Alexa Metrics

Tahun Baru Islam 1442 Hijriah, Dompet Dhuafa Ajak Umat Hijrah dari Covid-19 Dalam Ikhtiar Memerdekaan Dhuafa dan Yatim

Tahun Baru Islam 1442 Hijriah, Dompet Dhuafa Ajak Umat Hijrah dari Covid-19 Dalam Ikhtiar Memerdekaan Dhuafa dan Yatim dd

indopos.co.id – Pada kehidupan nyata, hijrah bisa bermakna perpindahan dari kemungkaran kepada ketakwaan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari yang mudarat kepada yang manfaat, dan juga dari peradaban jahiliyah ke peradaban yang bermartabat. (Rabu, 19/08)

الذين ءامنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله , وأولئك هم الفائزون

“ Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” [QS. At-Taubah : 20].

Dalam Al Qur’an tidak kurang dari 31 kata yang berasal dari kata Hajara atau Hijrah. Dari jumlah itu tidak kurang dari 6 ayat yang menyebutkan kata Hajaruu (orang-orang yang berhijrah) bergandengan dengan kata Aamanuu (orang-orang yang beriman) dan Jahaduu (orang-orang yang berjihad). Ayat yang dikutip diatas adalah salah satunya. Belum lagi kata Hajaruu diiringi dengan kata Fillah (karena Allah) atau Fi Sabiilillah (di jalan Allah).

Di sisi lain, Keimanan tidak selamanya diukur berdasarkan jumlah ibadah seorang kepada Allah SWT. Meskipun ada orang yang percaya kepada Tuhan dan dia rajin beribadah, baik ibadah wajib maupun sunah, belum tentu apa yang dilakukannya itu menunjukan kesempurnaan iman. Sebab Islam tidak hanya meminta umatnya percaya kepada Tuhan, kemudian beribadah terus-menerus, tetapi juga meminta kita untuk peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sesungguhnya keimanan berkait dengan kepekaan sosial. Semakin tinggi derajat keimanan seorang seharusnya tingkat sensitifnya terhadap problem keumatan juga semakin meninggi. Hal ini tercermin dalam diri Nabi Muhammad SAW. Selain tekun beribadah, Beliau juga terlibat aktif dalam menuntaskan problem keumatan baik saat menetap di Makkah, terlebih setelah hijrah ke Kota Madinah.

Tahun Baru Islam 1442 Hijriah, Dompet Dhuafa Ajak Umat Hijrah dari Covid-19 Dalam Ikhtiar Memerdekaan Dhuafa dan Yatim

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi satu dari sekian ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional, khususnya wilayah Timur Tengah dalam tafsirnya menegaskan bahwa istilah hijrah hanya terjadi pada zaman Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam. Artinya tidak ada lagi hijrah setelah peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah. Jikalau pun ada istilah hijrah, maka yang dimaksud ialah suatu tindakan yang bertujuan untuk mendapatkan pertolongan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Sebagaimana pernah disinggung oleh Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam.

“Hakikat muslim adalah seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisannya dan tangannya, sedangkan orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah”
(HR. Al Bukhari)

Maknanya, hijrah zaman sekarang adalah upaya dari seseorang untuk meninggalkan segala larangan Allah menuju pribadi yang lebih baik serta mengorientasikan hidupnya untuk taat kepada aturanNya.

Muharram 1442 H merupakan momentum setiap manusia untuk melakukan perubahan, berubah manjadi diri yang baik, diri yang Allah berkahi dan ridhai, atau melalui ikhtiar mengubah lingkungan dan masyarakat sekitar menjadi lebih baik, terlebih di saat Allah menguji bangsa ini dengan wabah covid-19 di hari ulang tahunnya yang ke 75, maka hijrah bisa kita maknai sebagai ikhtiar memerdekakan kaum Dhuafa dan Yatama sebagai bagian dari membentang kebikan dan jihad kita fi sabilillah dengan harta dan jiwa kita. Rasulullah SAW sangat memuliakan para penyantun anak yatim, sebagaimana sabda beliau SAW: “Aku dan penjamin anak yatim berada dalam surga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jari tengah dan menjarangkan jari-jari lainnya”. (HR Bukhari dan Ahmad). Ikhtiar memerdekakan Dhuafa dan Yatim sebagai bagian dari hijran seorang insan dapat diwujudkan dengan Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan.

Demikian pentingnya perintah menunaikan zakat bagi umat Islam sehingga Al-Quran menuliskan dalam 27 ayat yang mensejajarkan zakat dengan perintah sholat. Salah satu ayat tersebut adalah Surat Al-Baqarah yang artinya: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah berserta orang-orang yang ruku’ (Q.S Al Baqarah; 43) Sholat merupakan tiang agama. Dari kesejajaran perintah zakat dan sholat di atas kita bisa memaknai bahwa zakat juga merupakan salah satu tiang agama. Zakat mampu memperkokoh kehidupan masyarakat Islam sehingga tercapai kesejahteraan dan solidaritas bersama, sebagaimana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam dari momentum hijrah Makkah ke Yatrsib dan menjadikan penduduk Madinah dan sekitarnya menjadi beradab dan lebih sejahtera.

Dalam hal ini, Dompet Dhuafa mengajak umat untuk bangkit dari dampak negatif akibat Covid-19 yang telah berlangsung selama ini. hijrah dari berbagai keterpurukan akibat dampak wabah Covid-19, ke perbaikan yang telah dirancang untuk dilaksanakan bersama-sama. Semoga cita-cita Indonesia Maju segera terwujud. tetap meneraplan protokol kesehatan selama pandemi masih berlangsung. (mdo)



Apa Pendapatmu?