Alexa Metrics

Korban Konflik Lahan Trauma, Pemprov NTT Bangun Rumah Layak Huni

Korban Konflik Lahan Trauma, Pemprov NTT Bangun Rumah Layak Huni Warga Pubabu, TTS menjadi korban penggusuran Pemerintah NTT bertahan hidup di bawah pohon. (Foto ANTARA)

Indopos.co.id -Anak-anak Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami trauma mendalam. Anak-anak korban konflik lahan tersebut berada dalam tekanan. Menangis sepanjang hari menyusul tindakan intimidatif aparat keamanan.

”Sampai sekarang anak-anak kami menangis terus, mengalami trauma berat,” tutur warga Besipae, Matheda Esterina Selan, di Kupang, NTT, Jumat (21/8).

Trauma berkepanjang itu akibat tindakan intimidatif aparat keamanan. Di mana, saat terjadi penggusuran lahan pada Selasa (18/8) lalu, aparat menembakkan gas air mata untuk menghalau warga Besipae. Peristiwa itu, didokumentasikan dalam bentuk video dan beredar luas di media sosial.

Di tengah kerumuman warga tilak hanya kalangan dewasa. Ada bayi berusia dua bulan, tiga bulan, tujuh bulan, anak-anak usia pendidikan anak usia dini (PAUD), dan sekolah dasar (SD).

”Anak-anak itu kaget dan ketakutan hingga sekarang terus menangis. Tembakan gas air mata itu dilakukan tiga kali dan terakhir persis di samping tempat kami berkumpul bersama anak-anak,” beber ibu tiga anak itu.

Esterina meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT menghentikan tindakan intimidatif. Tindakan represif itu, menimbulkan ketakutan luar biasa bagi warga terutama anak-anak. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT Tory Ata mengaku ada 29 kepala keluarga (KK) warga Pubabu, Kabupaten TTS, menjadi korban penggusuran Pemprov NTT, tinggal di bawah pohon.

Sebagian tidur beralaskan tanah karena hanya ada tiga lembar tikar. Itu hasil investigasi LPA NTT terhadap konflik masyarakat adat Pubabu-Besipae, Kabupaten TTS dengan Pemprov NTT tentang hak milik atas tanah adat dan hak pakai oleh Pemprov NTT. Pada lokasi, terdapat satu periuk besar, beberapa alat makan, gelas plastik, beberapa jerigen air.

Makanan, pakaian, dan barang-barang di tumpuk menjadi satu di sebuah rumah dekat petugas penggusur dan aparat keamanan. kondisi rill ibu dan anak terdiri dari laki-laki 34 orang, ibu-ibu 50 orang, lansia enam orang, pemuda lima orang.

Anak-anak berjumlah 48 orang. SMA delapan orang, SMP tujuh orang, SD 17 orang, dan PAUD 15 orang. Ada bayi dua orang, ibu hamil dua orang (5 bulan dan 6 bulan), dan ibu menyusui enam orang. Umur bayi 2 bulan, 4 bulan, 7 bulan, 1 tahun (2bayi) dan 1,5 tahun. Sementara Pemprov NTT menambah sembilan unit rumah untuk warga Pubabu Besipae, Kabupaten TTS.

Berdasar rencana, tambahan rumah itu akan dibangun pada Senin 24 Agustus mendatang. Rumah itu, dibangun untuk merelokasi sembilan kepala keluarga (KK) pemilik rumah di kawasan hutan Pubabu. Sembilan unit rumah itu sebenarnya sudah dibangun sebelumnya, tetapi ada keberatan dari warga Desa Linamnutu bersama beberapa tokoh adat.

Korban Konflik Lahan Trauma, Pemprov NTT Bangun Rumah Layak Huni

Pilih Jalan Dialog

Sementara Kepala Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT Zeth Sony Libing mengaku segera memperluas dialog untuk menangani konflik lahan di Pubabu Besipae, Kabupaten TTS, Pulau Timor.

”Kami akan memperluas dialog dan melibatkan banyak elemen,” tegas Zeth. Itu sejalan langkah Pemprov NTT menangani konflik lahan Pubabu Besipae, Kabupaten TTS melalui jalan dialog. Sebagai langkah awal, akan turun ke Besipae menemui kelompok warga dan tokoh adat.

Setelah itu, akan berdialog dengan melibatkan seluruh komponen dalam konflik lahan tersebut.

”Kami tetap mengutamakan upaya persuasif melalui jalan dialog dengan warga,” bebernya. Sambil upaya dialog berjalan, program pemerintah seperti pemberdayaan masyarakat dan pembangunan rumah untuk masyarakat di Besipae juga tetap berjalan. Pemprov NTT berkomitmen memanfaatkan aset lahan Besipae bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sejumlah program ekonomi sudah disiapkan. Meliputi pengembangan peternakan sapi, hijauan pakan ternak, dan bidang pertanian berupa budidaya tanaman lamtoro, porang, dan kelor.

”Kami menyediakan bibit dan pupuk untuk masyarakat dan hasil kerja dibeli BUMD atau pemerintah,” tegas Zeht. Sebelumnya, Zeth membantah aparat keamanan melakukan tindakan anarkis terhadap warga Pubabu Besipae.

”Tidak ada tindakan represif, intimidasi, dan penelantaran masyarakat di Pubabu. Tndakan aparat keamanan hanya shock therapy,’” elaknya.

Menurut dia, pemerintah sudah selesai membangun rumah untuk menggantikan rumah warga yang telah digusur. Namun, karena warga bersikeras sehingga aparat sengaja menembak gas air mata ke tanah dengan tujuan agar warga bisa masuk ke rumah yang disediakan tersebut. (ant)



Apa Pendapatmu?