Alexa Metrics

Kisah Perjalanan Karier Guru Sekolah, Pernah Rasakan Pahitnya Jadi Guru Honorer

Kisah Perjalanan Karier Guru Sekolah, Pernah Rasakan Pahitnya Jadi Guru Honorer abdul Kholik, kepala sekolah sMK Pelayaran Pembangunan Jakarta Timur. (Foto: Iqbal/INDOPOS)

indopos.co.id – Di Gedung 5 lantai SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta, di Jalan Manunggal II, No. 67, Ciracas, Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Adalah Abdul Kholik, 35, sempat menjadi guru honorer dengan kehidupan serba kekurangan dan mencari sampingan jualan online. Sebab, dirinya pernah merasakan jadi seorang guru honorer. Sedikitnya hanya berpenghasilan 450.000 rupiah.

Ketika INDOPOS sempat menunggu sekitar 15 menit untuk menjumpai pria yang pernah merasakan pahitnya gaji seorang guru honorer di sebuah sekolah dengan cat berwarna biru laut itu. Tak berapa lama, pria mengenakan jaket bomber, Abdul Kholik kemudian menyapa dan mengajak keruangan dengan menaiki beberapa anak tangga di lantai 2. “Ngobrol di atas aja Mas. Biar santai,” kata dia.

Setelah duduk dan mengambil napas sejenak, Abdul Kholik menuturkan, awalnya dia dilahirkan dari seorang ibu di kampung. Ayahnya adalah seorang Guru SMP. Sedangkan ibunya Wiraswasta bermukim di rumah sederhana di daerah Sirampog, Brebes, Jawa Tengah.

Beranjak dewasa, dirinya melanjutkan pendidikan dengan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. “Di kampus itu saya ambil jurusan Fakultas Ilmu Pendidikan Matematika dari 2004-2009,” ulas pria mengenakan kemeja batik, Jumat (14/8/2020).

Di situ pun masih belum menjadi guru. Saat itu, sambung dia, sempat menjadi konsultan agen di Purwokerto selama 9 bulan. Kemudian dirinya mencoba melamar hingga akhirnya diterima mengajar di SMK Muhammadiyah 1 Sirampog pada 2010-2011. “Saat itu, saya guru honorer dibayar per jam berdiri,” ujar dia.

Maksud dibayar per jam berdiri itu, ungkap dia, berusaha mengingat masa itu, hitungannya 20 jam satu minggu mengajar dan hitungannya gaji dijumlahkan satu bulan plus uang transport kehadiran. “Perih Mas, gaji honorer saya di bawah UMR.  Saat itu UMR hanya Rp1,5 juta,” beber dia.

Untuk menambah penghasilan, ia mengajar sambil membuka usaha warung internet (warnet). Usaha warnetnya ketika itu membuka 12 komputer. Jadi, setelah selesai mengajar baru bisa membuka toko warnetnya dari jam 14.00 WIB-22.00 WIB. “Gak seberapa juga hasilnya dari buka usaha warnet, sekarang bangkrut karena gak ada yang jaga,” ungkap dia.

Jarak dari rumah ke sekolah tempatnya mengajar saat itu hanya 10 menit menggunakan motor. Dari situ, dirinya sedang dekat dengan perempuan calon isterinya. Dalam prosesnya dirinya kemudian pindah ke Jakarta pada awal Mei 2012. “Pindah ke Jakarta karena saat itu ada calon isteri yang sekarang kerja di Jakarta. Mengajak ke Jakarta untuk kerja jadi guru juga,” tandas dia.

Obrolan pun semakin hangat. Lantas dirinya jeda sebentar untuk memanggil OB (Office Boy) untuk menyajikan minuman. Tak berapa lama, secangkir teh hangat tersedia. Obrolan pun berlanjut.

