Alexa Metrics

Sulap Lahan Kosong Tanami Sayur untuk Bantu Kebutuhan Warga Setempat

Sulap Lahan Kosong Tanami Sayur untuk Bantu Kebutuhan Warga Setempat Nurcholis atau yang biasa disapa Pakde Cholis oleh warga, memanfaatkan lahan tidur untuk berkebun (Foto: Iqbal/INDOPOS)

Indopos.co.id – Di tengah pandemi COVID-19, PHK melanda dan membuat sulit masyarakat mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memanfaatkan lahan kosong untuk berkebun menjadi salah satu solusi. Setidaknya untuk menghasilkan makanan sekadar mengganjal perut. Persis di bawah Tol Becakayu (Bekasi-Ca wang-Kampung Melayu) Kalimalang, Jakarta Timur, terdapat hamparan kebun yang ditanami sayuran dan budidaya ikan lele, serta ikan patin.

Pria yang akrab disapa Pakde Cholis oleh warga sekitar yang memanfaatkan lahan tidur untuk berkebun. Beberapa waktu lalu, ketika INDOPOS menyambangi kediaman Pakde Cholis, memasuki beberapa gang sempit, tak jauh dari lahan tidur itu. Pakde Cholis yang nama sebenarnya Nurcholis, 61, ketika itu ditemui sedang terbaring sakit demam.

“Pakde masih sakit ini, demam panas, masuk sini Mas,” ujar Pakde Cholis dengan ramah. Mengenakan kain sarung dan kaos lengan panjangnya, Pakde Cholis yang juga pedagang baso keliling itu menuturkan, sudah tiga tahun belakangan ini memanfaatkan lahan tidur itu untuk ditanami sayuran hijau. Berkebun di lahan sekitar 20X10 meter persegi itu dia tanami sayuran sawi, bayam hijau, singkong, jagung, terong, kacang ijo, pisang, pepaya.

“Manfaatnya bukan untuk sendiri. Kalau ada warga setempat yang ingin hasilnya ya dikasihkan. Yang penting bilang,” ungkap dia sambil masih merasakan kepalanya cenat-cenut. Di rumah sederhananya itu, ucap Pakde, di rinya juga budidaya ikan lele dan patin dengan memanfaatkan got.

“Ya, sama ini kalau ada yang butuh. Ada yang minta ya dikasih ke warga. Kan bermanfaat buat orang lain juga,” tuturnya sambil tersenyum. Untuk pengairan, Pakde Cholis memanfaatkan air limbah mandi warga setempat. Makanya tetap hijau sayurannya.

Termasuk pohon pisang dan singkong. Sebelum Tol Becakayu ini berdiri kokoh, Pakde Cholis sudah berkebun. Bahkan, sebelumnya juga sudah izin dengan pihak terkait. Pria asal Nganjuk, Jawa Timur itu me nambahkan, dulu waktu dia masih jomblo sempat bekerja sebagai buruh di Pabrik Maspion, Surabaya, Jatim.

“Tiga tahun di Surabaya hingga akhirnya ke Jakarta,” akunya mengingat kenangan itu. Di Jakarta, ia sambil berjualan Baso Malang sejak 1981. “Dari mulai baso pikul dengan sistem setoran sampai sekarang masih jualan baso. Dulu, semangkok baso harganya masih 25 perak, sebulan b i s a dapat R p 1 7 ribu sudah Alhamdulillah,” beber dia.

Tapi kini , Pakde Cholis sudah berjualan sendiri. Semangkok baso Rp15 r i b u . Berani kredit motor untuk berjualan baso keliling. Pernah juga jual es campur. Hanya saja, di era 1990-an. ru mahnya di Ja lan Swadaya 3, Pasar Ciplak Lama l,  RT2/1, Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, mengalami kebakaran hingga gerobaknya ikut dilalap api.

“Jadi merin tis awal la gi bikin ge robak baso,” kata dia sedih. Sambil menggulung kain sarungnya yang sedikit melorot, Pakde Cholis menambahkan, sejak saat itu dia dan isteri tercintanya Satinah, 55, mulai merintis lagi berjualan baso keliling sampai dapat menyekolahkan ketiga anaknya sekolah.

“Kalau untuk bahan-bahan baso, isteri saya sudah dikasih catatan juga. Jadi dalam pembuatannya, baso itu memakai daging 14 kilogram, sagu 1 kilo 1/4, tetelan 3 kilogram. Tetelan itu penting, agar kuahnya gurih,” akunya memberi resep. Konsumennya atau pemesannya tak hanya di lingkup Jakarta saja. “Yang pesen basonya ada yang sampai Cilangkap juga Mas,” kata dia.

Sulap Lahan Kosong Tanami Sayur untuk Bantu Kebutuhan Warga Setempat

Kini, Pakde Cholis dan sang istri tinggal berdua saja di rumah sederhana itu. Sebab, kedua anaknya sudah mapan. Ada yang bertugas di Auri dan menjadi bidan. Hanya si bungsu yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Kalau cucu sudah 4 dan perempuan semuanya dari anak pertama dan kedua saya,” tambah dia. Akan tetapi, untuk berjualan baso, Pakde Cholis sudah tidak seperti saat masih muda.

“Maklum sudah tua, jualan baso keliling sudah tak seperti muda dulu. Kini kuat jualan satu minggu paling hanya dua kali saja,” imbuh dia. Nama ‘Baso Cak Cholis Jatim’, sudah diketahui sebagian besar warga Komplek Auri.

“Banyak Komandan Skuadron yang kenal saya,” tutur dia sambil tersenyum tak sombong. Belakangan ini, di era industri 4.0 Pakde Cholis tidak menutup mata akan kemajuan teknologi. Berjualan baso saat ini bisa online, cukup pasang status di Whatsapp maka siapa yang pesan online langsung segera dikirim paketan basonya.

“Yang penting rasanya enak. Sedapatnya rejeki, kalau sudah seharian keliling jualan dapat Rp 700 ribu. Syukuri saja sore sudah bisa pulang,” tandas dia sambil mengajak melongok kebunnya.

Sambil membawa arit, Pakde Cholis dan INDOPOS berjalan kaki menyusuri beberapa gang menuju kebun yang sudah siap di panen tersebut.

“Sepulang jualan baso keliling, saya terkadang langsung cek kebun yang bermanfaat bagi warga sekitar ini,” kata dia menutup pembicaraan dan perjumpaan yang hangat itu. (ibl)



Apa Pendapatmu?