Alexa Metrics

Ngamuk di Sekolah, Lurah di Tangsel Jadi Tersangka

Ngamuk di Sekolah, Lurah di Tangsel Jadi Tersangka

indopos.co.id -Kasus ngamuknya Lurah Benda Baru, Saidun memasuki babak baru. Pasalnya, kini dia menyandang status baru sebagai tersangka. ASN Kota Tangerang Selatan (Tangsel) itu statusnya naik dari terlapor jadi tersangka oleh Polsek Pamulang, Rabu (19/8). Terkait perusakan fasilitas milik SMA Negeri 3 Tangsel.

Kapolsek Pamulang Kompol Supiyanto mengatakan dinaikannya status Saidun dari terlapor menjadi tersangka berdasarkan dua hal. Pertama, berdasarkan hasil gelar perkara dugaan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dan perusakan fasilitas milik sekolah yang dilaporkan Kepala SMA Negeri 3 Tangsel.

Selain itu juga, status tersangka itu berdasarkan dua alat bukti yang telah dimiliki kepolisian saat menyelidiki kasus tersebut. ”Benar, kemarin kami tingkatkan status Saidun dari terlapor kasus perusakan menjadi tersangka,” katanya, Kamis (20/8).

Diakui Supiyanto, dari hasil gelar perkara berdasarkan keterangan saksi, Lurah Benda Baru itu mencoba memaksakan kehendak untuk memasukan dua siswa titipan yang dibawa ke SMA Negeri 3 Tangsel. Adapun barang bukti yang ditemukan berupa pecahan kaca dari toples yang ditendang Saidun di atas meja ruangan kepala sekolah (kepsek) serta rekaman CCTV saat sang lurah menendang barang di atas meja.

”Permintaannya ditolak, tersangka emosi dan merusak fasilitas yang ada di ruang kepsek. Itu sudah diakui Saidun ke penyidik berdasarkan rekaman CCTV. Pengrusakan ini dipicu karena pihak sekolah menolak siswa yang dititipkan lurah ini,” paparnya.

Dengan dinaikannya status Saidun sebagai tersangka, lanjut Supiyanto, pihaknya langsung bersurat ke Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany perihal penetapan status tersebut. Surat itu dikirimkan jajarannya karena status Saidun statusnya sebagai aparatur sipil negara (ASN) aktif.

Pengiriman surat tersebut dilakukan pihaknya setelah status Lurah Benda Baru ini dinaikan penyidik.

”Karena beliau seorang pegawai negeri, jadi kami harus bersurat resmi. Ini sudah kami tembuskan melalui Kecamatan Pamulang. Kemarin juga suratnya sudah dikirimkan ke pemkot,” ucapnya lagi.
Kendati demikian, Supiyanto menegaskan, jika pihaknya belum menahan Saidun. Alasannya, penyidik masih melakukan pemeriksaan lanjutan. Mengingat, pihaknya masih membutuhkan keterangan lain dari Lurah Benda Baru tersebut.

”Kami belum memeriksakan Saidun sebagai tersangka. Baru dilayangkan surat pemanggilan pertama melalui ibu wali kota saja. Tentu ada yang harus dilengkapi lagi, makanya tidak kami tahan,” jelasnya.

Saidun dijerat dengan pasal berlapis. Yakni, Pasal 335 Ayat (1) KUHP tentang Kekerasan dan Pengancaman, dan Pasal 406 KHUP tentang Perusakan Barang Milik Orang Lain. Saidun diancam hukuman penjara di bawah lima tahun.

Seperti diketahui Saidun dilaporkan Kepala SMA Negeri 3 Tangsel, Aan Sri Analiah ke Polsek Pamulang atas dugaan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dan perusakan fasilitas milik sekolah.

ASN Pemkot Tangsel ini dipolisikan lantaran menendang stoples yang ada di atas meja ruang Kepala SMA Negeri 3 Tangsel. Aksi yang dilakukan Saidun untuk melampiaskan kemarahan, karena siswa yang dititipkanya gagal diterima di SMA Negeri 3 Tangsel. Kasus ini terjadi pada Jumat (10/7) lalu.

Sementara, Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kota Tangsel Apendi mengakui pihaknya tah menerim surat dari Mapolsek Pamulang terkait status Lurah Benda Baru tersebut. Kata dia, surat itu akan diserahkan pihaknya ke wali kota pada Jumat (21/8).

”Kami tidak berani baca surat itu, karena ditujukan untuk ibu wali kota. Esok kami baru serahkan ke beliau (hari ini, Red). Nanti apa keputusan beliau akan kami tindak lanjuti terkait kasus ini,” ungkapnya.

Jika Membantu harus Pakai Cara yang Benar

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo mengatakan langkah kepolisian menaikan status Lurah Benda Baru Saidun menjadi tersangka telah benar. Sebab, upaya ini diperlukan dalam pengusutan setiap tindak pidana yang dilaporkan oleh masyarakat.

Apalagi aksi tersebut dilakukan ASN dengan dugaan kasus penitipan siswa yang melanggar aturan PPDB (penerimaan peserta didik baru) tingkat SMA. ”Penetapan tersangka itu harus dilakukan guna memberikan efek jera. Polisi harus tegas dan tidak tebang pilih,” terangnya.

Ditambahkan Agus, seharusnya kasus ini tidak menimpa Saidun jika dia melakukan protap dan cara yang benar sebagai ASN dan kepala wilayah. Yakni, dengan cara bersurat kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten meminta bantuan agar siswa yang dia berikan rekomendasi dapat diterima di SMA Negeri 3 Tangsel.

Yakni, dengan menunjukkan bukti jika siswa itu memang warganya dan tidak mampu. ”Jika benar alasan menitipkan siswa ke sekolah karena dari keluarga miskin, cara yang benar tidak ditempuh lurah. Sehingga berujung seperti ini. Ya, sekarang tinggal penantian hukuman yang harus diterima pak lurah itu,” pungkasnya. (cok)



Apa Pendapatmu?