Final Liga Champions PSG vs Bayern Munich, Renaisans ala Neymar

indopos.co.id – Hingga kemarin, Lisbon seolah-olah tidak sedang menjadi tuan rumah pertandingan terbesar antarklub Eropa. Tidak ada penggemar yang berkerumun di bar. Tidak ada pasar gelap dan seliweran orang berebut tiket.

Jika PSG bisa mengalahkan Bayern Munich, Neymar akan menjadikan Paris Saint-Germain sebagai klub besar. Jangan salah paham. PSG sudah besar menurut standar kebanyakan. Mereka didanai oleh negara bangsa yang kaya. Mereka punya beberapa pemain terbaik dunia. Mereka satu-satunya klub penting di ibu kota mode Eropa yang romantis itu. PSG memang sangat besar. Namun proyek besar itu belum menghasilkan prestasi besar pula.

Baca Juga :

PSG ingin dianggap masuk jajaran elit, kelompok kecil klub istimewa yang kerap menjadi episenter sepak bola Eropa. Bayern, lawannya dini hari nanti, adalah anggota pendiri klan itu. Dan, prasyarat untuk masuk adalah dinobatkan sebagai juara Eropa.

Kurang apa dengan latar belakang klub yang dananya berasal dari Qatar itu. Memenangkan Liga Champions bersama PSG adalah bagian dari penyusunan kepingan yang hilang. Jka PSG menang, revolusi mereka yang terinspirasi oleh Neymar baru membuahkan hasil.

Baca Juga :

Klub sebesar PSG, di kota seindah Paris, memenangkan sebuah pertarungan elite akan mengerek prestise PSG sebagai salah satu klub yang masuk klan elit itu.

Neymar memang tidak sendirian. Namun dia bisa mengubah narasi di PSG. Transfernya, dari Barcelona pada 2017, menginspirasi perubahan ini. Pada hari PSG memenuhi klausul pembelian senilai 199,8 juta pounds atau 222 juta euro, sepak bola, pada akhirnya, sudah bergeser. Neymar tak dibeli hanya untuk menang Ligue 1.
Monaco adalah juara musim itu, tetapi PSG telah memenangkan empat gelar sebelumnya dan Neymar atau tidak.

Baca Juga :

Musim ini, sudah ada satu transformasi luar biasa untuk klub. Setahun lalu, Neymar absen pada laga pembukaan musim melawan Nimes. Setelah musim panas, Neymar mengaku datang ke Paris sebagai sebuah kesalahan.

Pernyataan itu bikin fans PSG membencinya. Sumpah serapah ta terkira dahsyatnya. Spanduk besar bertuliskan ‘Neymar tersesat’ seringkali berseliweran di berbagai sudut tertentu Kota Paris. Nah, inilah saatnya Neymar membuka pipa perdamaian dengan suporter PSG.

Ingat, Neymar tidak bermain dalam empat pertandingan grup awal PSG. Ia juga gagal memaksa Barcelona membelinya kembali. Penampilan pertamanya di kompetisi musim ini adalah pada 26 November.

Sejak itu, wow. Neymar mencetak gol dalam delapan pertandingan berturut-turut antara 4 Desember dan 15 Januari. Liga domestik dibatasi pada Maret, dengan PSG diakui sebagai juara unggul 12 poin dengan satu pertandingan di tangan atas urutan kedua Marseille. Tapi pemulihan hubungan dengan fans sudah dimulai.

Pada pesta ulang tahunnya yang ke 28 di klub malam Paris yang mewah, bertema putih, dia mengenakan setelan putih yang serasi dan topi trilby, tentu saja – Neymar mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya dia benar-benar bahagia berada di kota itu dan akan melakukan apa saja untuk itu, termasuk membantu PLSG memenangkan trofi terbesar.

Jadi jika PSG menang, klub itu akan menjadi besar dalam arti sesungguhnya. Pembenaran bukan hanya untuk proyek tersebut, tetapi juga proses sentuhan transformatif dari seorang bos besar. Karena meski Neymar bukan satu-satunya bintang di PSG, kehadirannya selalu mengubah persepsi, mengangkat prestise PSG. Artinya, juara akan menepis refleksi buruk orang bahwa klub itu semata representasi proyek kesombongan orang kaya.

Kylian Mbappe juga direkrut dengan harga mahal, tetapi eksistensi pemain muda terbaik untuk klub terbesar di Prancis praktis tidak mengejutkan. Angel di Maria telah menjadi pemain terbaik musim ini tetapi, sekali lagi, dia telah bermain di klan klub terbesar dunia, Benfica, Real Madrid, dan Manchester United.

Neymar adalah penandatanganan marquee. Artinya, orang yang akan selalu memungkinkan Paris bisa menjadi tujuan bagi pemain muda yang ingin mengambil langkah selanjutnya. Dan, saat Barcelona berusaha sekuat tenaga membangun kembali skuad yang menua, mereka akan melihat Neymar, pada usia puncak prestasi.

Tak heran jika komplotan elit tradisional itu menjadikan Liga Champions mirip toko tertutup. Munich ada di antara mereka. Seluruh skuad Munich untuk kemenangan semifinal melawan Lyon menelan biaya 90,13 juta pounds. Jumlah ini kurang dari setengah biaya untuk Neymar. Angka-angka itu akan terlihat sangat berbeda jika Robert Lewandowski tidak membiarkan kontraknya turun di Borussia Dortmund dan mau datang ke Munich dengan gratis.

Akan tetapi, Munich adalah perekrut yang luar biasa. Serge Gnabry dan Alphonso Davies menelan biaya gabungan 16,2 juta. Tetapi ada perbedaan besar antara membeli pemain elit dan mendidik pemain sampai jadi.

Munich akan tetap menjadi favorit. Paling tidak karena kemenangan 8-2 mereka atas Barcelona. Hasil itu membuat orang teringat lagi dengan hasil Jerman 7 Brasil 1 di Piala Dunia 2014. Nah, Neymar tentu tak ingin terpuruk dengan memori buruk itu.(max)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.