Alexa Metrics

Mangkatnya Sapardi dan Problem Sastra Kita

Mangkatnya Sapardi dan Problem Sastra Kita

Oleh :  Drs. Yosep Bambang, MS, M.Si., M.A., Ph.D. (Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang)

indopos.co.id – Publik Sastra Indonesia berduka dengan meninggalnya penyair senior yang juga akademisi, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Minggu, 19 Juli 2020. Dia meninggalkan karya yang tidak lekang dimakan zaman. Dengan demikian, kematiannya tidak perlu kita tangisi berkepanjangan karena itu bagian dari kehidupan. Bagaimana sastra Indonesia kini dan yang akan datang sepeninggal Sapardi?

Awal 1980-an, ketika saya mulai kuliah di Fakultas Sastra, saya sangat intensif membaca sastra Indonesia. Mulai karya Rendra, Sutardji. Ibrahim Sattah, Sapardi Djoko Damono, Iwan Simatupang, Mangunwijaya, Danarto, Budi Darma, Linus Suryadi AG, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, dan banyak lagi lainnya.

Untuk esai dan teori sastra, saya membaca Teeuw, HB Jassin, Budi Darma, Umar Junus, majalah Horison dan teori-teori sastra yang ditulis para penulis Barat. Di samping itu, kegiatan bersastra yang saya ikuti begitu intensif: diskusi dengan dosen, dengan sesama teman kuliah maupun dengan Kelompok Penulis Semarang (KPS). Bagi saya, kehidupan sastra sangat sehat waktu itu. Sebagai bagian dari publik sastra Indonesia, saya begitu bergairah.

Hampir 40 tahun berselang, tahun 2020, ketika Sapardi meninggalkan kita menuju ke keabadian, situasi sastra kita sudah sangat jauh berbeda.Ada sementara kekhawatiran bahwa kita tidak melahirkan lagi sastrawan.Sastrawan yang ada saat ini hanyalah sastrawan senior. Kalau satu demi satu sastrawan dipanggil Tuhan, kita tidak akan lagi memiliki penyair, dramawan, dan prosais.

Benarkah demikian? Terlalu kompleks permasalahannya. Kita lihat persoalan ini dari berbagai perspektif. Untuk mengurai persoalan ini, kita perlu membicarakan regenerasi sastrawan, minat baca masyarakat, teknologi digital dan kebijakan pemerintah, baik dalam bidang pendidikan maupun kebudayaan.

Regenerasi Sastrawan

Kita tidak perlu khawatir akan tidak adanya sastrawan berkelas. Regenerasi sastrawan selalu terjadi dari zaman ke zaman. Orang-orang idealis akan selalu muncul pada setiap zaman. Hanya saja, fenomena saat ini, banyak anak muda, terutama kaum hawa, yang terjun ke penulisan fiksi dan menjadi idola banyak orang. Tetapi persoalannya menjadi lain ketika ada sebagian orang menganggap tulisan mereka ‘bukan sastra.

’ Selama ini public sastra sudah terbelah menjadi dua: pendukung sastra serius dan pendukung sastra populer. Anggapan bahwa saat ini kita tidak lagi memiliki sastrawan sepertinya datang dari pendukung sastra serius. Di sisi lain, dan ini tidak boleh kita abaikan, kenyataan bahwa ada begitu banyak penulis muda yang laris-manis karya-karyanya, menunjukkan adanya pergeseran minat di kalangan pembaca. Dengan demikian, bagi para pendukung sastra populer, sastra Indonesia tidak pernah mati dan regenerasi penulis selalu terjadi.

Bagi mereka yang menganggap sastra sebagai sastra serius dengan nama-nama di atas sebagai barometer sastra Indonesia, kita memang akan kecewa, sekalipun tidak sepenuhnya. Mangunwijaya, Umar Kayam, Pramoedya, NH Dini satu per satu dipanggil Tuhan. Kini Sapardi telah menyusul mereka. Tetapi kita tidak perlu pesimistis.

Kita masih memiliki sastrawan dari generasi yang relatif lebih muda. Selain D Zawawi Imron yang sudah berusia 75 tahun dan Ahmad Tohari, 72 tahun, kita masih memiliki Timur Sinar Suprabana, Tengsoe Tjahjono, Seno Gumira Adjidarma, Ayu Utami, Joko Pinurba, dan Dorothea Rosa Herliany dan banyak lagi yang lain.

Harus kita akui, jumlah sastrawan golongan ini tidak sebanyak sastrawan populer yang seperti cendawan di musim hujan dengan produktivitas mereka yang luar biasa. Kalau yang menjadi barometer adalah buku yang diproduksi dan terjual, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan sastra Indonesia.

