Alexa Metrics

Waspadai Darurat Tenaga Medis, Karena Corona 80 Dokter Meninggal

Waspadai Darurat Tenaga Medis, Karena Corona 80 Dokter Meninggal Petugas medis mengambil sampel tes swab seorang pasien. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id -Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merilis, sedikitnya 80 dokter meninggal dunia akibat Covid-19. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta, agar pemerintah memprioritaskan perlindungan terhadap dokter dan tenaga kesehatan.

“Tenaga medis harus terlindungi dengan aman dalam menjalankan tugas di masa pandemi. Sebab mereka bekerja di zona yang rentan penularan. Kita tidak ingin ada tenaga medis yang terpapar atau gugur akibat prosedur penanganan Covid-19 yang kurang standar,” ujar Netty Prasetiyani Aher di Jakarta, Jumat (21/8).

Ia mengingatkan, apabila perlindungan terhadap tenaga medis tidak diprioritaskan, maka akan terjadi krisis dokter. Apalagi jumlah dokter saat ini kurang dari 200 ribu orang. Tentu jumlah tersebut jauh dari jumlah penduduk Indonesia.

“Jika perlindungan terhadap dokter tidak efektif, bukan tidak mungkin kita akan mengalami krisis dokter dan tenaga medis,” tegasnya.

Ini sejalan dengan apa yang disampaikan Ketua Satgas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo mengungkapkan jumlah dokter paru di Indonesia, yakni 1,976 orang. Dengan tersebut, kata dia, satu dokter jumlah harus melayani sekitar 245 ribu warga.

“Semua pihak harus terlibat dalam melindungi dokter dan tenaga medis sebagai aset bangsa yang berharga,” katanya.

Caranya, lanjut Netty, setiap orang harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Seperti memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Ia meminta, agar kebijakan perlindungan terhadap dokter dan tenaga medis. Dengan menindaklanjuti secara kongkret di lapangan. Seperti kepastian ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang standar dan layak di setiap tingkat pelayanan kesehatan serta ketersediaan fasilitas penunjang layanan terhadap pasien Covid-19.

“Ini serius. Harus jadi perhatian pemerintah, jangan ada lagi kekurangan APD atau peralatan medis untuk penanganan pasien Covid-19,” ungkapnya.

Belajar kombinasi Terkait dunia pendidikan selama pandemi COVID-19, pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Harun Joko Prayitno meminta pemerintah menerapkan metode pembelajaran kombinasi atau perpaduan antara tatap langsung dengan daring selama masa pandemi COVID-19.

“Harus ada kombinasi antara tatap muka dengan daring. Ini upaya mengurangi stresnya pembelajaran secara online,” katanya di Solo, Jumat.

Ia mengatakan pembelajaran skala kecil berbasis protokol kesehatan tetap harus diadakan. “Jadi jangan ditiadakan sama sekali. Meski demikian, model penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas perlu digeser ke tempat yang lebih terbuka. Kalau dikristalisasi COVID-19 itu kan hanya berlangsung di interaksi jangka pendek, rumah yang ketat, tidak ada ruang terbuka,” katanya.

Ia juga berharap agar citra sekolah sebagai tempat untuk menuntut ilmu tidak dijadikan seolah menakutkan di mana menjadi sumber penyakit atau dianggap sumber penularan COVID-19.

“Kalau begitu maka anak akan mengalami trauma panjang. Kalau kementerian mengadakan pendidikan tatap muka sampai Desember berarti kan 10 bulan. Ini namanya kepunahan pendidikan, ke depan sekolah ‘nggak’ ada, hanya ada pendidikan. Ini yang perlu diluruskan,” katanya.

Ia menilai pendidikan secara daring selama ini tidak hanya berdampak pada stresnya siswa, tetapi juga orang tua dan guru. Oleh karena itu, menurut dia, kondisi tersebut harus dicairkan dengan pentingnya penanaman pendidikan dan kesehatan pada siswa.

“Perlu ditekankan kebersihan dan kesehatan untuk menuju sekolah, yang paling bagus ya blended learning,” katanya. (nas/ant)



Apa Pendapatmu?