Ketika itu dia dibantu saudara untuk melamar kerja. Hingga dia melamar menjadi guru honorer di SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta ini. “Dulu gaji honorer pertama di bayar di Jakarta sebesar Rp450 ribu, karena dapat jam ngajar matematikanya sedikit. Enam jam ngajar saja,” kata dia.

Ia pun tak ingin patah arang ketika itu. “Ngajar berdasarkan jadwal yang diberikan kurikulum. Saya bertahan 3 bulan hingga dikasih tambah jam menjadi guru piket sama guru wali kelas,” ulas dia.

Begitulah keseharian dijalankannya dengan rutin dan penuh disiplin. “Perjalanan yang ditempuh dari rumah ‘Bu Le’di Munjul, Cibubur ke sekolah sekitar 15 menit (7 kilo),” beber dia.

“Saya sewaktu di Jakarta ikut Bu Le. Pas nikah di tahun  2012 akhirnya mengontrak hingga punya rumah sendiri hingga dikaruniai dua anak perempuan semuanya yang duduk di bangku kelas 2 SD dan si bungsu masih TK,” tambah dia.

Di 2013, dia diminta untuk mengajar Ilmu Fisika dan Matematika. Sambilan jualan online kopi dan alat penghemat BBM sampai sekarang. Bahkan, dirinya masih ingin membuka usaha minuman kekinian biar jadi franchise.

Lambat laun, dia mendapatkan posisinya di tahun 2014-2015 menjadi Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan. “Akhir 2018 tepatnya di bulan Oktober dipercayakan ditunjuk menjadi Kepala Sekolah. Dan SK saya 4 tahun,” kata dia mengenang.

Roda waktu itu terus berputar, Abdul Kholik kini dipercaya dan ditunjuk menjadi Kepala Sekolah SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta Timur sampai sekarang.

Sekedar diketahui, di SMK Pelayaran Pembangunan ini tersapat 10 kelas. Terpakai 6 kelas karena jumlah murid yang terus berkurang. Harapan, sisiwa yang lulus bisa berlayar.

“Ada juga yang lulus menjadi aparat negara apa Polisi atau TNI. Dan hingga melanjutkan ke jenjang sekolah tinggi Akademik di Jakarta atau Kampus lainnya,” tambah dia.

Bersamaan dengan momentum Hari Kemerdekaan RI ke-75. Makna HUT RI itu sendiri baginya adalah bagaimana menanamkan, menimbulkan semangat jiwa patriotisme, mengingatkan jasa para pahlawan yang telah sulit meraih kemerdekaan bangsa ini, serta menanamkan jiwa nasionalisme.

Dirinya berpesan buat para siswa SMK, agar tidak lupa akan sejarah dan pahlawan yang telah berjuang merebut Tanah Air ini dari para penjajah.

“Mempertahankan itu penuh perjuangan pahlawan, kita sebagai generasi penerus bangsa harus mempertahankan bangsa ini sepenuhnya ibarat jangan sampai dijajah lagi,” kata dia semangat.

Laksanakan Pendidikan Jarak Jauh

Menurut anak ketiga dari enam saudara itu, di masa pandemi COVID -19 ini, sangat berdampak bagi murid-murid. Sebab, kontrolnya jadi berkurang. Anak-anak mengalami kejenuhan, disiplinnya jauh lebih berkurang, merosot. Karena merasa kurang diawasi.

Namun demikian, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tetap berjalan agar guru pun harus mengikuti perkembangan zaman. Untuk guru di sini, tambahnya, diwajibkan kehadirannya 50 persen ke sekolah sebagai fungsi mengontrol secara langsung kinerja guru.

Kemudian karena ada juga siswa yang masuk memenuhi pelajaran praktek di sekolah. Sehingga protokol kesehatan tetap harus dijalankan, wajib memakai masker bagi yang masuk praktek Ilmu Pelayaran maksimal 5 orang siswa/kelompok, secara bergilir. (ibl)



Apa Pendapatmu?