Alexa Metrics

Covid Melanda, Palapa Ring Tersendat

Covid Melanda, Palapa Ring Tersendat

indopos.co.id – Pemerintah menargetkan tahun 2020 Indonesia merdeka sinyal. Andalannya, pembangunan serat optik palapa ring yang menghubungkan 34 provinsi, 514 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 km dan kabel di daratan mencapai 21.807 kilometer. Tapi kenyataannya? Karena Covid-19, semua target tersebut tak tercapai.

Ada lebih dari 70 juta orang dari 260 juta penduduk Indonesia yang menggunakan internet dan 45 juta di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Sisanya belum memakai internet karena faktor usia, ekonomi dan wilayah yang tidak terjangkau sinyal

Menurut pengamat telekomunikasi Universitas Gajah Mada (UGM), Lukito Edi Nugroho, belum merdekanya sinyal di Indonesia karena pembangunan infrastruktur telekomunikasi masih belum optimal.

“Penetrasi sinyal internet hanya 34 persen di tanah air. Distribusi pengguna terbesar 78,5 persen ada di Jawa dan Sumatera. Sedangkan di daerah lain masih minim sekali,” katanya.

Dijelaskan Lukito ada beberapa penyebab yang membuat sinyal belum merdeka di tanah air. Paling utama adalah konstruksi proyek tiga palapa ring yang tersendat, pembangunan base transceiver station (BTS), dan lemahnya regulasi telekomunikasi. Akibatnya, proses pemerataan sinyal pun hingga saat ini tak dapat diterima oleh masyarakat di daerah pelosok dan terpencil.

“Dana Universal Service Obligation (USO) juga tidak cukup. Memang ini butuh dana yang besar, karena yang digarap itu kan tol langit. Negara ini kan memiliki geografis kepulauan, nah ini yang membuat itu sulit dicapai,” paparnya.

Menurutnya, belum merdekanya sinyal di daerah terpencil karena perhatian pemerintah terhadap hal itu sangat minim. Baik itu dari penyediaan anggaran besar untuk proyek palapa ring dan juga regulasi bagi operator telekomunikasi.

“Nah sekarang baru terbukti saat virus Corona mewabah, para pelajar susah belajar daring. Maka dari itu pemerintah harus menyiapkan skema lain agar sinyal bisa merdeka di pelosok daerah,” ujar Lukito.

Karena sinyal belum merdeka, Lukito menyarankan, pemerintah pusat segera merampungkan mega proyek palapa ring tersebut. Kemudian memudahkan perizinan BTS di daerah terpencil, dan menyamakan besaran tarif operator di seluruh wilayah.

“Kalau tidak ya sinyal belum merdeka di daerah lain. Tentu ini tugas berat tetapi memang harus diselesaikan. Justru dengan kemudahan izin dan suntikan dana akan membuat penyelesaian tol langit ini selesai,” ungkapnya.

Sementara itu, pengamat sosial Joko Siswanto menuturkan, banyak dampak yang dihadapi masyarakat di daerah terpencil terkait pemberlakuan belajar daring. Yakni, kesempatan mendalami materi yang diberikan tidak terserap karena gangguan sinyal. Serta penyempurnaan nilai hasil ujian pun tak mencapai target.

“Ini yang akan dihadapi masyarakat di daerah pelosok yang tidak punya sinyal. Pelajar ini harus belajar di jalan atau di tempat tertentu agat bisa dapat sinyal. Justru daring ini yang mempersulit kegiatan belajar mereka karena infrastruktur tidak memadai,” tuturnya. (cok) 



Apa Pendapatmu?