Alexa Metrics

Rafflesia, Aku Padamu…

Rafflesia, Aku Padamu… Bunga raksasa tujuh kelopak “Rafflesia Arnoldii” di Padang Guci, Bengkulu. Rafflesia merupakan bunga langka berbentuk kubis yang biasanya memiliki lima kelopak bunga. Kebanyakan ditemukan di hutan hujan Sumatera. (Foto: Diva Marha / AFP)

indopos.co.id – Kok mau-maunya Holidin ini. Punya lahan luas. Tiga hektare. Di pinggir jalan raya. Bukannya dijadikan tempat bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan finansial, eh malah dijadikan tempat budidaya puspa atau tanaman langka. Ada bunga Rafflesia Arnoldii, Amorphophallus, Kantong Semar, dan puspa langka lainnya. Istri dan anak-anaknya sempat mengingatkan. Apakah langkah Holidin ini dapat memberikan kesejahteraan dan masa depan lebih baik?

Lokasi budidaya puspa langka ini berada di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Di depan kawasan ini terdapat papan bertuliskan Taman Konservasi Puspa Langka Rafflesia Arnoldii dan Amorphophallus. Di kanan papan itu terdapat miniatur bunga Rafflesia dan Amorphophallus dari batu yang disemen.

Dari sini kita bisa menyaksikan hamparan bukit Dendan yang menyatu dengan Bukit Barisan. Indah sekali jika sore hari. Bisa menyaksikan detik-detik matahari tenggelam yang menawan. Untuk bisa menyaksikan dari dekat aneka puspa langka, kita harus menuruni dan menaiki puluhan anak tangga. Lumayan jika tidak terbiasa tracking. Pasti ngos-ngosan.

’’Saya prihatin melihat puspa langka kita terancam punah. Saya melestarikan ini agar generasi kita dan anak cucu kita tahu. Ini loh kelebihan kita alam Bengkulu. Karena itu kita harus jaga dan lestarikan ini supaya jangan sampai kehilangan puspa langka,’’ ungkapnya saat ditemui di Taman Konservasi Puspa Langka Kabupaten Kepahiang dan di Hutan Madapi di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu pada 6 Agustus 2020.

Holidin mulai mencoba melestarikan puspa langka ini sejak sebelum 1998. Orang tuanya sudah sangat setuju melihat anaknya punya kecintaan dan ingin melestarikan puspa langka. Sebab, di habitat aslinya sudah banyak yang rusak dan terancam punah akibat pembalakan dan pembukaan lahan dan tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Ketika 1998, Holidin mencoba mencacah umbi dari Amorphophallus. Bapak empat anak ini mencoba membudidayakannya melalui polybag. Kebetulan waktu itu 60 persen bisa tumbuh. Dia sangat gembira. Sebab, saat itu, ada anggapan bahwa puspa langka ini tidak bisa dikembangbiakkan.

’’Jadi kami merasa lumayan agak gampang untuk membudidayakan ini. Setelah kami belajar otodidak dari alam, kita mendapat pelajaran banyak dari alam,’’ ungkapnya.

Namun, tidak mudah membudidayakan puspa langka ini. Dia harus belajar otodidak dan membiayai sendiri. Di sisi lain, dia punya kewajiban untuk mempertahankan asap dapur tetap mengepul. Keempat anaknya pun harus sekolah. Sampai-sampai istri dan anaknya mengingatkan apakah langkah ini dapat memberikan kesejahteraan dan kehidupan lebih baik?

’’Sering terjadi saya pulang ke rumah. Bukan berarti anak dan istri itu membenci ya. Hanya mengingatkan ke saya apakah ini bisa untuk menghidupi anak istrimu,’’ kata Holidin.

Holidin punya anak empat. Yang pertama tunagrahita. Sudah selesai SMA di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sehari-harinya jadi tukang sapu di depan gerbang Taman Konservasi Puspa Langka. Yang kedua kuliah di Fakultas Kehutanan, Universitas Bengkulu. Yang ketiga baru selesai SMA. Sekarang menganggur dan merengek-rengek minta pekerjaan. Dan anak keempanya perempuan. Baru naik kelas 3 SMP.

’’Harapan saya kepada anak kedua saya supaya bisa menyelesaikan kuliah. Karena jujur saya berat menguliahkan karena masalah ekonomi. Semuanya sekarang dalam kondisi ekonomi susah, ditambah COVID-19,’’ harap Holidin.

‘’Semua memang kehendak Allah dan kita bisa memetik hikmah dari semua ini,’’ lanjut Holidin.

Apa yang membuat Holidin tetap semangat, tetap bangkit, mau merawat tanaman langka padahal keluarga telah mengingatkan apakah kegiatannya itu bisa memberikan kesejahteraan kepada keluarga?