Saat ini menerbitkan buku menjadi jauh lebih mudah bagi siapa pun juga dan ternyata ada puluhan pengarang muda yang setiap tahun hadir dengan buku baru dan terjual lebih banyak dibandingkan “sastra serius” yang meminta pembaca untuk mengerutkan dahi ketika membacanya.

Kepergian Sapardi tidak perlu kita tangisi. Demikian pula kepergian para sastrawan lain yang dipanggil Tuhan sebelumnya. Kita tidak perlu sedih berkepanjangan karena, sekalipun banyak orang akan mengategorikannya ke dalam “sastrawan pop,” Indonesia saat ini tidak kekurangan penulis. Masing-masing genre memiliki pembaca sendiri dan dari sudut pandang studi kebudayaan, sastra pop (dan seni pop pada umumnya) pun merupakan produk budaya yang sah dalam satu masyarakat atau bangsa (Turner, 2003).

Pada akhirnya, kita akan memahami persoalan ini bukan hanya sebagai pergeseran minat baca sebagai akibat adanya perubahan zaman melainkan juga pergeseran orientasi masyarakat itu sendiri. Sastra adalah cermin masyarakat.Masyarakat Indonesia saat ini berbeda dari masyarakat Indonesia masa lalu.“Berbeda” di sini tidak bisa dibaca bahwa masyarakat sekarang lebih baik atau lebih buruk dibanding masyarakat generasi sebelumnya.

Faktor lainnya untuk menilai mapan atau tidaknya sastra suatu bangsa adalah waktu, bisa ratusan hingga ribuan tahun. Sastra Ingris, misalnya, memiliki sejarah ribuan tahun dan orang akan bisa menilai atau menghargai para penulis hebat pada zamannya masing-masing. Barangkali dalam waktu ratusan tahun ke depan, karya-karya Sapardi dan para sastrawan seangkatannya akan dikategorikan sebagai karya klasik dalam sastra Indonesia.

Sementara sastra populer yang membius pembaca muda dengan kisah-kisahnya yang bombastis boleh jadi akan hilang ditelan zaman. Pada masa yang lain lagi nanti, bisa jadi akan muncul para penulis dankarya hebat yang akan mewarnai sejarah sastra Indonesia.

Anak cucu kita yang akan menilainya kelak. Hanya saja, awal abad ke-21 ini nampaknya kita memang harus menerima kenyataan bahwa generasi emas sastrawan Indonesia satu per satu sudah dan akan dipanggil Tuhan ketika masyarakat tidak lagi melirik mereka dan karya-karyanya (tanyakan pada murid TK sampai SMA saat ini apakah mereka mengenal Sapardi Djoko Damono, misalnya).

Minat Baca dan Teknologi Digital

Minat baca juga menjadi faktor penting terjadinya pergeseran minat sastra. Referensi apa pun mengenai minat baca bangsa Indonesia yang Anda gunakan atau temukan saat ini akan menyatakan bahwa minat baca bangsa kita sangat rendah. Ini juga sudah saya tulis panjang lebar di buku saya Bantulah Indonesia Dengan Membaca (Harfeey, 2017).

Dalam hal ini, bangsa kita adalah sebuah bangsa yang paradoks. Bangsa kita adalah salah satu bangsa terbesar pengguna Internet dan media sosial di seluruh dunia. Tetapi menggunakan Internet dan media sosial tidak selalu berarti mencerminkan tingkat minat baca tinggi.

Sebelum kita melek teknologi digital, sudah sewajarnya kita melek huruf dalam pengertian tradisional: suka membaca dan menulis. Tetapi bangsa Indonesia tidaklah demikian. Sekalipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, justru teknologi digital dengan media sosialnya saat ini bisa dikatakan membunuh minat baca dan tulis sebagian (besar) masyarakat kita.

Dengan kata lain, dampak dari hobi bangsa yang menggunakan media sosial ini memang sangat buruk terhadap minat baca. Membaca di sini adalah membaca buku. Idealnya, ada hubungan linear antara minat baca dan penggunaan media sosial. Kenyataannya bertolak belakang. Di satu sisi kita bangga pada anak-anak dan anak-anak muda yang technology savvy, tapi di sisi lain kita prihatin karena mereka semakin jauh dari buku-buku berkualitas.

Secara ringkas, teks bisa digolongkan ke dalam dua kategori, teks sastra dan non sastra (informatif).Membaca sastra disebut dengan aesthetic reading, sementara membaca teks informatif disebut dengan efferent reading (Rosenblatt, 1938). Kedua jenis membaca ini saat ini sangat menurun di kalangan semua kalangan. Bahkan mahasiswa sastra dan kalangan dosen pun semakin banyak yang tidak membaca buku.

