Alexa Metrics

Masyarakat Kepincut Uang Edisi Khusus HUT Ke-75 RI

Masyarakat Kepincut Uang Edisi Khusus HUT Ke-75 RI Masyarakat berbondong-bondong menukarkan uang edisi khusus di BI, Selasa (18/8). (Foto: Deri Ahirianto/INDOPOS)

indopos.co.id – Hujan deras mengguyur Jakarta, Selasa pagi (18/8/2020). Namun, hal itu tak menyurutkan niat Hanan Nurdiansyah, warga asal Tebet, Jakarta Selatan, mendatangi kantor pusat Bank Indonesia (BI) di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

Tepat pukul 08.00 WIB. Hanan tiba di depan Gedung BI. Karena tidak menggunakan kendaraan roda empat, dia masuk melalui jalur khusus pejalan kaki. Dia tampak bergegas masuk ke gedung BI. Serta harus melewati pemeriksaan petugas keamanan setempat.

Seperti biasa, petugas itu menanyakan keperluan tamu yang hendak ke BI. Hanan pun mengatakan ingin menukarkan uang Rp75 ribu. Itulah uang baru edisi khusus yang diluncurkan bank sentral menyambut Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia pada Senin lalu (17/8/2020).

Sejurus kemudian Hanan mengambil tas yang telah melewati pemeriksaan x-ray. Dia pun mengeluarkan telepon selulernya. Serta menunjukkan bukti bahwa dia sudah mendaftar untuk menukar uang Rp75 ribu.

Namun Hanan tidak boleh masuk. Dia diminta menunggu di luar dulu. Hal sama dialami Hendri. Warga lainnya yang sudah mendapatkan bukti untuk menukar uang.

’’Nggak boleh masuk. Karena nggak ada kursi buat nunggu. Tadi petugasnya bilang, jadwalnya masih jam 9 pagi. Saya datang jam 8 pagi. Di jadwal saya memang penukaran antara jam 9 sampai jam 10 pagi,’’ ujar Hanan.

Karena belum jadwalnya untuk menukar uang, Hanan dan Hendri memilih menunggu di luar pintu masuk.

Saat ditanya apa yang membuatnya tertarik menukarkan uang Rp75 ribu? Hanan menjawab itu adalah uang edisi khusus. Dikeluarkan saat memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan RI.

’’Jadi sesuatu kebanggaan juga kalau saya bisa memiliki uang edisi khusus Rp75 ribu. Ini juga buat kenang-kenangan,’’ ujarnya.

Hanan mengaku saat mendengar BI akan mengeluarkan uang edisi khusus, dia langsung bersiap-siap memilikinya. Dia mencari tahu bagaimana caranya.

’’Ternyata lewat aplikasi. Jadi pas jam 3 sore kemarin saya langsung daftar ke BI. Jam 3 lewat dikitlah. Teman saya yang daftar beberapa menit kemudian, tidak bisa. Sebab sudah penuh,’’ terang Hanan.

Hujan juga tak menghalangi langkah Muladi menukar uang edisi khusus. Warga Jakarta ini mendatangi kantor Bank Indonesia di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, setelah memesan online sehari sebelumnya.

’’Senang sekali ya. Karena ini kan uang khusus memperingati kemerdekaan Indonesia. Jadi bangga bisa memilikinya,’’ ujarnya kepada INDOPOS, Selasa (18/8).

Karena hanya boleh menukar sebanyak satu lembar, dia mengaku uang tersebut hanya untuk koleksi. ’’Karena hanya punya satu jadi mau disimpan saja,’’ akunya.

Hal senada diakui Fifi. Dia senang bisa mendapatkan uang edisi khusus ini. ’’Senang banget karena edisi-edisi sebelumnya kan nggak punya. Jadi untuk yang ini akan disimpan saja,’’ katanya.

Jika Muladi dan Fifi gembira bisa menukarkan uang pecahan Rp75 ribu, tidak demikian dengan Dyah, warga Setiabudi, Jakarta Selatan. Dia mengaku sudah mencoba memesan online namun pesanan sudah penuh. ’’Kemarin (Senin, Red) sudah coba pesan online tapi sudah penuh. Tadi juga coba pesan, sudah penuh juga. Bahkan hari-hari berikutnya,’’ tukasnya.

Dia berharap Bank Indonesia memperpanjang waktu penukaran agar masyarakat dapat melakukan penukaran.

Pemerintah dan Bank Indonesia memang meresmikan pengeluaran dan pengedaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia (UPK 75 Tahun RI) berbentuk uang kertas pecahan Rp75.000 bertepatan dengan HUT ke–75 Kemerdekaan RI, pada Senin (17/8/2020) di Jakarta.

