Alexa Metrics

Belum Ada Vaksin, Virus ASF Mengancam Peternak di NTT

Belum Ada Vaksin, Virus ASF Mengancam Peternak di NTT Petugas mengangkis bangkai babi dari Danau Siombak, Kota Medan, Sumatera Utara. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)

indopos.co.id – Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) tidak mengenal ruang dan waktu. Tidak ada tembok pembatas yang bisa menghalau virus asal Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut. Praktis, satu-satunya dewa penyelamat untuk mengerem laju virus itu vaksin. Hanya, sampai kapan serum antivirus itu ditemukan?

Di tengah gemuruh mencari vaksin tersebut, sebetulnya, untuk urasan virus, Provinsi Nusantara Tenggara Timur (NTT) sudah berjibaku lebih awal. Sejak Februari 2020, Pulau Timor bagian barat positif terinfeksi virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Virus meluas dan menjangkau Pulau Alor dan Pulau Flores bagian tengah.

Berdasar data Dinas Peternakan NTT, periode Januari-Juni 2020, ada 24.822 ternak babi mati terinfeksi ASF. Ribuan ternak babi itu menyebar di 11 kabupaten, satu kota, dan sebuah instalasi peternakan Tarus, Kupang. ”Sejumlah petugas dikerahkan. Virus sudah menjangkau Flores dan Sumba,” tutur Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Peternakan NTT Artati Loasana.

Pengamat peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr Ir Johanis Ly mengatakan, pemerintah harus serius mengatasi serangan virus ASF. Caranya, dengan memperketat biosecurity di kandang, terutama peternak belum terkena dan terduga virus ASF.

Pengumpul atau pedagang mengelilingi kandang perlu dibekali pengetahuan virus ASF kalau perlu dilarang. Sebab, pengumpul atau pedagang menjadi media penyebaran virus. Pemilik modal atau pemilik restoran pemesan babi harus dibekali pengetahuan serangan virus. ”Perketat lalu lintas ternak antarkandang dan peternak,” saran Johanis.

BPOM perlu diberi tambahan tugas mengawasi lalu lintas ternak. Memeriksa kebersihan daging babi di pasar dan sejumlah rumah makan. Pemerintah bisa membuat aturan ternak yang dijual harus sehat. Itu sekaligus melarang penjualan daging berkeliaran, apalagi menjual daging tidak sehat. ”Virus ASF juga menyebar melalui orang melewati daging babi atau makan daging babi tercemar,” ucap Johanis.

Untuk mengatasi serangan virus ASF, pemerintah tidak merekomendasikan pemusnahan massal. Isolasi opsi terbaik membendung persebaran virus asal Afrika tersebut. ”Isolasi ketat daerah tertentu dapat mengatasi penularan virus ASF,” saran Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo.

Sementara sebagian peternak Pulau Timor menutup usaha ternak babi. Sejak 14 ekor ternak babi mati mendadak Maret 2020 lalu, para peternak masih dilanda trauma. Populasi ternak babi NTT hingga Juni 2018 tercatat 2 juta ekor. Catatan itu tertinggi di Indonesia. ”Ternak babi menjadi fokus pengembangan NTT. Tingkat konsumsi daging babi 40,1 persen,” tegas Senior Business Consultan Portfolio IV-Prisma Gracia Christie Napitupulu.

Prisma merupakan program multi-tahun di bawah Australia-Indonesia Partnership for Rural Economic Develoment (AIP-Rural). Program itu, sejak 2013 menyasar Jawa Timur, NTB, NTT, Papua, dan Papua Barat. NTT berkontribusi 10,2 persen dari total produksi daging babi Indonesia. Rata-rata satu rumah tangga memiliki dua ekor babi.

Diperkirakan, ada 900 ribu rumah tangga sebagai peternak babi. Itu didorong setiap urusan budaya dan agama butuh daging babi. Peternakan babi juga melibatkan tenaga kerja wanita. Namun, kondisi riil NTT menunjukkan para peternak berpenghasilan rendah. Itu akibat produktivitas, kualitas bibit, dan kualitas pakan rendah.

Virus ASF kali pertama menyerang ternak babi di Sumatera Utara, Bali, dan Timor Leste pada Agustus 2019. Lalu, Februari masuk NTT. Serangan virus ASF menebarkan ancaman serius bagi peternak babi, dan populasi ternak NTT. (raf/ant)-



Apa Pendapatmu?