Alexa Metrics

Periset Merah Putih Masuk Tahap Praklinis

Periset Merah Putih Masuk Tahap Praklinis

indopos.co.id – Meski sudah ada vaksin Sinovac dari Tiongkok yang selangkah di depan, pemerintah terus berupaya melakukan penelitian untuk menemukan vaksin Corona atau Covid-19 buatan dalam negeri.

Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, beberapa penelitian dilakukan untuk mengatasi pandemi Covid-19 dengan melakukan riset vaksin Covid-19 hingga alat kesehatan.

“Untuk penelitian terkait Covid-19, kami prioritaskan untuk menemukan vaksin Covid-19. Kemudian penelitian obat herbal pendukung penyembuhan pasien dan penelitian alat kesehatan,” ujar Bambang Brodjonegoro dalam virtual di Jakarta, Kamis (13/8).

Lebih jauh Bambang mengungkapkan, saat ini penelitian vaksin Covid-19 atau vaksin merah putih sudah pada tahap uji praklinis pada hewan. Dan proses ini diperkirakan memakan waktu kurang lebih satu bulan. “Kita berharap proses uji praklinis ke mamalia ini bisa berjalan lancar dan efektif,” ungkapnya.

Uji praklinis pada mamalia ini, menurut Bambang dilakukan sebelum tahap uji klinis pada manusia. Apabila efektif dilakukan uji klinis pada hewan, maka vaksin ini bisa diuji klinis pada manusia. Ia menambahkan, selain vaksin, penelitian terkait Covid-19 juga diprioritaskan pada alat kesehatan. Apalagi, selama ini tidak ada perhatian pada alat kesehatan di Indonesia.

“Kita harus bisa melakukan inovasi Alkes sendiri. Selama ini alkes kurang dapat perhatian,” katanya.

Selain itu, masih ujar Bambang, beberapa bidang menjadi prioritas riset nasional (PRN). Di antaranya: obat-obatan, bahan bakar minyak (BBM) dan penguatan ekonomi UMKM.

Ia berharap, dengan riset di bidang obat-obatan, bisa menekan impor bahan baku obat-obatan.

Saat ini 95 persen kebutuhan industri untuk bahan baku obat berasal dari luar negeri. “Dari penelitian kita pada garam misalnya. Kita bisa menghasilkan bahan baku obat, ini kita harapkan bisa menekan impor bahan baku obat,” ujarnya.

Pemanfaatan garam dengan teknologi, menurutnya juga bisa menyerap lebih besar garam dari para petani. Dan ini bisa meningkatkan perekonomian para petani garam. “Kalau kebutuhan pasar akan garam naik, tentu harga juga naik. Riset ini kami harapkan bisa meningkatkan perekonomian para petani garam,” ungkapnya.

Ia menuturkan, tingginya kebutuhan BBM dalam negeri, telah meningkatkan impor BBM dari luar negeri. Riset pada minyak sawit sebagai BBM alternatif, diharapkan bisa mengurangi impor BBM dari luar negeri.

“Kita contohnya sudah bangun pabrik BBM dari minyak sawit dan ini akan terus kami tingkatkan. Kemudian untuk riset penguatan ekonomi UMKM, kami mengembangkan produk kemasan makanan tradisional salahnya gudeg. Ini juga sangat membantu UMKM kita, harapannya bisa meningkatkan perekonomian mereka,” katanya.

Bambang menegaskan, untuk mendukung percepatan proses hilirisasi dan komersial hasil inovasi produk Indonesia pihaknya telah meluncurkan elektronik katalog (e-katalog) khusus produk Indonesia. Selama ini, menurutnya perijinan menjadi kendala, sehingga tidak sedikit hasil riset tidak bisa dihilirisasi.

Sementara itu, Ketua Tim Prioritas Riset Nasional Prakoso mengatakan, riset nasional memprioritaskan riset untuk produk yang siap dihilirisasi dan dikomersilkan. Beberapa produk PRN di 2020 ini terus ditambah. Seperti pesawat CN295, pesawat tanpa awak (drone) elang hitam dan vaksin Covid-19.

“Sejak tahap awal riset harus diprioritaskan sesuai kebutuhan pasar. Ini agar ada percepatan dan penyerapan anggaran,” katanya. (nas)



Apa Pendapatmu?