Pengeluaran dan pengedaran UPK 75 Tahun RI merupakan wujud rasa syukur atas anugerah kemerdekaan dan pencapaian hasil pembangunan selama 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Peresmian tersebut menandai mulai berlakunya uang rupiah kertas pecahan Rp75.000 sebagai alat pembayaran sah (legal tender). Sekaligus Uang Peringatan (commemorative notes) di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

UPK 75 Tahun RI ini dapat dimiliki seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) melalui mekanisme penukaran uang rupiah pada aplikasi berbasis website di tautan https://pintar.bi.go.id.

Satu KTP tersebut berlaku untuk satu lembar UPK 75 Tahun RI. Aplikasi penukaran tersebut dapat diakses masyarakat mulai 17 Agustus 2020 pukul 15.00 WIB. Penukaran uang dapat dilakukan di seluruh Kantor Bank Indonesia mulai 18 Agustus 2020. Selanjutnya, mulai 1 Oktober 2020, penukaran dapat dilakukan di Kantor Bank Indonesia dan kantor bank umum yang ditunjuk dan bekerja sama dengan Bank Indonesia. Pelaksanaan penukaran dilaksanakan dengan tetap menjaga protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang telah ditetapkan Pemerintah.

Namun, ternyata, banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui prosedur menukarkan uang Rp75 ribu. Terbukti pada Selasa kemarin, banyak masyarakat yang langsung datang ke kantor BI.

’’Saya mau nukar uang Rp75 ribu. Saya memang kolektor uang. Tapi ternyata nggak bisa langsung tukar. Harus daftar dulu,’’ ujar Kharel dengan kecewa.

Sebagai seorang kolektor uang, memiliki uang edisi khusus, seolah harus. Buat sebagian lainnya, itu menjadi koleksi. Bahkan ada yang menganggapnya dapat menjadi investasi.

Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi menyebutkan UPK 75 dikeluarkan sesuai dengan undang-undang Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, kemudian Peraturan BI nomor 21/10/PBI/2019, serta Keputusan Presiden (Kepres) nomor 13 tahun 2020.

’’Hal ini menandakan bahwasanya UPK 75 itu berlaku sebagai Legal Tender atau alat pembayaran yang sah. Sehingga UPK 75 ini bisa dipakai untuk bertransaksi,’’ jelasnya pada Taklimat Media UPK 75 secara virtual, di kantornya, Selasa (18/8).

Kemudian, lanjutnya, setiap warga negara Indonesia punya kesempatan sama untuk mendapatkan dan memiliki UPK 75. BI telah mendistribusikan UPK 75 ke seluruh perwakilan BI di Indonesia dengan melihat rasio peredaran di setiap daerah. ’’Distribusi UPK 75 telah betul-betul disiapkan dengan baik. Harga penukaran UPK 75 sama dengan nominal yang tertera yaitu Rp75 ribu,’’ ucapnya.

Dia mengatakan, BI sudah mengeluarkan uang peringatan sebanyak 10 kali. Tiga kali untuk peringatan kemerdekaan. Yakni saat peringatan HUT ke-25 RI dalam bentuk logam emas dan perak. Ke-45 dalam bentuk logam emas dan peringatan ke-50 dalam bentuk logam emas dalam bentuk berbagai pecahan. ”Masyarakat antusiasnya luar biasa. Kami melakukan review agar kedepannya bisa lebih baik lagi,” tukasnya.

Hal senada dengan Rosmaya Hadi, Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Marlison Hakim menyebutkan dari sisi keamanan (security) UPK 75 lebih diperkuat. ’’Selain diperkuat, BI juga membuat bagaimana UPK ini lebih mudah dikenal. Seperti untuk tanda air (water mark) yang bisa diterawang walaupun dalam pencahayaan yang sedikit,’’ katanya.

Untuk desain, lanjutnya, pihaknya melibatkan sejarawan dan budayawan. ’’Dan meminta izin kepada keluarga pahlawan,’’ tandasnya.

Mengenai ramai beredar di media sosial yang menyebut ada gambar pakaian adat suku Tionghoa, Marlison menjelaskan, pakaian adat tersebut berasal dari Suku Tidung di Kalimantan Utara. ’’Yang dari tengah seperti dari China itu baju asal Kalimantan Utara, baju adat suku Tidung,’’ jelasnya.

Marlison menjelaskan, pemilihan jenis pakaian adat tersebut merupakan hasil rekomendasi dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara. Hasil rekomendasi telah didiskusikan oleh Bank Indonesia dengan sejumlah pihak. Mulai budayawan, sejarawan, hingga Pemerintah Daerah setempat.

Proses desain UPK edisi 75 tahun Kemerdekaan Indonesia ini juga dirancang sejak 2018. ’’Khusus pemilihan itu (jenis baju adat) kita bicarakan dengan budayawan, sejarawan dan Pemda setempat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan UPT Suku Tidung dan mereka yang memberikan baju adat Kalimantan Utara tersebut,’’ tegasnya.

Peresmian tersebut menandai mulai berlakunya Uang Rupiah Kertas pecahan Rp75.000 sebagai alat pembayaran yang sah (Legal Tender), sekaligus Uang Peringatan (commemorative notes) di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (dai/dew)



Apa Pendapatmu?