Waktu kita habis untuk media sosial. Kita memang membaca dan menulis serta menyimak di situ, tetapi kita tidak pernah diajak untuk berpikir kritis dan merenung dengan mendalam. Efeknya, toko-toko buku, apalagi counter buku-buku sastra, menjadi merana karena sepi pengunjung dan pembeli. Novel-novel populer memang masih menarik minat sebagian anak muda, tetapi novel yang masuk dalam kategori “sastra” bisa berdebu karena tidak ada yang membeli, padahal harganya murah, jauh lebih murah dibanding novel-noel populer.

Instagram, Facebook, WhatsApp, Line, Twitter, YouTube dan media sosial lainnya membius kita sejak bangun tidur hingga kita tidur lagi, setiap harinya. Apa yang terjadi di sana? Kita memperoleh hiburan murah dan bisa menikmatinya tanpa harus berpikir. Sementara, kalau kita membaca buku, bukan hanya otak kita yang capai melainkan fisik kita juga. Saat ini, tidak banyak orang yang ingin capai untuk memperoleh hiburan. Teknologi digital dengan media sosialnya menawarkan itu semua kepada kita.

Di media sosial juga tidak ada budaya menulis. Memang orang menulis di media sosial, tetapi lazimnya tulisan pendek, entah satu atau maksimal beberapa kalimat. Tulisan seperti ini bukan tulisan sebenarnya yang memerlukan pemikiran atau pengungkapan gagasan atau konsep. Sebagian besar orang lebih suka mem-forward tulisan apa pun yang bukan tulisan sendiri.

Pengguna media sosial hampir tidak pernah membaca kecuali membaca apa yang mampir di akun media sosial mereka. Orang yang bisa menulis adalah orang yang membaca. Kalau orang tidak membaca, dia tidak akan bisa menulis. Memang untuk mem-forward tulisan orang lain di sebuah media sosial, orang harus membacanya terlebih dulu. Tetapi membaca untuk bisa menulis bukanlah membaca apa pun yang berseliweran di media sosial, melainkan membaca buku, yang berisi konsep dan gagasan, yang membutuhkan waktu khusus, perenungan dan pengendapan. Inilah yang hilang dari menjamurnya media sosial. Kita tidak punya cukup waktu untuk membaca buku-buku serius yang tebal-tebal.

Dengan begitu, media sosial membuat kita tidak berpikir serius. Para siswa kita dan bahkan guru serta dosen, banyak yang mengandalkan mesin pencari (search engine) di Internet untuk tugas-tugas dan pekerjaan serta tulisan mereka.

Internet menawarkan solusi instan tanpa menuntut kita untuk berpikir. Daripada membaca novel yang tebal-tebal atau puisi-puisi Sapardi, misalnya, lebih baik membaca ulasan tentang karya-karya itu di Internet dan kita sudah bisa mengklaim bahwa kita mengetahui dan memahaminya. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa di sekolah siswa tidak dimotivasi untuk membaca.

Saya ingat satu peristiwa ketika anak saya masih SMP dulu; dia dimarahi oleh salah seorang gurunya ketika dia membawa sebuah novel ke sekolah. Bagaimana anak didik kita akan memahami kesusastraan kalau membawa dan membaca novel justru dilarang? Orientasi masyarakat kita sudah jauh berbeda.

Kebijakan Pemerintah

Pada masa Orde Baru, sastra kita mengalami masa keemasan dari segi pengarang dan karyanya. Sekalipun pemerintah Orde Baru tidak memberikan ruang seluas-luasnya kepada para pengarang untuk berkreasi (sebaliknya mereka banyak mengalami represi), kita kaya pengarang idealis yang berorientasi pada nilai-nilai humanisme universal.

Pemerintah Orde Baru tidak memiliki kebijakan agar rakyat banyak membaca sekalipun Orba getol memberantas buta huruf yang hasilnya tentu saja tidak sesuai dengan klaim. Menariknya, justru represi yang dilakukan Orde Baru menjadi inspirasi luar biasa bagi para sastrawan kita dan membuat publik sastra bergairah. Sejarah sastra mencatat, ketika negara begitu kuat dan melakukan represi luar biasa, banyak karya sastra besar muncul.

Sebagai contoh, Uni Soviet atau sebelumnya melahirkan Aleksandr Solzhenitsyn, Fyodor Dostoevsky, Anton Chekov dan sebagainya. Indonesia sendiri melahirkan Pramoedya Ananta Toer (sekalipun sebelum Orde Baru dia juga represif), Mangunwijaya, Umar Kayam, dan seterusnya yang sudah kita sebut di atas.