’’Karena kita sudah punya kecintaan. Karena kalau mencari kekayaan di sini (budidaya puspa langka), tidak mungkin saya bisa 22 tahun ada di sini. Dari 1998 sampai 2020,’’ cerita Holidin.

Menanggapi pertanyaan keluarga, Holidin hanya meminta mereka bersabar. Tuhan tidak tidur. ’’Yang penting kita bekerja ikhlas. Dan kita semakin semangat untuk membudidayakan. Kebetulan juga berbatasan langsung dengan hutan lindung. Sehingga kita juga berkewajiban menjaga alam ini. Karena kalau kita menjaga alam, maka Allah akan menjaga kita,’’ begitu Holidin menjawab pertanyaan keluarganya.

Kini usaha keras itu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Taman Konservasi Puspa Langka ini banyak dikunjungi. Baik untuk riset maupun sekadar menyaksikan Rafflesia Arnoldii dan Amarphophallus. Kepala Desa Tebat Monok, Bupati Kepahiang, Gubernur Bengkulu dan para pejabat lainnya sudah datang ke sini.

Termasuk sore itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno beserta Kepala Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Tamen Sitorus dan Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Donal Hutasoit menyempatkan mampir di tempat konservasi ini.

Sebelum bertolak ke Kabupaten Rejang Lebong untuk memperingati Hari Konservasi Alam Nasional dan Global Tiger Day. Mereka menyusuri areal demi areal untuk menyaksikan satu per satu puspa langka dan tempat pembibitan.

’’Saya mendukung penuh langkah Pak Holidin. Pak Holidin melakukan ini tidak ada yang menyuruh. Pemerintah pun tidak menyuruh. Ini yang menyuruh Tuhan,’’ kata Dirjen KSDAE Wiratno kepada jajarannya dalam perbincangan santai di pendopo ditemani rebus-rebusan.

’’Besok datang ya di Rejang Lebong di acara Hari Konservasi Alam Nasional,’’ pinta sang Dirjen kepada Holidin lalu meminta izin untuk meneruskan perjalanan ke Kabupaten Rejang Lebong yang masih sekitar dua jam perjalanan lagi.

Rafflesia, Aku Padamu…
Dirjen KSDAE Wiratno memberikan penghargaan kepada Holidin. (Foto: dok INDOPOS)

Dan, keesokan harinya, dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Global Tiger Day pada 6 Agusus 2020 itu, ternyata Holidin dipanggil ke depan. Maju ke atas panggung. Untuk menerima penghargaan sebagai Tokoh Konservasi. Atas jasa pengabdiannya sebagai penggiat konservasi puspa langka Amorphophallus dan Rafflesia Arnoldii di Taman Konservasi Puspa Langka periode 1998 hingga 2000. Penghargaan itu disiapkan hanya dalam waktu semalam.

’’Saya belum pernah ketemu sebelumnya dengan Pak Holidin. Beliau ini sangat inspiratif. Ini local champions (pemain lokal) yang harus ditularkan ke tempat lain,’’ kata Dirjen KSDAE Wiratno saat memberikan penghargaan Tokoh Konservasi kepada Holidin dalam acara HKAN di Hutan Madapi, kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, di Bermani Ulu Raya, Rejang Lebong, Bengkulu.

Usai acara HKAN, Dirjen KSDAE Wiratno ditemani Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Tamen Sitorus dan Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoit kembali mampir ke Taman Konservasi Puspa Langka. Sebelum meneruskan perjalanan ke Kota Bengkulu. Sembari ditemani pisang rebus dan segelas kopi Bengkulu, Pak Dirjen memberikan bantuan dan pandangan-pandangan supaya Taman Konservasi ini semakin berkembang. Mulai perlunya dibentuk CV hingga pemikiran agar lokasi ini dijadikan tempat wisata.

’’Pak Tamen dan Pak Donal, tolong Pak Holidin ini dibantu sampai selesai,’’ kata sang Dirjen kepada Kepala Balai Besar TNKS dan Kepala BKSDA sembari menyeruput kopi.

’’Jangan lama-lama ya. Seminggu selesai ya. Masak gini saja lama,’’ canda sang Dirjen, lalu tawa pun pecah.

’’Saya bersyukur mendapat penghargaan. Ini perjuangan yang sudah sangat lama. Saya berterima kasih,’’ kata Holidin terkait penghargaan tokoh konservasi yang diterimanya.

Selanjutnya, dia berharap agar semua pihak, terutama Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta seluruh masyarakat untuk menjaga alam dan puspa langka ini jangan sampai hilang.

’’Taman konservasi ini didirikan dengan kesadaran dan kecintaan. Sudah menjadi kebanggaan kami warga Bengkulu. Bahkan mungkin bagi Republik ini. Berdirilah dengan kokoh walau dengan segala keterbatasan,’’ pungkas Holidin. (cok)



Apa Pendapatmu?