Alexa Metrics

Bisnis Kuliner Coba Bertahan, Laksana Terjun Payung tanpa Parasut

Bisnis Kuliner Coba Bertahan, Laksana Terjun Payung tanpa Parasut Pengusaha Restoran Jepang Mifuné Raditya Adhi Pradana berharap pandemi COVID-19 cepat berlalu.

indopos.co.id – Dunia bisnis kuliner kini sedang menjerit. Bagaimana tidak, kondisi demikian sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Perekonomian pun sedang kusut, menanti jalan keluar menuju gerbang Kemerdekaan. Sampai kapan? Hingga kini, Antivirus COVID-19 hingga kini belum juga ditemukan.

Terlebih para pengusaha Food and Beverage (F&B) yang terus saja berharap perekonomian di ibu kota bisa bangkit dari keterpurukan. Ketika INDOPOS menemui seorang pengusaha F&B di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Salah satunya pengusaha F&B, restoran MIFUNÉ di Jakarta, yakni Raditya Adhi Pradana, 31. Ia mencoba bertahan di tengah badai cobaan pandemi COVID-19 yang melanda Jakarta dan meluas di Tanah Air Indonesia.

Pria yang akrab disapa Radit itu menuturkan, pertama di momentum Hari Kemerdekaan RI ke -75 ini dan di tengah masa pandemi COVID-19, seharusnya pemerintah harus lebih dekat dengan para pelaku usaha baik di DKI Jakarta dan daerah di Indonesia.

“Pemerintah harus berpihak kepada para pelaku usaha, untuk membangkitkan dan menggairahkan perekonomian kita,” kata pengusaha millenial yang mengenakan kaos dan topi saat ditemui INDOPOS.

Melihat kondisi ekonomi saat ini, sambung dia, pemerintah jangan lagi melakukan pinjaman utang. Terlebih impor, karena menurut dia, lebih baik memberdayakan dan mengangkat usaha mereka yang berada di level bawah dan menengah ke atas.

“Hal itu untuk membawa angin segar bagi para pelaku usaha yang ada dan tuk menyambung nyawa para pelaku usaha, ekonomi di Indonesia agar kembali bangkit,” harap pria yang duduk didampingi Ariel selaku chef MIFUNÉ.

Sejenak terdiam, Radit seraya menarik napas panjang, kemudian berucap, seakan sempat tak percaya akan sangat berdampak sekali pada tempat usahanya di bisnis Food and Beverage (F&B) ini.

Awalnya, bisnis yang digelutinya itu punya pendapatan lumayan besar. “Baru buka restoran sekitar dua pekan sebelum COVID-19 Mas,” tutur dia sambil menggelengkan kepala serasa tak percaya.

Sebaliknya, semenjak pandemi COVID-19 dan ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), lockdown diterapkan di Jakarta, 40-50 persen pendapatannya menurun drastis. “Saat penerapan lockdown, pendapatan langsung jeblok hanya sampai 10-20 persen. Pemesanan hanya lewat take away saja, bisa dihitung jari,” keluh dia.

Terkait perpanjangan PSBB Transisi di DKI, pendapatan hanya 50 persen turun menjadi 20 persen. Kondisi demikian berpengaruh kepada karyawan. Banyak yang dirumahkan. Dalam kondisi normal terdapat 12 karyawan. Namun ketika pandemi COVID-19, tersisa 5 karyawan saja.

Mereka bekerja bekerja setiap hari, 2 karyawan melayani di bagian depan dan 3 karyawan di bagian kitchen, cooking.

“Sebab, saat ini untuk menambah karyawan pun tidak mungkin. Adapun pendapatan menurun 20 persen itu sangat berpengaruh kepada kami,” keluh dia lagi.

“Tapi kita berupaya eksis tentunya karyawan kami pun mengerti dengan kondisi, keadaan kita sekarang ini. Kita yang memiliki usaha serupa berharap rumor penemuan vaksin COVID-19 dimulai November 2020 jadi kenyataan. Sehingga masyarakat tidak takut lagi datang ke restoran. Kalau begini terus bagaimana kami bisa bayar sewa,” akunya murung sambil memegangi gelas yang berisi teh itu.

Rata-rata, sambung dia, pengusaha kuliner sudah mengeluh. Terlebih bagi yang baru memulai usaha. “Kami punya impian mensejahterakan karyawan. Kini terpaksa urung tak terwujud, kesejahteraan karyawan menjadi terhambat,” tambah dia.

Akan tetapi, sambung dia, untuk tetap eksis, para pelaku usaha harus jauh lebih optimis yang pasti pemerintah pun harus memberikan kepastian, dan kami juga berharap jika memungkinkan ada subsidi dari pemerintah.

“Kepastian akan temuan vaksin Antivirus Corona sangat ditunggu-tunggu, terlebih itu tadi jika ada bantuan subsidi seperti layaknya UMKM kepada pengusaha seperti kami juga berharap ada bantuan,” harap di lagi.

Berjalan menapak ke dunia usaha kuliner tersebut tidaklah mudah bagi Radit. Anak kedua dari tiga bersaudara itu harus memutar otak berpikir untuk selalu lebih maju.

Radit berucap, keinginannya membangun restoran terinspirasi dari Kedai Yakitori di Jepang. Di Indonesia sendiri makanan Yakitori itu masih terbilang jarang dijumpai. “Kan biasanya restoran itu menyajikan sushi, donburi, ramen, maupun syabu-syabu,” ungkap dia.

Sedangkan orangtuanya menjalani usaha di bidang gas dan property. Dirinya berusaha keluar dari zona nyaman. Berkecimpung di usaha F&B. “Saya bersama kawan Arvin dan Rosa memberanikan untuk mendirikan restoran ini. Restoran yang nyaman, dengan suasana seperti di Jepang yang buka dari jam 11.00 – 21.00 WIB. Normalnya sih buka jam 11.00-23.00 WIB,” kata Radit.

Dia menambahkan, kini pelaku usaha F&B ini sudah pusing alias mumet. “Ya buka tempat restoran bukannya tidak laku karena memang keadaan sedang Covid. Jadi, ibarat terjun payung seperti tidak pakai parasut,” ucap dia menutup mata dengan tangan kanannya dengan topi sedikit terangkat.

Untuk bahan-bahan makanan yang disajikan, ada bahan makanan yang impor, seperti daging, ikan, udang lokal, dan bumbu-bumbu asal Jepang. Sekitar 70 persen impor. Sedangkan sayuran dari hasil tanam sendiri. “Bahan inti saus itu juga kita impor. Namun untuk membuat saus MIFUNÉ meracik sendiri,” ungkap dia.

Menurut dia, kelebihan dari menu makanan Yakitori yakni jarang ada di restoran Jepang yang ada di Jakarta. Biasanya Yakitori itu hanya sebagai makanan pelengkap saja. Namun, di restoran milik Radir menjadi menu utama. Menggunakan daging ayam, seafood, serta daging segar. Untuk sajian minuman seperti pada umumnya. Yaitu Ocha, Kopi, juga Lychee Tea.

Konsep restoran lebih ke Japanese Industrial. Masuk ke kalangan mana saja. Untuk keluarga, pasangan muda, pribadi, maupun milenial. Selain meja keluarga, terdapat VIP room untuk rapat pegawai kantor. Untuk family, di hari minggu paling ramai. Sedangkan kalangan milenial menyukai suasananya yang nyaman. “Milenial bisa sambil mengerjakan tugas juga sambil santai,” pungkas Radit. (ibl)



Apa Pendapatmu?