Alexa Metrics

Pertimbangan Bisnis dan Sosial

Pertimbangan Bisnis dan Sosial

indopos.co.id – Para pelaku bisnis telekomunikasi tanah air mengakui bahwa masih banyak daerah di tanah air yang belum menikmati aliran sinyal telekomunikasi dengan baik.

Head External Communication XL Axiata, Henry Wijayanto, mengatakan, hingga kini belum semua wilayah bisa tercover sinyal. Penyebabnya bisa bersifat teknis dan non-teknis.

”Teknis, bisa berupa wilayah yang belum tercover jaringan memiliki karakter khusus yang dapat mempersulit proses perluasan jaringan, seperti; kontur daerah berupa pegunungan, perbukitan, lembah, atau pulau yang terpencil, yang  membuat sulit dijangkau. Atau bisa juga, area tersebut berada di sekitar hutan, tanah adat, atau wilayah yang dilindungi yang melarang pembangunan jaringan di situ,” ujarnya kepada Indopos.

Sementara, faktor non-teknis, bisa berupa perhitungan bisnis. ”Sejauh infrastruktur jaringan harus dibangun sendiri oleh operator, maka faktor bisnis tidak bisa diabaikan karena biaya membangun jaringan sangat besar,” tambahnya.

Meski demikian, lanjutnya, XL Axiata terus berupaya membangun jaringan di seluruh Indonesia. ”XL Axiata membangun jaringan ke daerah baru berdasarkan pertimbangan kebutuhan dari area tersebut. Artinya, warga atau masyarakat setempat membutuhkan tersedianya layanan telekomunikasi dan data di area tersebut,” imbuhnya.

Kemudian, bersifat bisnis jika menunjukkan adanya prospek bisnis di daerah itu di masa mendatang. ”Ini misalnya, daerah yang memiliki potensi ekonomi yang bisa mendorong perekonomian,” katanya.

Bersifat sosial jika memang area tersebut butuh jaringan untuk pertimbangan-pertimbangan yang lebih besar dari sekadar pertimbangan bisnis.

Menurut Vice President Corporate Communications Telkomsel, Denny Abidin, dalam mengembangkan akses jaringan telekomunikasi melalui perluasan pembangunan infrastruktur banyak hal yang perlu dipertimbangkan, terutama untuk melayani masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

”Seperti pertimbangan tantangan geografis, akses pendukung seperti ketersediaan catuan listrik untuk membantu operasional BTS, tingkat kepadatan populasi masyarakat, hingga penetrasi adopsi perangkat dan layanan berbasis digital oleh masyarakat setempat,” ujarnya.

Secara keseluruhan, per akhir Maret 2020, Telkomsel telah menggelar lebih dari 219.000 unit BTS di seluruh penjuru negeri, atau meningkat 11 persen YoY.

Selain itu, Telkomsel juga memiliki lebih dari 20.000 BTS yang telah digelar untuk melayani populasi masyarakat di wilayah 3T dan perbatasan negara.

”Sebagai upaya percepatan menghadirkan pemerataan akses telekomunikasi berbasis broadband, pada kuartal tiga 2020 ini telah menargetkan keseluruhan BTS USO yang ada dikelola bersama BAKTI Kominfo akan terkoneksi teknologi jaringan 4G LTE Telkomsel dan menggunakan teknologi berkapasitas besar mulai dari frekuensi 900 MHz, 1.800 MHz, 2.100 MHz, dan 2.300 MHz di seluruh pelosok negeri,” katanya.

Hingga akhir tahun 2020 nanti, Telkomsel akan membangun tambahan lebih dari 25.000 BTS berteknologi broadband 4G LTE, yang mana penyediaannya akan difokuskan di wilayah residensial dan padat penduduk. (dew)



Apa Pendapatmu?