuk penggalian makam di TPU Gandus Hills Palembang ini, tak kunjung cair.

“Tidak, kami tidak ada niat mogok kerja. Oleh karena itu, demi menafkahi keluarga sembari menanti insentif, kami harus berjuang dengan cara apapun, termasuk menggadai atau menjual barang berharga,” katanya.

HA berharap, pemerintah segera bertindak memberikan inesntif yang mereka nantikan sejak lama. ”Kami memang tidak paham apa itu birokrasi, kok sampai lama sekali kami terima pembayaran. Semoga para atasan paham kesulitan kami dan secepatnya mencairkan insentis para penggali makam Covid-19,” harapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta Edi Sumantri mengaku telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta terkait pembayaran insentif bagi para petugas pemakaman dan sopir ambulans yang berstatus Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) itu.

“Uang siap, saya sudah sampaikan kepada Kadis Pertamanan dan Hutan Kota untuk segera mengajukan permohonan pencairan. Permohonan masuk ke BPKD, satu hari langsung dicairkan,” kata Edi.

Edi mengatakan Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran senilai Rp5,02 triliun untuk penanganan wabah COVID-19 dalam bentuk Biaya Tidak Terduga (BTT) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta tahun 2020.

Dana senilai itu, tidak hanya untuk pembayaran insentif bagi petugas yang membantu menangani COVID-19 saja. Namun untuk seluruh kegiatan yang berkaitan dengan COVID-19 seperti pengetesan memakai alat PCR dan sebagainya.

“Jadi yang tahu ada dana atau tidaknya adalah BPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD),” ujar Edi. (ant)



Apa Pendapatmu?