Alexa Metrics

Kasus Cerai Meningkat, Anak Bakal Jadi Korban

Kasus Cerai Meningkat, Anak Bakal Jadi Korban

indopos.co.id – Meningkatnya kasus perceraian di tengah Pandemi COVID-19 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sangat memprihatinkan. Perpecahan biduk rumah tangga di kota yang dipimpin Wali Kota Airin Rachmi Diany itu naik 10 persen selama wabah virus corona terjadi.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangsel Abdul Rojak mengatakan, meningkatnya perceraian selama Pandemi COVID-19 mayoritas disebabkan faktor ekonomi lantaran banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu juga, ada faktor lainnya adalah ketahanan keluarga yang lemah, dan keimanan serta ketakwaan yang lemah. ”Karena suami di-PHK dari tempat bekerja membuat pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga,” terangnya.

Akibat ekonomi, percekcokan yang terus terjadi dan tidak memiliki jalan keluar itu membuat pasangan ini mengajukan cerai. ”Pengajuan perceraian ini tentu diselimuti dengan tindakan KDRT dari suami kepada istri karena emosi tak terkendali,” ungkapnya.

Data Kemenag Tangsel, angka perceraian di tengah Pandemi COVID-19 naik 10 persen yakni mencapai 2.800-3.300 kasus. Padahal Ssbelum wabah virus corona angka percerain  itu hanya 2.500-3.000 kasus.

Selama 2019 angka perceraian mencapai 3.101 kasus, dan di 2018 hanya 2.020 kasus perceraian.
Selama ini, Rojak mengatakan, pihaknya berupaya menekan kasus perceraian. Salah satunya mengajak pasangan yang hendak menggugat cerai dimediasi. Namun, usaha mereka pun gagal karena pasangan tersebut bersikukuh untuk tetap berpisah.

Padahal, perceraian akan berdampak psikologis anak dari hasil pernikahan teguncang. Pengamat Sosial dan Budaya Universitas Indonesia (UI) Devi Rahmawati mengatakan tindakan penekanan angka perceraian harus dilakukan oleh Pemkot Tangsel.

Apalagi penyebab utama perpisahan pasangan suami-istri ini dipicu soal ketimpangan perekonomian selama Pandemi COVID-19. ”Kalau dibiarkan akan berdampak buruk bagi anak. Status yang disandang pun akan dianggap miring di lingkungan,” terangnya, Selasa (18/8).

Diakui Devi, meningkatnya angka perceraian di Tangsel ini akibat lemahnya peranan pemkot dalam memberikan pemahaman mengenai ketahanan keluarga bagi yang menikah dan hendak menikah. Tidak adanya ruang konseling tentang apa itu berumah tangga.

”Kemungkinan program ini ada, tetapi tidak berjalan. Harusnya Pemkot Tangsel lebih peka terhadap masalah sosial seperti ini. Karena jika dibiarkan akan membawa dampak buruk bagi kota ini juga dikemudian hari,” paparnya juga.

Devi pun menyebutkan, ada banyak cara yang dapat dikerjakan Pemkot Tangsel menekan perceraian tersebut. Seperti menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama mensosialisasikan apa itu pernikahan dan ketahanan keluarga. Kemudian memberikan ruang merujukan atau mengharmoniskan para pangan yang ingin mengajukan perceraian.

Dan dampak sosial lain yang akan bermunculan dapat ditanggulangi dengan cepat. Dikatakan Devi, ada banyak dampak buruk yang ditimbulkan dari perceraian tersebut. Yakni, psikologis anak dari hasil pernikahan akan terguncang. Sebab anak tidak akan merasakan kehangatan dan kasih sayang yang diberikan orang tua kandungnya.

Akibatnya, anak cenderung mencari kedamaian itu dengan cara negatif. ”Anak yang broken home ini akan mencari kehidupan bebas. Ada yang terjerumus pergaulan bebas, narkoba, dan tindak kejahatan lain. Ya itu, mereka meluapkan kekesalan kepada orang tua mereka yang bercerai,” paparnya juga.

Sedangkan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Tangsel, Khairati mengatakan pihaknya telah memberikan bimbingan perkawinan kepada calon pengantin.

Kursus calon pengantin ini, kata dia, untuk pemberian bekal pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam waktu singkat tentang kehidupan rumah tangga/keluarga. ”Justru kami sudah berusaha menekan kasus cerai ini. Tujuannya meminimalisir tingginya angka perselisihan, perceraian, dan KDRT dalam rumah tangga,” terangnya. (cok)



Apa Pendapatmu?