Alexa Metrics

Veteran yang Pernah di Bawah Komando Jenderal Soeharto, Bertahan Hidup dari Empan Ikan dan Pupuk

Veteran yang Pernah di Bawah Komando Jenderal Soeharto, Bertahan Hidup dari Empan Ikan dan Pupuk Suprapto

indopos.co.id – Momentum Hari Kemerdekaan RI ke-75 menyisakan kisah haru bagi para veteran TNI di DKI Jakarta. Salah satunya, Suprapto, 80 tahun, anak buah Jenderal Soeharto, veteran yang suka humor itu kini berjualan empan ikan dan burung di kawasan Komplek Kostrad, Jakarta. Inilah sepenggal kisah hidupnya.

Ketika INDOPOS menjumpai Veteran TNI kelahiran 1940 itu, tubuhnya sudah renta. Namun sebagai patriot sejati, semangat membara masih berkobar pada diri Veteran Suprapto yang kini berjualan empan burung, empan ikan, dan pupuk.

Secuil kisah diceritakan Suprapto tentang dirinya yang suka melawak, “Saya asli Solo. Nama Solo, Suprapto. Kalau di Bandung, Suprapta. Kalau di Jakarta, Suprapte,” ujar dia memulai pembicaraan, Selasa (4/8/2020) lalu.

Pria yang akrab disapa Prapto itu mengungkapkan, pernah bertugas sebagai anak buah dari Jenderal Soeharto, selaku panglima perang di Ambon. Bersama kawan-kawan litingannya, ia bertugas menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Yakni, pemberontak yang berada di Kepulauan Maluku dan memproklamasikan diri pada 25 April 1950.

RMS di Ambon dikalahkan oleh militer Indonesia pada November 1950.

Meskipun konflik di wilayah Seram masih berlanjut sampai Desember 1963. Kekalahan di Ambon berujung pada pengungsian pemerintah RMS ke Seram kemudian mendirikan pemerintahan dalam pengasingan di Belanda pada tahun 1966.

“Ketika pemimpin pemberontak Dr. Chris Soumokil ditangkap militer Indonesia dan dieksekusi tahun 1966,” tutur dia sambil mencoba untuk mengingatnya.

Semasa bertugas, sambung Prapto, pernah ditugaskan di Irian Barat, Makasar, Ambon, Sorong, Merauke, “Pernah menumpas DI TII, menangkap gerombolannya DI TII dan juga RMS,” ungkap dia.

Bahkan, dirinya pernah juga berjalan bersama Ali Murtopo, Tatang Wahyu, dan Amir W. Kesemuanya pulang dari tugas langsung naik pangkat menjadi Jenderal TNI. Termasuk, dirinya pernah naik pesawat Hercules ke Sorong.

“Itu pengalaman juga. Cerita operasi itu sudah biasa,” kata dia. Dia Kini akrab disapa eyang oleh warga sekitar itu kemudian duduk bersandar pada sebuah kursi berwarna putih yang menopang tubuh rentanya.

Mengenakan kemeja batik corak cokelat, Prapto merupakan sesepuh di Kompleks Kostrad itu menceritakan, di tahun 1963 dirinya pulang bertugas dari Irian. Pria yang di akhir tugas berpangkat kopral TNI itu juga menceritakan, di Jakarta ketika itu belum banyak gedung bertingkat seperti saat ini. Di era pembangunan, Kompleks Kostrad ketika itu masih banyak hutan karet.

“Di Komplek Kostrad ini dulu masih banyak hutan karet. Listrik ndak ada. Gelap gulita. Masih sepi penduduk, bayangkan dulu hanya 17 orang saja di sini, sekarang sudah ramai penduduk,” ungkap warga Komplek Kostrad, RT 5/7, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu.

Meskipun berpangkat kopral di akhir tugasnya, Prapto mengakui banyak teman-temannya yang menjadi perwira tinggi tetap bersikap ramah dirinya. “Kawan-kawan kini sudah pada berpangkat Jenderal TNI itu tetap membuat saya tersenyum,” tutur dia. (*)



Apa Pendapatmu?