Alexa Metrics

Pandemi COVID-19 Berikan Banyak Pelajaran Berharga

Pandemi COVID-19 Berikan Banyak Pelajaran Berharga Wisatawan menikmati suasana alam saat wisata susur sungai di hutan Mangrove Alami Kuin Kecil, banjarmasin, Kalimantan selatan, sabtu (27/6/2020). (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Piyan dan keluarga biasanya hobi ke mal. Sekadar makan-makan, bermain, atau nonton. Namun sejak pandemi ini tidak lagi pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka lebih suka pergi ke alam terbuka. Lebih menyegarkan sekaligus bisa belajar ke alam.

Bagi keluarga yang tinggal di Tambaksari, Surabaya, ini COVID-19 memberi banyak pelajaran berharga. Dengan kehadiran Virus Corona langit menjadi biru. Polusi berkurang karena asap pabrik dan knalpot juga berkurang seiring berkurangnya aktivitas manusia.

’’Pandemi jadi pelajaran penting agar kita semua menjaga keseimbangan alam,’’ kata Piyan yang dikaruniai dua anak ini.

Salah satu tempat tempat paling disukai Piyan sekeluarga adalah Hutan Mangrove Surabaya. Berlokasi di Wonorejo, hutan bakau di sini kian hari semakin bagus. Sarana dan prasarana terus dilengkapi.

’’Dulu belum ada musalanya. Pendoponya juga belum ada. Akses ke sini pun masih tanah. Sekarang sudah paving dan halaman parkirnya juga luas,’’ kata Piyan akhir pekan lalu.

’’Ada taman kulinernya juga Mas. Terus dibuat spot-spot selfie yang instagramable. Pas buat generasi milenial lah pokok e,’’ tukas Ita, istri Piyan, yang suka foto-foto itu.

Dari pantauan INDOPOS, lokasi wisata hutan bakau ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pengunjung wajib pakai masker, dicek suhunya dengan thermal gun, dan memasuki bilik disinfektan. Di setiap sudut juga disediakan wastafel dan sabun untuk cuci tangan.

Selain bisa menikmati hutan mangrove, wisatawan juga bisa menyusuri hutan bakau ini menggunakan perahu, memancing, dan sekadar foto-foto atau kulineran makanan khas Surabaya.

’’Jadi gak usa galau mau jalan-jalan ke mana. Kita pilih hutan bakau saja,’’ kata Piyan yang berprofesi sebagai pengusaha makanan ini.

Akses ke hutan mangrove Surabaya tidak sulit. Dari bandara Juanda Surabaya hanya sekitar lima belas hingga 20 menit. Sebab, saat ini jalan mer sudah tembus ke bandara.

Saat ini pemerintah memang sedang giat-giatnya mengembangkan potensi taman wisata alam dan taman nasional, termasuk wisata hutan mangrove ini. Para kepala daerah juga ramai-ramai mengembangkan potensi wisata hutan mangrove. Karena selain menjadi ekowisata, mangrove bisa menahan laju abrasi, mengurangi dampak tsunami, serta dapat mengurangi emisi karbon.

Selain Pemkot Surabaya, sejumlah kepala daerah yang dinilai serius mengembangkan wisata mangrove adalah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mereka menanami mangrove dan jambu mete di kawasan bekas penambangan bijih timah dan lahan kritis dalam melestarikan lingkungan.

Langkah ini pun mendapat apresiasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya karena gubernur telah berupaya melestarikan lingkungan dan melindungi hutan dari penambangan, ilegal logging, dan lainnya.

Tidak mudah mereklamasi lahan bekas tambang, kritis dan melindungi hutan ini Apalagi Babel daerah tambang timah. Namun sebagai pemimpin, Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan, telah berbuat untuk melindungi hutan ini dari kerusakan.

’’Saya sangat menyambut positif upaya Babel yang telah melakukan rehabilitasi lahan kritis, sehingga ke depan daerah penghasil bijih timah nomor dua terbesar dunia akan menjadi lebih baik,’’ ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya di Pangkal Pinang belum lama ini.

Siti mengatakan intinya mangrove itu adalah “resources” besar di dunia. Itu ada di Indonesia. Sekarang menjadi perhatian karena berkaitan dengan emisi karbon. “Mangrove tempat terbaik bersama dengan gambut untuk menahan emisi karbon,’’ katanya.
Pemerintah pusat dalam hal ini telah melakukan kerja sama dengan negara Jerman dan negara-negara di Asia yang mendukung program untuk mangrove.

“Tadi kami telah berdiskusi, konteksnya adalah persoalan reklamasi tambang. Ini adalah hal yang cukup serius pada saat ini. Sedang dipersiapkan rancangan peraturan presiden tentang penangan pasca tambang dan saya minta dalam waktu dekat referensi dari pak gubernur,’’ ujar Siti.

Mantan Sekjen Depdagri dan DPD RI itu menambahkan Provinsi Bangka Belitung bisa melejit dengan cepat dengan mendapatkan dukungan pemerintah pusat terutama dari sektor kehutanan dan lingkungan. “Sektor ini tanggung jawab saya, tentu saya akan bantu Pak Gubernur,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan mengucapkan terima kasih kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya atas dukungannya dalam rehabilitasi lahan bekas tambang timah di daerah ini.

