Alexa Metrics

Tidak Kalah Ganas dengan COVID-19, Jangan Teledor DBD Ancaman Serius

Tidak Kalah Ganas dengan COVID-19, Jangan Teledor DBD Ancaman Serius Petugas melakukan pengasapan (fogging) di lingkungan Perumahan Grand Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/7). Pengasapan mengantisipasi penyakit DBD Jabar sebagai provinsi tertinggi DBD. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak bisa dianggap enteng. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) medio tahun ini, mencatat DBD telah menembus 71.633 kasus. Selama periode itu, DBD telah merenggut 459 orang.

Sejumlah provinsi menjadi penyumbang terbesar kasus DBD secara nasional. Misalnya, Jawa Barat (Jabar) urutan pertama 10.772 kasus, Bali 8.930 kasus, Jawa Timur (Jatim) 5.948 kasus, Nusa Tenggara Timur (NTT) 5.539 kasus, Lampung 5.135 kasus, DKI Jakarta 4.227 kasus, Nusa Tenggara Barat (NTB) 3.796 kasus, Jawa Tengah (Jateng) 2.846 kasus, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2.720 kasus, dan Riau 2.255 kasus. DBD telah menelan 459 orang.

Jabar 92 orang, NTT 56, Jatim 53, Jateng 42, Lampung 22, Sulawesi Selatan 19, Riau 19, Bali 18, Banten 16, dan NTB 13 orang. Angka kematian DBD itu lebih tinggi dibanding 2017 di kisaran 243, dan edisi 2018 sebanyak 158 orang. Kabupaten/kota mencatat kasus DBD paling tinggi Buleleng-Bali 2.677 kasus, Badung-Bali 2.138 kasus, Kota BandungJabar 1.748, Sikka-NTT 1.715, Jakarta Timur 1.365.

Kabupaten/kota dengan kematian paling tinggi Tasikmalaya-Jabar 16 orang, Sikka-NTT 15, Cirebon-Jabar 11, Belu-NTT 9, dan Kota Bandung-Jabar 9.

Merespons data itu, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, mengaku serius menangani penyakit DBD. Untuk sementara, seluruh NTT ada 54 orang korban meninggal dunia. Karena itu, tahun depan NTT harus nol kasus kematian. ”Setiap saat berhadapan dengan demam berdarah, tetapi kok korban mati terus, bahkan bertambah,” sesal Viktor.

Perlu kerja taktis, gerakan besar, dan kampanye-kampanye hebat. Itu penting untuk melatih masyarakat terhindar dari serangan DBD. Masyarakat harus dilatih hidup bersih, dilatih tidak ada jentik nyamuk di tingkat RT.

”Harus ada langkah luar biasa, lompatan kerja, semangat harus dibangun dengan tim kerja solid,” ucap Viktor. Sementara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar menerapkan mekanisme Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mencegah dan menekan kasus DBD.

Mekanismenya berdasar laporan di lapangan dan petugas kesehatan. Nanti, petugas survei puskesmas mengirim data ke kabupaten melalui SMS. Selanjutnya, data dientri dan dianalisis kabupaten. Setelah itu dikirim melalui e-mail ke provinsi dan pusat memakai perangkat lunak khusus dapat menghasilkan peringatan dini sesuai tempat, waktu, dan jenis penyakit.

Kalau dalam analisis muncul alert atau signal, kabupaten melakukan verifikasi data, penyelidikan epidemiologi, konfirmasi laboratorium, dan penanggulangan sesuai situasi dan kondisi. Selain itu, menambah petugas pemantauan jentik berkala melalui Program 1R1J (1 Rumah 1 Jumantik). Lalu memberantas sarang nyamuk dengan metode 3M.

Menguras penampung air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain. Menutup rapat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan memanfaatkan kembali barang bekas berpotensi menjadi tempat berkembangbiak nyamuk. (raf/ant)



Apa Pendapatmu?