Alexa Metrics

Israel Tunda Pencaplokan Tepi Barat Usai Kesepakatan UEA

Israel Tunda Pencaplokan Tepi Barat Usai Kesepakatan UEA

indopos.co.id -Israel dan Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa mereka akan menormalisasi hubungan diplomatik dan menjalin hubungan baru yang lebih luas. Sebuah langkah yang dianggap dapat membentuk kembali tatanan politik Timur Tengah mulai dari masalah Palestina hingga perang Iran.

Di bawah perjanjian yang ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu, Israel setuju untuk menganguhkan rencana pencaplokan wilayah Tepi Barat yang mereka duduki. Perjanjian itu juga menentang kekuatana regional Iran, yang dianggap sebagai ancaman utama di Timur Tengah, yang tengah dilanda konflik, oleh UEA, Israel, dan Amerika Serikat.

Israel telah menandatangani perjanjian damai dengan Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994. Tetapi UEA, bersama dengan sebagian besar negara Arab lainnya, tidak mengakui Israel dan tidak memiliki hubungan diplomatik atau ekonomi formal dengannya sampai sekarang. UEA menjadi negara Teluk Arab pertama yang mencapai kesepakatan dengan negara Yahudi itu. Pejabat dari tiga negara menyebut bahwa itu adalah kesepakatan bersejarah dan merupakan terobosan menuju perdamaian.

Tetapi para pemimpin Palestina mengecam hal itu dan menyebutnya tusukan dari belakang bagi perjuangan mereka. Sebuah pernyataan bersama mengatakan bahwa Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed telah menyetujui normalisasi penuh hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab.

Kesepakatan itu akan memungkinkan kedua negara untuk memetakan jalur baru yang akan membuka potensi besar di kawasan tersebut. Israel dan UEA kemungkinan akan segera bertukar duta besar dan membangun kedutaan besar di masing-masing negara. Upacara penandatanganan akan diadakan di Gedung Putih.

Perjanjian yang dikenal dengan nama Abraham Accord itu kemungkinan akan memberi nilai plus bagi pencapaian Trump atas kebijakan luar negeri untuk pencalonannya kembali pada 3 November mendatang. Berbicara di Kantor Oval Gedung Putih, trump mengatakan bahwa kesepakatan serupa sedang dibahas dengan negara-negara lain di kawasan tersebut.

“Perjanjian itu telah menyatukan dua mitra terdekat dan terkuat Amerika di kawasan tersebut dan mewakili langkah signifikan terhadap pembangunan Timur Tengah yang lebih damai, aman, dan sejahtera,” kata Trump dilansir Reuters.

UEA mengatakan akan tetap menjadi pendukung kuat rakyat Palestina, yang berharap untuk menciptakan negara merdeka di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, yang diduduki Israel. Negara itu juga mengatakan bahwa perjanjian tersebut akan menjadi solusi bagi dua negara yang telah lama berkonflik.

Kesepakatan itu juga bisa menjadi dorongan pribadi untuk Netanyahu, yang tengah menghadapi tuduhan korupsi dan mengalami penurunan popularitas domestik karena penanganannya terhadap pandemi virus korona.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Netanyahu mengatakan kesepakatan itu akan mengarah pada perdamaian penuh dan resmi dengan UEA dan menyuarakan harapan bahwa negaranegara lain di kawasan tersbut akan mengikutinya.

Ia menambahkan bahwa perjanjian itu juga berarti menyetujui permintaan Trump untuk “menunggu sementara” sebelum melaksanakan janji pencaplokan wilayahnya. “Ini adalah momen yang sangat menyenangkan, momen bersejarah untuk perdamaian di Timur Tengah,” tambah Netanyahu.

Namun, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menolak kesepakatan tersebut. Juru bicara kepresidenan Palestina, Abu Rudeineh membacakan pernyataan di luar markas besar Abbas di Rammalah di Tepi Barat.

“Itu adalah pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa, dan perjuangan Palestina,” seru Rudeineh. Ketika ditanya apakah kepemimpinan Palestina telah mengetahui kesepakatan tersebut, negosiator veteran Hanan Ashrawi mengatakan pada Reuters bahwa mereka tidak tahu.

“Kami tidak tahu. Kami buta. Ini benar-benar sudah terjual habis,” ungkapnya. “Normallisasi adalah tusukan di belakan perjuangan Palestina. Dan itu hanya akan melayani pendudukan Israel,” kata juru bicara kelompok Islam bersenjata Hamas Fawzi Barhoum di Gaza.

Sheikh Mohammed bin Zayed dari UEA mengatakan perjanjian itu akan menghentikan aneksasi Israel lebih lanjut atas wilayah Palestina, di mana selama ini Israel menunggu lampu hijau dari Washington.

Pejabat senior UEA Anwar Gargash mengatakan kesepakatan itu membantu meredakan apa yang disebutnya sebagai bom waktu. Gargash mendesak Israel dan Palestina untuk kembali ke meja perundingan. (fay)



Apa Pendapatmu?