“Saya bersyukur kepada Ibu Menteri yang mendukung apa yang telah kami lakukan selama ini. Terkait rehabilitasi lahan kritis ekstambang, kami pilih tanaman mangrove dan jambu mete, karena itu memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Jambu mete harga jual mahal, sedangkan mangrove akan kami jadikan lahan budi daya kepiting bakau. Pangsa pasarnya terbuka lebar, dan Ibu Siti Nurbaya sangat setuju apa yang kami lakukan ini,” katanya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai perwakilan wilayah Sumatera untuk penanaman mangrove pada Peringatan Hari Mangrove se-Dunia beberapa waktu lalu.

Bangka Belitung menjadi perwakilan wilayah Sumatera untuk penanaman mangrove, sekaligus pembagian Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial dalam memperingati Hari Mangrove se-Dunia tahun ini.

“Saya mempersiapkan dan mengusulkan untuk kembali melakukan penyerahan SK tentang hutan sosial bagi masyarakat dan juga tanah yang dari hutan untuk reforma agraria, sekaligus kita ambil hutan mangrove dalam memperingati Hari Mangrove se-Dunia,’’ ujarnya.

Menurut dia saat ini sudah ada sekitar 600-an SK yang akan diberikan dengan luas 600 ribu hektare di seluruh Indonesia untuk dibagikan sampai pertengahan September tahun ini.
“Saya bersama Gubernur Kepulauan Babel akan persiapan untuk penyerahan SK hutan sosial dan SK tanah obyek reforma agraria dari hutan untuk rakyat dan juga tentang mangrove,” katanya.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan pada kesempatan itu mengajukan beberapa usulan untuk dikunjungi Presiden Joko Widodo seperti program kampung nusantara TNI/Polri untuk penanaman, peresmian Waduk Mentukul Bangka Selatan, dan panen padi, serta penyerahan sertifikat tanah dari kementerian ATR (Agraria dan Tata Ruang).

Rehabilitasi 200 Hektare Lahan

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan rehabilitasi lahan mangrove atau hutan bakau hingga seluas 200 hektare di berbagai kawasan pesisir nasional selama 2020.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Aryo Hanggono menyampaikan bahwa tahun 2020 ini KKP memiliki target untuk melakukan perbaikan kondisi ekosistem mangrove dengan penanaman mangrove seluas 200 hektare di 12 lokasi.

“Salah satu lokasi prioritas terdapat di Lampung Timur dengan rencana penanaman seluas 40 ha yaitu Desa Margasari dan Desa Sriminosari,” kata Aryo Hanggono.

Menurut Aryo, rehabilitasi tanaman mangrove di lokasi ini bertujuan untuk menangkal abrasi serta meningkatkan ekosistem laut.

Tak hanya itu, ujar dia, lokasi tersebut juga diharapkan dapat menjadi daerah ekowisata yang dapat memberikan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Lampung Timur.

Aryo juga menyampaikan bahwa pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, KKP diberikan mandat untuk melakukan rehabilitasi pesisir melalui penanaman mangrove seluas 1.800 hektare.

“Sampai tahun 2024, KKP berencana melakukan penanaman mangrove seluas 1.800 ha, mengingat hal ini merupakan target dalam upaya rehabilitasi mangrove di Indonesia. Upaya lain yang dilakukan KKP dalam mendukung rehabilitasi mangrove adalah dengan memfasilitasi lokasi mangrove melalui pembangunan jalur mangrove dan pusat restorasi pembelajaran ekosistem pesisir yang akan dibangun di 10 kabupaten/kota pada tahun 2021,” ujar Aryo.

Sementara itu, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Muhammad Yusuf mengungkapkan bahwa hutan mangrove adalah penyimpan cadangan karbon biru yang melimpah selain fungsi utamanya sebagai sistem penyangga pantai dari abrasi akibat gelombang dan naiknya permukaan air laut.

“Indonesia memiliki 23 persen dari mangrove dunia, mangrove memegang peranan penting sebagai pengendali karbon dunia selain sebagai ekosistem penting pengendali ekosistem laut,” ujar Yusuf.

Yusuf juga mengajak masyarakat menjaga mangrove dari perusakan, memanfaatkan ekosistem mangrove dengan cara yang bijak dan tetap menjaga kelestariannya karena ekosistem mangrove sangat rentan dan ekosistemnya terbatas.

Penanaman mangrove seluas 200 hektare akan dilakukan di 12 lokasi di seluruh Indonesia, antara lain Provinsi Aceh terletak di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Bangka Belitung terletak di Kabupaten Belitung, Provinisi Sumatera Barat terletak di Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Pesisir Selatan, dan Provinsi Lampung terletak di Kabupaten Lampung Timur.

Kemudian, Provinsi Jawa Barat terletak di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Tengah terletak di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Timur terletak di Kabupaten Sampang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lamongan, Provinsi Kalimantan Barat terletak di Kabupaten Menpawah, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur terletak di Kota Kupang.

Berdasarkan data KKP, luas mangrove di Indonesia mencapai 3,49 juta hektare, namun 52 persen atau 1,82 juta hektare mangrove Indonesia dalam kondisi rusak. (cok/ant/nas)



Apa Pendapatmu?