Alexa Metrics

PJJ Jadi Beban, Orang Tua Ingin Anak Belajar Lagi di Sekolah

PJJ Jadi Beban, Orang Tua Ingin Anak Belajar Lagi di Sekolah

indopos.co.id  – Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di DKI Jakarta belakangan ini sudah banyak dikeluhkan para orangtua murid. Bahkan, anak-anak pun sudah bosan karena sekitar 6 bulan belajar di rumah via online.

Berbagai masalah dihadapi, seperti penyediaan pulsa untuk kuota internet hingga tidak punya handphone (HP). Kondisi demikian dirasakan oleh pasangan suami isteri (pasutri) Syawal Sugeng Riyadi dan Tohana, warga Jalan Manggarai Utara 2 RT13/4, Manggarai, Tebet, Jakarta.

Di pinggiran Jalan Raya Manggarai, sebelum jembatan, lapak dagangan bendera merah putih dan arang batok tertata rapih. Sugeng, 57, dan Tohana, 49, sedang duduk santai menunggu pembeli yang datang di lapak dagangannya itu.

Kulit wajah Sugeng terpancar tak lagi kencang, dahi pun penuh kerutan, tak lagi muda.

Bapak beranak 6 dan sudah dikaruniai 4 orang cucu itu tetap semangat berjualan bendera dan arang batok di masa pandemi Covid-19. Keempat anaknya sudah bekerja. Hanya saja, masih ada dua anaknya yang duduk di bangku sekolah, yakni anak kelima dan si bungsu.

Anak kelima Sugeng yakni Putra, 14 tahun, duduk di kelas 1, SMPN 3 Jakarta. Termasuk anak pintar karena sering mendapat ranking pertama.

Ketika ditemui INDOPOS, Sugeng dan Tohana mengeluhkan proses Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) saat ini.

Sugeng mengaku, belajar di rumah melalui online sangat merepotkan dan memberatkan biaya. Sebab, secara tak terduga harus membeli pulsa untuk kuota internet. “Pertama saya tak punya HP, jadi anak kelima dan si bungsu kalau belajar pakai HP punya Kakaknya. Tapi ya itu, sebentar pulsa, sebentar kuota cekak,” kata dia.

Dia mengungkapkan, selama dua hari saja bisa membeli pulsa Rp12 ribu. Satu bulan bisa Rp100 ribuan lebih hanya buat beli pulsa. Itu pun belum cukup, karena untuk biaya makan keseharian juga belum menutup.

Untuk memenuhinya, selain menjual bendera merah putih di momentum Hari Kemerdekaan RI, Sugeng bekerja serabutan. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama anak-anak dan isteri tercinta.

“Jadi dagang bendera ini karena kepercayaan, setoran ke Bos. Yang penting tidak berbuat jahat. Sisanya buat beli pulsa sama makan dan minum,” beber dia.

Pria yang mengenakan kemeja batik cokelat dengan tas pinggang itu menambahkan, dari hasil berjualan bendera  dirasakan belum mencukupi untuk kebutuhannya.

“Manusia tak akan pernah puas, dapet Rp100 ribu pengennya lebih dari segitu, ya bagi saya alhamdulillah, disyukuri saja,” tutur Sugeng sambil melayani pembeli.

Sugeng menyebutkan, untuk bendera merahputih yang kecil-kecil dia menjual seharga Rp10 ribu. Kalau yang ukuran sedang-besar dari RP21 ribu, Rp35 ribu hingga Rp50 ribuan lebih.

“Ambil untung tipis saja yang penting laku,” akunya berharap pengendara motor dan mobil dapat mampir ke lapak dagangnya, ketika itu.

Menurut dia, di masa pendemi COVID-19, apa-apa serba susah. “Boro-boro mau beli barang ini itu. HP, gak kebayang dah. Beli pulsa aja kita susah,” keluh dia seraya menggambarkan dahi mengkerut dengan bibir manyun.

Hal yang membantu keluarganya adalah masih adanya orang di sekeliling yang peduli, masih perhatian memberikan bantuan sembako. Seperti dari pemerintah yang disalurkan melalui RT/RW setempat.

