Alexa Metrics

Cadangan Beras Surplus, Bulog Optimistis Swasembada Pangan Terwujud

Cadangan Beras Surplus, Bulog Optimistis Swasembada Pangan Terwujud Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (kanan) memotong padi dengan mesin otomatis saat panen raya di Desa Rancaseneng, Pandeglang, Banten, Selasa (28/7). (Foto: ANTARA/ Muhammad Bagus Khoirunas/agr/foc)

indopos.co.id – Badan Urusan Logistik (Bulog) menyerap gabah atau beras petani. Itu dilakukan menjaga stok pangan nasional hingga pengujung tahun ini. Sekaligus menjaga stabilitas harga jual padi petani di tengah musim panen raya.

Perusahaan tetap konsisten menyerap beras petani untuk mendukung pergerakan ekonomi di tingkat petani sehingga dapat memulihkan roda perekonomian nasional selama pandemi Covid-19. Selain itu, juga menjaga stok cadangan beras pemerintah cukup untuk kebutuhan hingga akhir tahun.

Perusahaan mematok pengadaan beras dalam negeri hingga akhir tahun ini mencapai 1,4 juta ton. Jumlah itu, sudah dikalkulasi secara matang sesuai kondisi lapangan. Realisasi pengadaan beras dalam negeri sampai minggu IV Juli 2020 mencapai 850 ribu ton. Itu hasil kerja keras seluruh jaringan Bulog di tengah Pandemi Covid-19. ”Pekan lalu saya juga instruksikan beberapa direksi melakukan hal serupa dengan menjemput panen petani Cilacap, Jawa Tengah, dan Gowa, Sulawesi Selatan,” kata Buwas.

Penyerapan dilakukan serentak untuk menjaga harga jual petani selama masa panen, sesuai salah satu tugas diamanatkan kepada Perum Bulog yaitu menyerap bahan pangan pokok khususnya gabah atau beras dari petani untuk menjaga kestabilan harga di tingkat petani.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) optimistis swasembada pangan terealisasi. Itu dengan membangun sinergitas bersama petani meningkatkan produksi pangan. ”Tahun ini produksi pangan surplus,” tutur Buwas.

Penyerapan gabah dan beras petani untuk memenuhi ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP). Masyarakat terpenuhi kebutuhan pangan. Persediaan pangan merupakan kekuatan bangsa di tengah Pandemi Covid-19 tanpa impor.

Sejatinya, Bulog bakal mengekspor beras 100 ton per bulan. Dan, perusahaan sudah mengemas beras ekspor tersebut. Namun, rencana itu teradang Pandemi Covid-19. Karena itu, perusahaan akhirnya mengurungkan rencana itu. ”Kami tidak impor. Sebanyak mungkin menyerap gabah dan beras petani,” ungkap Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Penyerapan beras dan gabah petani tentu sangat strategis untuk memenuhi kebutuhan pangan. Persediaan pangan dipastikan aman sampai Desember 2020. Berdasar terkini, CBP mencapai 1,452 juta ton.

Perum Bulog terus mengoptimalkan penyerapan pangan petani di tengah Pandemi Covid-19. Karena mencintai produk dalam negeri juga membantu pendapatan ekonomi petani. ”Kami menyerap pangan petani itu menguntungkan dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering pungut (GKP) Rp4.200 per kilogram (kg), gabah kering giling (GKG) Rp5.500 per kg, dan beras premium Rp9.300 per kg,” tegasnya.

Bangun Gudang Beras Petani

Sementara Bulog tengah menyiapkan gudang penyimpanan beras. Untuk kepentingan itu, Bulog mebebaskan lahan untuk mendukung rencana pemerintah mengembangkan proyek lumbung pangan seluas 165 ribu hektare (ha) di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Perusahaan ditugasi pemerintah sebagai off taker menyerap hasil panen petani. Pada proyek lumbung pangan, Bulog membangun gudang dan mesin penggiling padi atau rice milling plant di lokasi tersebut. Pembangunan gudang dan rice milling dikebut supaya dipakai musim tanam Oktober 2020 sampai Maret 2021.

Nah, 48 ribu dari 165 ribu hektare luas proyek lumbung pangan, di Pulang Pisau sudah produksi. Artinya, produksi akan banyak. Belum daerah lain yang mulai tanam akan menjadi sumber swasembada pangan baru Indonesia.

Bulog sebut Buwas, telah mempersiapkan pembangunan gudang dan mesin penggilingan beras di Kabupaten Pulang Pisau. Di mana, 48 ribu hektare lahan telah memproduksi 4 ton beras per hektare setiap tahun. Bulog sering dilibatkan dalam pengerjaan proyek hilirisasi pangan.

Nanti, pembangunan gudang baru itu akan lebih fokus untuk penyimpanan pangan dalam bentuk gabah. Dengan begitu, bisa lebih awet dan siap giling memakai fasilitas mesin penggilingan beras. ”Kami mengapresiasi pemerintah mewujudkan lumbung pangan di Kalteng. Nanti, Bulog akan menggarap hilirisasi atau off taker,” kata Buwas.

Potensi lahan proyek lumbung pangan memberi harapan baru swasembada pangan. Menjadi jawaban atas peringatan lembaga pangan dunia FAO. FAO menyebut ada potensi krisis pangan akibat kekeringan. Saat ini, cadangan beras Bulog mencapai 1,4 juta ton. Jumlah itu, dinilai cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri. (raf/ant)



Apa Pendapatmu?