Alexa Metrics

Menteri ATR/Kepala BPN : Keikhlasan, Kerelaan serta Mengalirkan Energi Positif Kunci Menjaga Keutuhan NKRI

Menteri ATR/Kepala BPN : Keikhlasan, Kerelaan serta Mengalirkan Energi Positif Kunci Menjaga Keutuhan NKRI atr

indopos.co.id – Keberagaman bangsa Indonesia terkadang berpotensi menimbulkan konflik antar anak bangsa. Sebab masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, agama, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Yang tentunya kadang menimbulkan perbedaan cara pandang, pemikiran, aspirasi, sehingga konflik internal menjadi sesuatu yang tak bisa terhindarkan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Sofyan A. Djalil, dalam webinar yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengusung tema “Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Belajar dari Penyelesaian Konflik Secara Damai di Aceh dan Maluku”, Jumat (14/08/2020).

Untuk mengatasi masalah konflik tersebut, Sofyan A. Djalil mengatakan bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengatasi masalah dengan memperkokoh rasa kebangsaan. “Kita juga harus memperkokoh bangunan kebangsaan kita. Konflik di Aceh ini adalah contoh konflik gesekan dua anak bangsa dan ini cukup menguras tenaga selama 30 tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan Sofyan A. Djalil yang pernah menjadi Anggota Delegasi Pemerintah untuk Perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menghasilkan Perjanjian Perdamaian Helsinki, menyatakan proses damai Aceh tidak dicapai dalam satu malam, atau proses sekali jalan. “Konflik Aceh berlangsung lebih dari 30 tahun dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sampai kesepakatan pada tahun 2005. Kunci suksesnya adalah ada kerelaan, ada keikhalasan, maka tinggal berbicara. Karena dengan berbicara, tidak ada yang tidak bisa diselesaikan,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kesepakatan Helsinki merupakan sebutan yang umum dipakai di Indonesia merujuk pada Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM yang ditandatangani di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan ini merupakan pernyataan komitmen kedua belah pihak untuk penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua. Kesepakatan Helsinki memerinci isi persetujuan yang dicapai dan prinsip-prinsip yang akan memandu proses transformasi.

Sofyan A. Djalil juga menyemangati generasi muda dan seluruh pihak untuk mengalirkan energi positif bagi Aceh dan Maluku agar konflik tidak terjadi kembali. “Kalau kita ciptakan energi negatif, ya negatif semua. Maka mari sama-sama kita alirkan energi positif. Sehingga bangsa Indonesia akan jauh lebih baik ke depannya,” tutupnya.

Rektor Universitas Negeri Jakarta, Komarudin, mengatakan diskusi ini dilakukan menjelang bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan. “Sangat jelas bahwa konflik apapun dapat diselesaikan dengan baik. Maka melalui kegiatan dialog ini akan menjadi bahan rujukan yang penting sebagai proses penyelesaian konflik. Karena itu tindak lanjut dari kegiatan webinar hari ini akan dibuatkan naskah akademik yang nantinya akan bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia khususnya untuk para akademisi,” ujarnya.(adv)



Apa Pendapatmu?