“Tapi kan sembako juga cepat habis. Pernah kita sampai gak ada uang dan ada yang kasih nasi bungkus, dikasih sama orang kaya yang naik mobil berhenti di jembatan Manggarai ini,” katanya ingat saat cekak.

Dia pun berharap, pandemi COVID-19 cepat berlalu. Anak-anak dapat bersekolah lagi ke sekolah. Ekonomi cepat membaik. “Kalau begini terus kita rakyat kecil yang di bawah ini bisa terus tergerus. Sudah remuk ibaratnya tambah remuk,” tandas Sugeng.

Untuk belajar online, anaknya selalu memakai HP sang Kakak. Seperti si bungsu Naila Safitri Rahmadani yang duduk di bangku kelas 4 SDN 12 Petang.

Belum lagi sang cucu, yakni Thalia Rasesa, 8 tahun. “Kalau si bungsu pakai HP Kakaknya. Kan jadi ngerepotin Kakanya apalagi kalau kerja WA terus. Kalau Cucu lagi gak pegang HP sudah 5 hari ini. Jadinya gak belajar,” kata dia dengan nada sedih.

Pasutri itu pun berharap agar anak-anak dapat kembali bersekolah. “Mending langsung masuk sekolah. Yang ada yang belajar malah orangtuanya kalau di rumah,” kata dia sambil mengusap keringat di dahi.

Menurut dia, kalau anak berada di sekolah maka dapat lebih fokus berpikir. “Karena si bungsu termasuk murid yang mendapat ranking juga seperti abangnya, Putra. Yah, lumayan ranking 3 atau empat,” ungkap Sugeng.

Jika diingatnya kembali, Sugeng telah berdagang dari sejak muda bujangan. Dahulu, kalau berdagang arang batok bisa sampai 1 ton lebih. Tapi pas corona hanya 4 kuintal saja penjualan.

“Gak ada bahan baku dari tempat asalnya di Gombong, Jateng. Dagang arang batok dari bujangan sampai nikah tahun 1986 sama isteri,” ungkap dia kembali duduk dengan kaki diangkat satu.

Terpaut dengan banyaknya keluhan para orangtua murid akan Pendidikan Jarak Jauh dan kesulitan belajar via online tersebut, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani mengatakan, kondisi orangtua yang tidak mampu pasti akan mengalami kesulitan menghadapi PJJ.

“Jadi pilihan, mau nemenin anak tapi tidak kerja, atau kerja dan tinggalkan anak belajar sendiri. Ini berbahaya, anak tidak bisa di tinggal sendiri belajar daring. Bahkan, saya turun lapangan, banyak juga orang tua yang gaptek, tidak sedikit, dan itu di Jakarta. Coba bayangkan bagaimana di daerah terbelakang,” tegas dia.

Menurut Zita, selain masalah orang tua kesulitan bekerja, masalah utamanya adalah jaringan internet yang jadi beban. Apalagi di situasi pandemi. ”

Makanya kami dari Fraksi PAN DPRD DKI memasang Wifi gratis pada 7 titik di Jakarta Barat, dan sudah launching free wifi pembelajaran PJJ.

Pemasangan wifi internet terletak di 2 kecamatan, yakni Kecamatan Kalideres dan Kecamatan Cengkareng. Tersebar di berbagai RT/RW.

“Saya langsung pantau. Antusias masyarakat begitu tinggi, anak-anak hadir di dampingi orangtua, dengan menggunakan seragam sekolah lengkap,” beber dia.

Dengan keberadaan free wifi itu, sambung Zita, siswa dapat berkumpul di satu titik. Kami gunakan fasilitas umum di masyarakat untuk anak-anak belajar, terutama di masjid dan musalla yang diberdayakan menjadi wadah untuk menuntut ilmu.

“Hal-hal sederhana seperti ini yang tidak diperhatikan pemerintah, makanya sampai sekarang belum ada inovasi, adanya Buzzer yang bela terus. Kalau begini terus anak bangsa bisa bodoh. Daripada bodohi anak-anak, lebih bauk turun segera, biar yang lebih paham dan cinta pendidikan anak yang bekerja. (ibl)



Apa Pendapatmu?