Alexa Metrics

Edukasi Penerapan Protokol Kesehatan bisa Dilakukan melalui Media Sosial

Edukasi Penerapan Protokol Kesehatan bisa Dilakukan melalui Media Sosial Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni, dalam Webinar Forum Diskusi Publik dengan tema “Millenial dalam Kehidupan Kebangsaan yang Berbhineka Tunggal Ika dan Bersosial Politik di Adaptasi Kebiasaan Baru” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Jumat (21/8/2020).

indopos.co.id – Generasi muda diharapkan bisa ikut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penerapan protokol kesehatan COVID-19 di era adaptasi kebiasaan baru. Edukasi penerapan protokol kesehatan ini bisa dilakukan secara langsung ataupun melalui teknologi digital atau media sosial.

“Diharapkan edukasi yang baik dari sosial media maupun secara langsung. Pertama tentu menjadi contoh, artinya dari diri sendiri. Kita harus menerapkan gaya hidup yang sehat dengan protokol kesehatan yang baik,” kata Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni, dalam Webinar Forum Diskusi Publik dengan tema “Millenial dalam Kehidupan Kebangsaan yang Berbhineka Tunggal Ika dan Bersosial Politik di Adaptasi Kebiasaan Baru” yang diselenggarakan Ditjen (Direktorat Jenderal) IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI, Jumat (21/8/2020).

Ia menyebut, edukasi melalui media sosial bisa dilakukan dengan cara-cara yang menarik dan tidak kaku, sehingga apa yang disampaikan bisa dengan mudah dimengerti oleh masyarakat.

Selain itu, generasi muda pun diharapkan bisa menjadi sebagai agent of change di masa adaptasi kebiasaan baru ini. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memaksimalkan media sosial untuk mengajak masyarakat tetap menerapkan social distancing di masa adaptasi kebiasaan baru ini.

“Kalau kita lihat dulu mungkin media sosial hanya kita pakai untuk bertukar sapa, tapi sekarang bisa bertukar asa. Nah kalau dulu kita hanya basa-basi, sekarang kita bisa juga untuk mengedukasi,” ujar legislator dari daerah pemilihan Sumatera Barat ini.

Lisda berharap, kaum milenial bisa bersikap dalam menghadapi kemajuan teknologi. Salah satunya adalah dengan mempergunakan sebaik-baiknya media sosial untuk hal kebaikan.

“Bagaimana tadi disebutkan (media sosial, red) bagai sebilah pisau. Bagaimana kita mempergunakan pisau tersebut untuk kejahatan atau untuk kebaikan. Tentu pilihannya ada pada diri kita,” papar dia.

Lisda menyatakan, kaum milenial sebagai generasi penerus menuju era baru. Generasi muda memiliki fungsi sebagai agent of change, moral force dan social control.

Menurut dia, agent of change merupakan hal terpenting yang dibutuhkan saat ini, sebagai pemicu terjadinya sebuah perubahan habit atau kebiasaan untuk kaum pemuda maupun kaum lainnya seperti kalangan anak-anak dan juga orang tua.

Ia pun mengutip apa yang disampaikan oleh Presiden RI pertama Soekarno. “Beri aku seribu orangtua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncang dunia,” kata Lisda.

Ia menegaskan, kata-kata ini bukan hanya tersirat atau tersurat. Ini merupakan hal yang benar dan luar biasa. “Artinya kaum muda memiliki semangat yang luar biasa berapi- api, dan tidak ada yang mustahil tercapai jika semangat pemuda Indonesia ini berkobar,” tegas Lisda.

Edukasi Penerapan Protokol Kesehatan bisa Dilakukan melalui Media Sosial
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Hukum Henri Subiakto, dalam Webinar Forum Diskusi Publik dengan tema “Millenial dalam Kehidupan Kebangsaan yang Berbhineka Tunggal Ika dan Bersosial Politik di Adaptasi Kebiasaan Baru” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Jumat (21/8/2020).

Sementara, nara sumber lainnya, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Bidang Hukum Henri Subiakto menyebutkan, kaum milenial harus memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyuarakan kembali betapa pentingnya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam konteks keberagaman. Sehingga, perbedaan yang ada dapat menjadi satu kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan yang berasal dari luar.

“Sekarang anak muda dapat memanfaatkan teknologi internet untuk menyuarakan kembali NKRI, bahwa kita ini berbeda-beda tetapi tetap satu,” ujar dia.

Menurut Henri, melalui teknologi informasi yang berkembang saat ini kaum muda dapat menggaungkan betapa pentingnya arti menjaga NKRI melalui seluruh kanal teknologi informasi yang teresdia dalam ruang digital. Jadikan, teknologi sebagai medium dalam memperkuat jalinan antar sesama anak bangsa dari berbagai lintas suku, agama dan ras.

“Kita perlu menyebarkan betapa pentingnya menjaga NKRI sebagai kekuatan bangsa dan negara,” katanya.

Henri yang juga Guru Besar FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Airlangga menilai, para kaum milenial pada saat ini dituntut melakukan empat hal untuk menjaga nilai kebangsaan.

Pertama, para kaum muda dapat ikut berpatisipasi secara aktif dalam menjadi benteng dari NKRI dan Pancasila. Mengingat, hingga saat ini masih terdapat oknum-oknum yang mencoba melunturkan dua nilai tersebut dalam setiap kegiatan masyarakat.

Kedua, membangun solidaritas kebangsaan dan kebhinekaan. Maksudnya, adalah setiap kaum muda dapat membangun solidaritas dengan berbagai kaum milenial lainnya yang berasal dari luar daerah. Dengan melakukan hal tersebut, niscaya hubungan antar pemuda dari lintas daerah dapat terjalin dengan lebih kuat.

Ketiga, menjadi filter dan benteng ideologi Trans-nasional atau asing. Maksudnya, kaum muda dapat mencegah masuknya berbagai ideologi yang berasal dari asing yang berpotensi merusak ideologi bangsa. Sehingga, ideologi bangsa NKRI dan Pancasila dapat sepenuhnya diimplementasi oleh seluruh kaum milenial dalam beberapa waktu ke depan.

Keempat, kaum muda dapat ikut melawan ancaman ideologi yang radikal dan intoleran yang saat ini masih marak terjadi di dalam negeri. Agar diharapkan, ideologi NKRI dapat senantiasa diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan patra kaum muda.

“Ikut memperkuat komitmen kebangsaan dengan melawan kelompok radikal dan intoleran dalam komunikasi di media sosial,” jelas Henri. (mdo)



Apa Pendapatmu?