Waspadai Digitalisasi di Era New Normal

Indopos.co.id – Era digitalisasi di era new normal harus ditanggapi dengan sikap yang positif dan berhati-hati. Penggunaan digitalisasi yang berlebihan tanpa ada sikap pendewasaan dalam menggunakan dunia maya sebagai aktivitas sehari-hari bisa memunculkan permasalahan dan kriminalitas dalam dunia siber.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Sekolah Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia (SKSG UI) Athor Subroto dalam diskusi ilmiah secara daring Kamis (13/8/2020). Bertajuk “Science of Cyber Crime Perspective in New Normal Era” Athor Subroto mengemukakan Cyber crime menjadi salah satu fokus permasalahan seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi.

Baca Juga :

“Sampai saat ini, SKSG UI khususnya melalui Kajian Ilmu Kepolisian SKSG UI mengembangkan ilmu keamanan siber oleh para pakar, baik dalam perspektif interdisiplin, intradisiplin maupun multidisiplin yang ada di UI,” ujar dia.

Pola, bentuk dan perilaku kejahatan siber, bagaimana strategi pencegahan dan penanganan keamanan siber di era New Normal harus diantisipasi. Jangan sampai dikemudian hari, masyarakat terlena dan terjerat pada permasalahan hukum teknologi.

Baca Juga :

”Meningkatnya digitalisasi di kehidupan manusia dapat memunculkan permasalahan dan kriminalitas dalam dunia siber yang membawa konsekuensi pula terhadap sistem keamanan global dan nasional,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Kepala Kepolisian Negara RI Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono menambahkan, Kejahatan siber atau cyber crime dilakukan dengan menggunakan media internet, salah satunya pun bisa melalui media sosial.

”Ujaran kebencian, hoax dapat memanfaatkan media sosial. Media sosial dapat menjadi lebih rawan karena setiap orang bisa jadi reporter, penulis, koordinator liputan, editor, redaktur hingga pemred,” kata dia.

Kejahatan melalui media sosial dapat menjadi senjata ampuh untuk menggerakkan massa. Cybercrime science tidak semata dominan terkait informasi dan teknologi, melainkan juga bagaimana kejahatan siber itu muncul dalam diri individu atau kelompok.

”Upaya pencegahan agar tidak terjadi praktik kejahatan siber, metode dan disiplin ilmu manapun sangat diperlukan agar mampu mencegahnya,” kata dia.

Direktur Tindak Pidana Siber Brigjen Pol Slamet mengutarakan, ada delapan aspek digital yang penting untuk diketahui masyarakat dalam menggunkan media digital dalam menjalani kehidupan sehari-hari, yaitu mampu memilah identitas yang boleh dibagikan (digital identity), menyeimbangkan penggunaan waktu berdigital (digital used), mampu mendeteksi konten berisiko (digital safety).

Termasuk mampu mendeteksi ancaman siber dan melindungi akun dan gawai, (digital security) mampu berempati dan berhubungan baik secara online (digital emotional), mampu berkomunikasi dan berkolaborasi (digital communication), Memahami cara peroleh dan menyaring info (digital literacy), dan menghormati hak cipta orang lain (digital rights). (ash)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.