Alexa Metrics

Kan Capek Cari Sinyal ke Puncak Gunung

Kan Capek Cari Sinyal ke Puncak Gunung

pwbsupwbdudu– Lelah sudah menjadi makanan sehari-hari siswa di pedalaman Lebak, Provinsi Banten. Mereka harus berjuang mencari jaringan internet. Demi mengikuti pelajaran daring setiap hari. Maklum, di kampungnya tidak ada jaringan memadai.

Seperti dialami Devi Sri Dayanti. Siswa Kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri filial 1 Cihara. Dari kampung Kabdubongkok, Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak. Dia rela menyusuri hutan belantara naik turun gunung demi mengikuti pelajaran sekolah.

Ini sudah menjadi rutinitas Devi. Mulai Senin hingga Jumat. Bahkan, jika ada tugas tambahan dari sekolah, Sabtu dan Minggu pun Devi kembali naik gunung. Sesampainya di atas Gunung, dia masih mencari tempat strategis agar jaringan internetnya berjalan baik.

’’Susah a Kedah ka gunung Papandayan milarian sinyal (Susahnya harus ke gunung Papandayan cari sinyal),’’ kata Devi kepada INDOPOS menggunakan bahasa daerahnya.

Rasa lelah selalu menyergap tatkala Devi mendaki Gunung dengan menyusuri hutan belantara. Namun, mau tidak mau itu harus dilakukan.

’’Bawa makan dan minum, kan capek naik gunung. Apalagi cewek a, baju aja kadang sampai basah sama keringat,’’ ungkapnya.

Devi sering jatuh saat mendaki gunung. Jalur yang dilaluinya memang sangat sulit.’’Licin kan jalannya, kalau jatuh udah makanan sehari-hari apalagi di sini sering hujan kalau malem,’’ ujarnya.

Hal serupa dialami Dewi Fitra. Siswi kelas XII SMKN I Filial Cihara asal Kampung Pasir buntu, Desa Lebak peundeuy Kecamatan Cihara. Dia mengeluhkan kampungnya yang sejak Indonesia merdeka tidak pernah merasakan jaringan internet. Berbagai rintangan akhirnya dia lalui. Demi mendapatkan jaringan internet.

’’Di kampung kami belum ada sinyal ka, kami harus ke gunung atau ke pantai untuk cari sinyal, apalagi saat ini kan harus belajar daring setiap hari, pegel kaki juga,’’ ungkpanya kepada INDOPOS.

Tidak hanya Devi dan Dewi. Susahnya mendapatkan sinyal juga dialami siswa kelas XII dari  Kampung Kadubongkok, Adriansyah,  dan Sinta Julia dari kampung Wates, Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara.

Ardiansyah rela merogoh koceknya lebih dalam dari jajan sekolahnya. Ini semua demi mendaptkan jaringan internet. Bahkan, dia harus pergi ke pantai yang jaraknya lebih jauh dari sekolahnya.

Ardi mengungkapokan, jika sedang tidak punya uang, dia dan teman-temannya juga terpaksa menyusuri hutan belantara dan turun naik gunung demi mendapatkan sinyal.

’’Uang jajan sekolah sama uang jajan saat daring lebih besar daring, bensin aja dua kali lipat,’’ keluhnya. (lib)



Apa Pendapatmu?