Alexa Metrics

Perang Suku Papua Terus Berulang, Pemerintah Jangan Terkesan Membiarkan

Perang Suku Papua Terus Berulang, Pemerintah Jangan Terkesan Membiarkan Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen saat bertemu masyarakat salah satu kelompok yang ingin berperang pada Kamis (20/8). (Foto: ANTARA/Marius Frisson Yewun/aa.)

indopos.co.id – Masyarakat Kampung Meagama, Distrik Hubikosy dan Kampung Kosiwuka Distrik Pelebaga, Papua miminta izin kepada aparat polisi untuk saling berperang secara tradisional selama tiga hari.

Massa masing-masing kelompok yang mempersenjatai diri dengan senjata tradisional diperkirakan jumlahnya di atas 1.000 orang. Namun permintaan izin tersebut tidak diberikan oleh aparat polisi setempat.

Kapolres Jayawijaya, Papua, AKBP Dominggus Rumaropen membenarkan permintaan warga dua kampung berbeda agar pihaknya mengizinkan mereka untuk saling berperang secara tradisional selama tiga hari sejak Rabu (19/8) hingga Jumat (21/8).

”Kedua pihak minta untuk perang, minta aparat berikan kesempatan mereka berperang tiga hari. Tetapi tentunya tidak mungkin kami berikan izin untuk mereka berperang karena kita sayang kepada warga, jangan sampai di kedua bela pihak jatuh korban jiwa lagi,” katanya.

Pada hari kedua ini tidak terdapat korban jiwa seperti hari pertama pada Rabu, (19/8) yang mengakibatkan delapan masyarakat dilarikan ke RSUD Wamena karena mengalami luka-luka akibat senjata tradisional. Massa masing-masing kelompok yang mempersenjatai diri dengan senjata tradisional pada Kamis ini diperkirakan jumlahnya di atas 1.000 orang.

”Hari ini sebenarnya berlanjut dengan perang, tetapi kita bisa gagalkan perang itu. Mudah-mudahan besok dan beberapa hari ke depan perasaan emosi mereka bisa turun, kita mediasi agar masalah ini diselesaikan tanpa perang,” katanya

Untuk mengantisipasi terjadinya perang itu, personel kepolisian sudah disiagakan di lokasi perang sejak pagi hari hingga pukul 18:00 WIT. Personel juga ditempatkan di empat titik, untuk membatasi jumlah dukungan massa masing-masing kampung dari distrik maupun kabupaten lain.

Rencananya kepolisian akan kembali ke lokasi perang pada Jumat, (21/8) untuk melakukan pencegahan lagi. ”Masyarakat dua kampung itu sudah siap (berperang) dan kami sudah tempatkan personel di dua kampung ini. Personel juga sudah melakukan penggalangan sehingga masyarakat bisa kembali ke tempat masing-masing,” katanya.

Belum ada kesepakatan perdamaian antar masyarakat yang bertikai dan polisi telah menyarankan warga dua kampung untuk memakamkan dua korban yang terdapat di dua pihak.

Sementara Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Paskalis Kossay mengatakan, Pemerintah RI bersama Pemerintah Daerah jangan terkesan membiarkan terus berulangnya perang antar suku di Papua yang berlarut-larut tidak bisa diatasi dengan baik.

Ia mengatakan itu dengan nada sangat menyesalkan, mengomentari berulangkalinya perang antar suku atau di antara dua massa sipil di Kwamki, Timika, dan beberapa daerah lain di sejumlah kawasan Tanah Papua. “Tapi sebaiknya memang perang suku itu cukup diselesaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat,” ujarnya.

Paskalis Kossay juga berpendapat, pemdalah yang harus mencari solusi perdamaian hakiki, dengan pendekatan pembangunan pro pada kepentingan kelompok bertikai tersebut.

”Mari, jangan kesankan adanya pembiaran (oleh aparat pemerintah), sehingga warga sipil merasa terus terpinggirkan dan menikmati ketidakadilan dalam berbagai hal di negara merdeka Indonesia, seperti ketidakadilan di bidang hukum dan keadilan, ketidakadilan di bidang ekonomi dan kesejahteraan serta di bidang politik maupun demokrasi,” kata Paskalis Kossay yang merupakan legislator dari Tanah Papua tersebut.

Latar belakang aksi siap berperang ini terjadi setelah seorang warga Distrik Pelebaga ditemukan meninggal di Distrik Hubikosy pada 25 Juli 2020. “Penemuan jenazah itu menyebabkan pihak lawan tersinggung dan tanpa tanya mereka turun menyerang Kampung Meagama pada Selasa,(18/8) pagi. Bertepatan dengan penyerangan itu, pas kepala desa ada, mereka habisi Kepala Desa Meagama,” katanya.

Pada sore hari di hari yang sama, terjadi juga pembunuhan di Jalan Safri Darwin, Pusat Ibu Kota Kabupaten. Korban langsung meninggal dunia karena dipotong dengan benda tajam oleh sekelompok warga. Kedua kasus pembunuhan ini diduga berkaitan. (gin/ant)



Apa Pendapatmu?