Alexa Metrics

Seks Menyimpang Bernama Fetish, Menghidupkan Imajinasi pada Sebuah Benda

Seks Menyimpang Bernama Fetish, Menghidupkan Imajinasi pada Sebuah Benda Perilaku seks menyimpang bisa dialami siapa saja dan termasuk gangguan mental.

indopos.co.id – Kelainan seksual fetish tengah ramai diperbincangkan masyarakat. Perilaku seks menyimpang itu kini banyak terjadi di masyarakat.

Tapi, masih banyak yang belum tahu apa yang dimaksud fetish dan dampaknya secara kejiwaan. Menurut Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Primaya Hospital Bekasi Barat dr Alvina, Sp.KJ menjelaskan, fetish adalah objek yang tidak hidup.

Sedangkan, fetishism adalah fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menggunakan objek tidak hidup sebagai metode untuk membuat seseorang terangsang secara seksual.

”Seseorang dengan fetishism akan berfantasi seksual atau melakukan perilaku seksual. Misalnya, masturbasi dengan menggunakan benda yang tidak hidup sebagai objek untuk menimbulkan rangsangan seksual,’’ ungkapnya, belum lama ini.

Kemudian, apakah seseorang dengan fetishism termasuk dalam kategori mengalami gangguan jiwa? ”Fetishism sendiri belum tentu gangguan sepanjang tidak menimbulkan distres dan tidak menimbulkan gangguan fungsi. Untuk memenuhi kriteria gangguan jiwa, seseorang dengan fetishism harus mengalami distres yang bermakna dan gangguan fungsi seperti merasa terganggu atau menderita dengan kondisinya. Saat menjadi gangguan, diagnosisnya menjadi gangguan fetihistik,” paparnya.

Untuk memenuhi kriteria diagnosis gangguan fetihistik, jelasnya, seseorang harus memiliki fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang intens dan berulang yang melibatkan objek tidak hidup atau bagian dari tubuh manusia non-genital.

Fantasi, dorongan, atau perilaku ini berlangsung sekurangnya enam bulan dan menyebabkan distres atau gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan personal.

”Saat fetishism sudah menimbulkan distres dan gangguan fungsi, tentu gangguan fetihistik bisa menimbulkan dampak buruk bagi seseorang dengan fetishism. Misalnya, orang tersebut jadi menarik diri dari lingkungan sosial karena gangguan fungsi sosial atau tidak bisa bekerja karena gangguan fetihistik-nya,” katanya.

Bahaya akan timbul bagi masyarakat sekitar bila terjadi tindakan yang melanggar hak-hak orang lain dalam rangka mencari objek fetish. Seperti seseorang mencuri pakaian dalam dan menimbulkan rasa tidak aman bagi lingkungan. Selain itu, lanjutnya, bahaya juga muncul saat anak terpapar dengan penyimpangan seksual yang berpotensi menimbulkan perilaku imitasi.

Sehingga anak lainnya kelak juga mengalami penyimpangan seksual. Dia kembali menjelaskan, dari kriteria diagnosisnya, objek tidak hidup seseorang dengan fethishism tidak termasuk bagian pakaian yang digunakan untuk cross dressing dan bukan alat yang memang di desain untuk memberikan stimulasi genital seperti vibrator.

Fetishism bisa disertai dengan gangguan mental lainnya. Misalnya, orang tersebut juga memiliki gangguan mood seperti gangguan depresi, gangguan cemas, atau gangguan psikotik.

”Jika ditanya apakah seorang dengan fetishism sendiri mengancam keselamatan atau kejiwaan orang lain, maka kita harus kembali lagi bahwa gangguan fetihistik sendiri melibatkan objek yang tidak hidup dan biasanya ada rasa inadekuat, maka konfrontasi secara langsung jarang dilakukan,’’ tuturnya.

Dia mengatakan, fetishism mungkin bisa terjadi saat anak menjadi korban atau melihat perilaku seksual yang menyimpang. Ada teori lain yang mengatakan bahwa seseorang mungkin mengalami kurangnya kontak seksual sehingga mencari pemuasan dengan cara yang lain. (dew)



Apa Pendapatmu?