Alexa Metrics

Final Liga Champions PSG vs Bayern Munich, Tergantung Astronout Bernama Muller

Final Liga Champions PSG vs Bayern Munich, Tergantung Astronout Bernama Muller Penyerang Bayern Munich Thomas Muller.

indopos.co.id – Tidak mungkin final Liga Champions ini berakhir 0-0. Setidaknya ada gol entah dari Kylian Mbappe, Neymar, Angel di Maria, Robert Lewandowski, Thomas Muller atau Serge Gnabry atau siapa pun yang melakukannya. Ingat, Bayern Munich menerapkan garis pertahanan tinggi. Sekarang semuanya tergantung kepada Paris Saint Germain. Bisakah PSG memanfaatkan garis pertahanan tinggi itu?

Sistem garis pertahanan tinggi itu jadi perbincangan hangat jelang laga pamungkas Liga Champions di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal dini hari nanti. ’’Cara Bayern Munich itu sangat tidak biasa. Padahal, sistem pertahanan seperti itu justru membuka ruang kepada Mbappe untuk melakukan eksploitasi,’’ ucap pandit sepak bola Martin Samuel yang dilansir Sportsmail, Sabtu (22/3/2020).

Meskipun Mbappe senang diberi ruang leluasa, kata Samuel, ia tidak melihat tim Jerman itu mengubah sistem mereka. Bayern, tak terkalahkan dalam 29 pertandingan, terbiasa menang dengan cara tertentu. Mereka menekan untuk memenangkan bola kembali, mereka mendorong bek sayap ke depan. Dengan demikian, konsentrasi pertahanan sangat terbuka.

Itu mungkin membuat Bayern Munich mengalahkan Barcelona 8-2, Chelsea 7-1, dan Tottenham 10-3 dalam dua leg. Itulah risiko yang bila perlu harus dibauar mahal. Di perempat final, Barca sebenarnya bisa mencetak empat gol dalam 10 menit menit awal. Di semifinal, Lyon seharusnya membuka keunggulan. Tapi Bayern menang di kedua pertandingan tersebut. Muller menciptakan ruang untuk rekan satu timnya untuk menjelajahi jengkal demi jengkal pertahanan lawan.

Itulah yang membuat final ini sangat menarik. Artinya, Bayern tahu mereka mungkin kebobolan, tapi mereka juga yakin bisa mencetak gol sendiri. Dari semua nama bintang, Muller sangat menarik dalam cara dia memberi ruang untuk dirinya sendiri dan rekan satu timnya.

Di Jerman, nama panggilannya adalah Raumdeuter (baca Raumdoiter, red) atau astronaut penyelidik luar angkasa. Kalau tidak yakin betul, cobalah lihat kembali video kemenangan 3-0 atas Lyon. Anda akan melihatnya memainkan peran tak terlihat di setiap gol.

Gol pertama di semifinal, misalnya. Muller berlari. Itu memaksa bek Lyon Marcelo mengikutinya. Konsekuensinya, itu akan membuka ruang bagi Gnabry sebelum mencetak gol. Untuk gol kedua, serangannya ke kotak dekat garis gawang ditandai dengan pegerakan Lewandowski yang bebas di belakang. Bola mental tembakan striker mampir di kaki Gnabry yang dengan tenang menceploskan ke gawang kosong.

Untuk gol ketiga, Muller menempatkan dirinya di antara dua pemain belakang Lyon. Marcelo adalah orang di belakangnya. Ia terpancing dan terlalu asyik untuk memperebutkan bola dengan benar. Akibatnya, dia kalah duel di udara lawan Lewandowski. Itulah yang dilakukan Muller.

Saya mendukung juara Jerman untuk memenangkan trofi tetapi, ingat kata-kata saya, akan ada gol. Prediksi skor: 3-2 untuk Bayern.(max)



Apa Pendapatmu?