Alexa Metrics

Sudah Kantongi Tiket ke Tokyo 2021, Atlet Panahan Riau Ega Dibuang dari Pelatnas

Sudah Kantongi Tiket ke Tokyo 2021, Atlet Panahan Riau Ega Dibuang dari Pelatnas

indopos.co.id – Mantan Sekjen PB Perpani, Rizal Barnadi angkat bicara soal kemelut yang terjadi di pelatnas panahan Olimpiade yang mengakibatkan pencoretan tiga atlet elit asal Jawa Timur, Riau Ega Agata Salsabila, Diananda Choirunisa,  dan Asiefa Nur Haensa.

“Kemelut ini harusnya tidak perlu terjadi jika semua pihak lebih mengutamakan kepentingan prestasi panahan di Olimpiade Tokyo 2021,” kata Rizal Barnadi yang dihubungi melalui WhatsApp di Jakarta, Jumat (21/8).

Seperti diketahui PB Perpani mencoret Riau Ega Agata Salsabila, Diananda Choirunisa, dan Asiefa Nur Haensa dengan alasan indisipliner dan memaksakan kehendak untuk menjadikan Denny Trisjanto sebagai pelatihnya.

“Penolakan Denny Trijanto menjadi pelatih pelatnas itu masalah klasik. Saat persiapan pelatnas panahan SEA Games Manila 2019  pun pernah terjadi. Namun, Pak Kelik selaku Ketua Umum PB Perpani mampu menyelesaikannya dengan mengakomodasikan semua kepentingan,” jelas Rizal Barnadi.

Ketika disinggung persoalan apa yang menyebabkan terjadinya penolakan Denny Trisjanto, Rizal Barnadi menjawab,”Tak etis jika saya menjelaskannya. Yang pasti, Bu Illiza Sa’aduddin harus mencari akar permasalahan sehingga kemelut tidak terjadi lagi. Ya, kita memang tidak bisa menyalahkan Bu Illiza sepenuhnya karena baru pertama kali memimpin organisasi olahraga.”

Jika berbicara masalah keinginan Illiza Sa’aduddin meraih medali di Olimpiade Tokyo 2021 mengulang prestasi trio srikandi Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusumawardani yang meraih perak di Olimpiade Seoul 1988, kata Rizal, ketiga atlet elit asal Jawa Timur itu harus tetap dipertahankan. Apalagi, Riau Ega dan Diananda sudah membuktikan kemampuannya. Tiket ke Olimpiade Tokyo 2021 itu diraih setelah Riau Ega yang akrab dipanggil Sinchan meraih medali perunggu nomor recurve putra dan Diananda Choirunisa yang panggilan akrabnya Anis mendapatkan perak nomor recurve putri.

“Mereka pantas dipertahankan karena pemanah terbaik Indonesia saat ini. Dan, kita juga harus mengakui bahwa Denny Trisjanto adalah pelatih terbaik. Bukan hanya mencetak Riau Ega dan Diananda, tetapi Denny yang menjadi Ketua Umum Pengprov Perpani Jatim yang paling sukses memimpin organisasi panahan dengan mencatat satu-satunya Pengprov Perpani yang meloloskan atletnya tampil di semua nomor yang dipertandingkan pada PON Papua 2021,” ungkapnya.

Rizal juga sepakat terlalu riskan jika PB Perpani tetap ngotot untuk menggantikan ketiga atlet asal Jawa Timur tersebut. Pasalnya, ia paham benar prestasi atlet pengganti belum mampu menyamai prestasi yang dicetak ketiganya. ““Yang saya tahu Riau Ega dan Diananda masih atlit terbaik di Indonesia baik dari segi skor maupun mental,” ungkapnya.

Dia juga mengimbau agar kemelut yang terjadi ini cepat diselesaikan sehingga tercipta suasana yang kondusif di pelatnas panahan Olimpiade. “Kondisi yang kondusif itu sangat penting karena olahgraga panahan itu butuh ketenangan dan kenyamanan dalam upaya Atlet Panahanmeningkatkan prestasi sehingga keingingan meraih prestasi di Tokyo bisa terbuka lebar,” tandasnya

Sementara itu, Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Joko Pekik Irianto merasa prihatin dengan kemelut pelatnas panahan Olimpiade.

Apalagi, mantan Deputi IV Kemenpora ini mengetahui persis bahwa permasalahan pelatnas ini sering terjadi.

“Terus terang, saya sangat prihatin karena permasalahan pelatnas panahan saat ini muncul kembali. Ini tidak perlu terjadi apalagi persiapan menghadapi Olimpiade Tokyo 2021 dimana persaingan sangat ketat untuk mendapatkan medali. Polemik yang terjadi harus diselesaikanj dan ada solusi terbaik,” kata Joko Pekik yang dihubungi melalui WahtsApp, Jumat (21/8).

“Atlet adalah aset bangsa dan negara. Apalagi, mereka yang terbaik dan berjasa mendapatkan tiket ke Olimpiade Tokyo 2021 Jadi, PB Perpani harus mengutamakan kepentingan negara yang menginginkan prestasi maksimal di Tokyo nanti,” tegasnya.

Joko Pekik juga menyesalkan sikap Ketua Umum PB Perpani, Illiza Sa’aduddin yang tetap ngotot dengan keputusan mencoret ketiga atet Jawa Timur tersebut dan tidak memenuhi permintaan mereka mempertahankan pelatih Denny Trisjanto.

“Ketum PB Perpani perlu data yang valid  dengan mengajak bicara semua pihak termasuk atlet. Pelatih memang harus punya modal utama kompetensi kognitif dan skill, namun jangan dilupakan aspek psikososial (misalnya kecocokan dengan atlet),” ungkapnya.

Dalam penyelesaian polemik pelatnas panahan Olimpiade, Joko Pekik meminta KONI Pusat berkoordinasi dengan KONI Jawa Timur dan Denny Trijanto yang juga Ketua Pengprov Perpani Jawa Timur. Apalagi, KONI Jatim dan Pengprov Jatim telah menjalankan komitmen dengan program pemusatan atlet daerah (pelatda) sejak SEA Games Manila 2019 dalam upaya mempertahankan performance ketiga atlet andalannya yang bakal diterjunkan pada PON Papua 2021.

“Jangan biarkan kemelut ini berkepanjangan. KONI Pusat harus koordinasi dengan KONI Jatim dan Denny untuk menyelsaikan sehingga pelatnas panahan Olimpiade bisa berjalan dengan kondusif dan keinginan mencapai prestasi di Tokyo nanti bisa terwujud. Soal pelaksanaan pelatnas dilakukan dengan sentralisasi atau desetralisasi tinggal dipilih saja mana yang terbaik di tengah pandemi Covid 19 ini, ” imbuhnya. (bam)



Apa Pendapatmu?