Alexa Metrics

Puisi KH Mustofa Bisri “Belum Sempat”

Puisi KH Mustofa Bisri “Belum Sempat” Jemaah saat melakukan refleksi Tahun Baru Islam di masjid Istiqlal Jakarta. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Belum Sempat

belum sempat
aku menghormat jum’at
sabtuku sudah tiba lagi
kemarin rabuku belum lagi kulayani secara layak
kini kamisku sudah datang lagi seperti mendadak
kemarin masih tahun seribu empat ratus empat puluh satu
kini sudah tahun baru lagi

tahun-tahun berjalan
bagai bulan
bulan-bulan berlari
bagai matahari
detik-detik melesat
bagai kilat
dan kita masih saja
seperti semula
bergeming bagai berhala
kita masih disini begini
merasa abadi.

Rembang 1.1.1442 H.

indopos.co.id – Ini adalah puisi KH Mustofa Bisri berjudul ’’Belum Sempat’’ yang diunggah di akun miliknya @gusmusgusmu. Puisi ini untuk menyambut 1 Muhammara 1442 Hijriyah atau Tahun baru Islam. Di bawah puisi itu Gus Mus, begitu biasa kiai kharismatik itu disapa, menuliskan harapan-harapannya.

’’Selamat Tahun Baru Hijriah. Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita di tahun kemarin dan menerima amal-amal kita sebagai amal-amal saleh yang Ia ridai. Semoga di tahun baru ini, Allah melindungi kita dari godaan setan dan menolong kita melawan nafsu-amarah kita serta memudahkan kita melakukan amal yang mendekatkan kita kepadaNya. Ãmïn.’’

Tahun Baru Islam 1442 H ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini diperingati di kala penduduk bumi mendapat ujian pandemi COVID-19. Tahun Baru Islam dan pandemi ini seolah mengajak instrospeksi.

Instropeksi mengenai apa yang telah diperbuat manusia terhadap bumi ini? Terhadap alam semesta ini? Sehingga suhu bumi terus meningkat? Membuat es di kutub utara mencair? Membuat Himalaya ’’menghangat’’ dan es di puncak Cartzsten terus berkurang? Membuat langit pekat akibat asap knalpot dan pabrik? Membuat terjadinya perubahan iklim atau climate change yang dapat mengancam pangan manusia? Juga menyadarkan tentang arti solidaritas di tengah pandemi yang menerpa penduduk bumi.

Ketua Umum PP Muhammaditah Haedar Nashir dalam akun miliknya @haedarNs mengatakan bahwa hijrah harus ditarik ke aspek kehidupan yang lebih mendalam dan luas untuk menjadikan setiap muslim sebagai khalifah di muka bumi. Yakni mengurus kehidupan dan memakmurkan bumi untuk kebahagiaan hidup umat manusia.

Menjadi muslim-muslimah dalam Islam harus cerah hatinya, maju dan berilmu luas alam pikirannya, baik hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan, serta berkemajuan dalam segala amal dan pergaulan yang menampilkan Islam sebagai agama peradaban utama yang rahmatan lil-‘alamin.

’’Jadi, dengan spirit hijrah mari jadikan hidup lebih baik dan menebar rahmat dalam segala kehidupan. Hijrah bukan hanya dalam ranah perilaku sehari-hari, tetapi membangun peradaban Islam yang mencerahkan semesta,’’ Haedar mengakhiri Twitnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H Anwar Abubakar, mengajak masyarakat saling memperkuat persatuan dan persaudaraan di momen perayaan tahun baru Islam 1442 Hijriah. Dia juga berpesan agar tidak berlebih-lebihan merayakan tahun baru Islam, mengingat saat ini Indonesia masih diterpa wabah Coronavirus Disease atau COVID-19.

“Merayakannya tidak mesti berhura-hura. Tahun baru Islam 1 Muharram sebaiknya disambut dengan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, memperbanyak zikir dan berdoa agar berbagai ujian dan cobaan seperti pandemi COVID-19 dan musibah lainnya segera berakhir,” paparnya.

Tidak hanya itu. Harapan bersama di tahun baru Islam ini, kata dia, ada kemajuan yang bisa tercapai, khususnya di bidang keagamaan, pendidikan serta ekonomi yang saat ini menurun akibat dampak pandemi Corona.

Dosen Tafsir dan Hadis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, DR. H. Wajidi Sayadi, M.Ag mengatakan bahwa tahun baru Islam, 1 Muharam 1442 Hijriah bisa menjadi momentum untuk kebangkitan umat Islam karena dibaliknya terdapat sejumlah makna yang bisa menjadi pembelajaran.

“Kalender tahun Islam disebut Hijriah, disingkat dengan huruf H. Penetapannya didasarkan pada momentum hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Mengapa didasarkan pada momentum hijrah. Jawabannya, karena hijrah merupakan tonggak awal kesadaran perubahan menuju kebangkitan dan kemajuan,” ujarnya di Pontianak, Kamis.

Semoga tahun baru ini Allah mengampuni segala kesalahan kita dan membuat kita berbenah diri. Tidak mengulangi kesalahan-kesalahan serupa. Harus mulai dari sekarang. Jangan sampai kesempatan itu hilang,karena tidak akan kembali waktu yang telah berlalu. Jangan sampai apa yang dikatakan Gus Mus itu terjadi: Belum Sempat! (cok/nas)



Apa Pendapatmu?