Alexa Metrics

Banggar DPR Ingatkan Beban Bunga Utang pada 2021 Capai Rp373,3 Triliun

Banggar DPR Ingatkan Beban Bunga Utang pada 2021 Capai Rp373,3 Triliun utang

indopos.co.id – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Sigit Sosiantomo mengingatkan tingginya beban bunga utang pemerintah. Selain itu kata dia, utang yang besar juga semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Beban bunga utang yang perlu ditanggung oleh pemerintah pada 2021 mendatang mencapai Rp373,3 triliun. Atau naik 10,2 persen dari outlook beban bunga utang 2020 sebesar Rp338,8 triliun,” ujarnya kepada media, Rabu (19/8/2020).

Lebih lanjut Sigit mengatakan, kontribusi pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara mencapai 21 persen. Atau lebih tinggi ketimbang tahun 2020.

“Ini harus diwaspadai. Jika tidak hati-hati negara bisa bankrut karena beban bunga hutang sangat tinggi,” ujarnya mengingatkan.

Sigit menambahkan, beban bunga utang yang harus dibayar pemerintah pada 2021 tersebut sudah melampaui rekomendasi IMF dalam International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAI) 5411.

Rasio bunga utang terhadap penerimaan yang oleh IMF dibatasi pada 7 persen hingga 10 persen telah dilampaui oleh pemerintah sejak 2015. Dimana rasio bunga utang terhadap penerimaan mencapai 10,35 persen.

“Rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara dalam RAPBN 2021 mencapai 21 persen. Naik dari tahun ini yang mencapai sebesar 20 persen. Ini sudah bukan melampaui batas aman lagi. Tapi sudah naik 100 persen dan harus diwaspadai. Jangan sampai kita kita makin terlilit utang dan tidak bisa membayar. Apalagi sampai meninggalkan negara yang bankrut untuk anak cucu,” kata Sigit.

Dia menampakkan, setiap menambah utang seharusnya diukur dengan kemampuan membayar yang ditopang oleh penerimaan. Meski Produk Nasional Bruto (PDB) naik, tapi tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan.

“Setiap tahun penerimaan terus melemah. Bahkan, tahun 2019 tax ratio anjlok ke 9,76 persen. Padahal target RPJMN 2014-2019 adalah 16 persen,” beber Sigit.

Dia khawatir, tren penerimaan negara yang terus anjlok dan beban bunga utang yang terus melambung bisa mengakibatkan negara bankrut karena gagal bayar.

“Utang dan beban bunganya seharusnya bisa dibayar dengan penerimaan negara. Tapi, kalau bunganya saja sudah besar dan menguras APBN, bisa-bisa bayar bunga utang dari utang lagi. Jangan sampai itu terjadi,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?