Pemerintahan pasca Orde Baru, siapa pun presidennya, tidak pernah serius memperhatikan sastra dan kebudayaan secara umum, kecuali dalam undang-undang atau slogan. Dalam kampanyenya pada 18 Juni 2014, di depan Sultan Cirebon Jokowi mengatakan, “Pak Sultan (Arief) tidak perlu khawatir. Komitmen saya untuk masalah budaya dan kebudayaan akan saya buktikan”(https://news.detik.com/berita/d-2612365/di-keraton-kasepuhan-cirebon-jokowi-komitmen-soal-kebudayaan?n991103605=).

Tetapi, seperti presiden-presiden sebelumnya, fokus Jokowi bukanlah di bidang seni sastra dan kebudayaan. Kita harus menerima kenyataan ini sekalipun pahit. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para sastrawan, seniman, dan budayawannya, bukan hanya menghargai mereka yang mengangkat bedil dan meledakkan granat. Bangsa Indonesia masih jauh dari itu, entah sampai kapan.

Tidak adanya kebijakan yang mengikat dari pemerintah agar masyarakat kita menjadi pembaca dan pecinta sastra menjadi salah satu sebab utama terpuruknya sastra kita. Di sisi lain, dunia semakin berorientasi pada kebendaan atau materialisme. Masyarakat kita penjadi masyarakat praktis dan pragmatis.Literasi bangsa kita sangat rendah.

Bangsa yang melek huruf dalam arti sebenarnya adalah bangsa yang suka membaca, di mana pun dan kapan pun.Tetapi kita adalah bangsa yang suka ngobrol dan mengobral kata secara lisan tetapi banyak esensi yang kita lupakan.Padahal, sebagian esensi kehidupan kita ada di dalam karya sastra.

Kita hanya bisa berharap dalam soal ini. Kalau fokus Presiden Jokowi di periode kedua pemerintahannya adalah pengembangan SDM, mencintai buku harus menjadi salah satu prioritas yang perlu digarap. Merevolusi pendidikan kita tanpa membuat masyarakat mencintai buku dan tetap sangat rendah minat bacanya sama saja dengan buang-buang energi.

Mencintai buku dalam arti membacanya harus menjadi kebiasaan bagi bangsa Indonesia. Kita seharusnya belajar bahwa menghabiskan waktu untuk media sosial hanya membuat bangsa ini semakin terpolarisasi dalam berbagai kategorisasi karena dangkalnya intelektualitas dan rasa kemanusiaan kita. Kalau ada kebijakan pemerintah yang bisa membuat kita memiliki minat baca tinggi, sastra Indonesia akan kembali bergairah di masa depan. Wajah Indonesia akan berubah lebih humanis. Oleh karena itu, bantulah Indonesia dengan membaca!

 

Bagaimana Sastra Kita ke Depan?

Kita belum tahu. Sapardi Djoko Damono hanyalah salah satu dari sastrawan kita. Kematiannya tidak akan bisa mengubah kondisi sastra kita dalam waktu dekat. Tetapi, tidak berarti bahwa tidak ada sastrawan muda yang ingin seperti Sapardi.Paling tidak, semangat kepenyairan Sapardi bisa memberikan motivasi bagi para sastrawan muda, bukan hanya di bidang puisi melainkan juga untuk genre lainnya.

Yang jelas, perlu kita tekankan betapa pentingnya kebijakan riil dari pemerintah untuk mengarahkan bangsa ini ke mana.Jaman sekarang terlalu banyak distraksi dan distorsi. Sastra (dan seni lainya secara umum) dianggap semakin tidak penting, apalagi sastra dan seni daerah. Sekalipun ada sebersit cahaya dengan hadirnya para penulis muda, pemerintah harus mengambil kebijakan revolusioner untuk meningkatkan minat baca dan menggairahkan perkembangan sastra kita.

Bangun perpustakaan modern di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten/kota.Adakan lomba-lomba penulisan karya sastra berkualitas dengan hadiah besar (dari sudut pandang sastrawan, meskipun tidak seberapa dilihat dari APBN), wajibkan setiap sekolah memiliki koleksi buku-buku sastra Indonesia dan daerah. Wajibkan guru bahasa Indonesia dan bahasa daerah membaca minimal sekian karya sastra, dan masih diperlukan banyak kebijakan lainnya.

Kalau ini semua dilakukan, kita baru akan memetik hasilnya 20 atau 30 tahun ke depan. Tetapi kalau ini tidak dilakukan, jangan berharap sastra Indonesia dan sastra daerah akan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Berita yang lebih buruk barangkali, nantinya manusia Indonesia akan semakin tidak humanis. Tanda-tanda itu sudah jelas di depan mata. (*)



Berita Terkait


Apa Pendapatmu?