Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Wajar Isu Sabotase Muncul

indopos.co.id – Di banyak grup Whatsapp. Sebagian mencurigai ada sabotase di balik kebakaran gedung Kejaksaan Agung. Mereka menduga gedung ini sengaja dibakar untuk menghilangkan jejak kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani Korps Adhyaksa. Meski Menko Polhukam menyatakan yang terbakar itu ruang SDM dan Intelijen dan tidak mengganggu proses hukum, tetap saja publik masih curiga. Mengapa persepsi seperti itu bisa terjadi?

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun mengatakan, munculnya kecurigaan publik terhadap tragedi kebakaran di Gedung Kejagung karena peristiwa itu terjadi saat libur panjang. Bahkan, kebakaran itu muncul saat Kejagung tengah memproses berbagai kasus hukum korupsi besar di dalam negeri. Mulai kasus korupsi di Jiwasraya hingga kasus Djoko Tjandra.

’’Ini yang memicu publik curiga ada sabotase di tragedi kebakaran gedung Kejagung. Dari segi sosial ini muncul karena lembaga ini sedang memproses kasus korupsi besar. Sebelum ada kasus ini ditangani Kejagung, tidak ada peristiwa semacam ini,’’ katanya saat dikonfirmasi sejumlah jurnalis, Minggu (23/8).

Menurut Ubeidillah, dugaan publik terhadap adanya sabotase dalam kebakaran ini sangat wajar terjadi. Alasannya, proses pengungkapan kasus korupsi besar yang ditangani lembaga itu belum selesai.

’’Itu tidak salah karena isu apapun cepat sekali berkembang. Kan kemunculan ini terjadi karena belum terungkapnya pemicu kebakaran. Dan publik melihat sebelum ada kasus besar yang ditangani Kejagung, tidak ada peristiwa seperti ini,’’ ujar Ubedillah.

Dalam penilaian Ubedillah, selama ini proses penegakan hukum kasus korupsi selalu ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sedangkan Kejagung sama sekali belum memunculkan produk hukum seperti dikerjakan lembaga antirasuah.

Baca Juga :

’’Contohnya KPK dalam pengungkapan kasus korupsi besar, salah satu tragedi yang terjadi penyidiknya disiram air keras. Nah begitu pula yang mungkin terjadi di Kejagung terkait kebakaran itu. Praduga-praduga ini yang sering membuat isu lain bertebaran di publik,’’ paparnya.

Yang membuat isu sabotese ini berkembang, lanjut Ubedillah, publik mempertanyakan sistem keamanan kebakaran yang diterapkan pemerintah di gedung-gedung kementerian/lembaga negara. Lantaran setiap gedung milik pemerintah yang dibangun memiliki kelengkapan pelindung kebakaran. Artinya, pemerintah telah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan jika gangguan terjadi di gedung pemerintah.

’’Ini yang nenjadi sorotan publik. Apakah gedung Kejagung ini sudah punya sistem pencegahan kebakaran atau tidak. Tentu ini akan memberikan dugaan dan opini bermacam-macam,’’ ucapnya.

Untuk mengatasi isu itu, sambung Ubedillah, Kejagung harus membentuk tim investigasi. Kemudian berkoordinasi dengan kepolisian untuk nendetailkan penyebab utama si jago merah itu mengamuk di gedung bundar tersebut. Sehingga publik pun dapat mengetahui penyebab tragedi yang membuat masyarakat bertanya-tanya.

’’Maka harus segera dilakukan penyidikan dan investigasi, meski mungkin agak sulit karena gedung sudah terbakar. Kalau bukti penyebab itu sudah didapatkan segera di-publish. Dibuktikan juga ada atau tidaknya sistem pendeteksi kebakaran di gedung itu, sehingga isu sabotase dapat ditepis,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Supriyadi menuturkan, munculnya isu sabotase karena belum adanya perkembangan pengungkapan beberapa kasus besar yang ditangani.

Di antaranya, kasus korupsi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara Rp16,81 triliun dan eksekusi terpidana kasus cassie Bank Bali Djoko Soegiharto Tjandra yang melibatkan Jaksa Pinangki Sima Malasari terkait status pelarian sang koruptor. Serta kasus korupsi Danareksa Sekuritas senilai Rp105 miliar dari PT Danareksa kepada PT Evio Securitas tahun 2014-2015.

’’Sejumlah kasus tersebutlah yang menerbitkan spekulasi kebakaran gedung Kejagung terkait sabotase. Mungkin publik menilai adanya unsur penghilangan barang bukti. Harusnya setiap perkembangan kasus besar yang ditangani itu di-publish, agar publik melihat kinerja Kejagung. Tahu sendiri kalau publik sudah melemparkan isu lain akan berkembang ke mana-mana,’’ tuturnya.

Untuk menghilangkan isu sabotese, Supriyadi menambahkan, Jaksa Agung harus menunjukkan mengenai sejauh mana proses penyelidikan kasus besar tersebut. Kemudian membuktikan jika para pelaku kasus itu diajukan sampai ke meja hijau. Dirinya yakin, dengan pembuktian kinerja itu secara perlahan isu tersebut akan ditepis publik sendiri.

 

Terbuka Saja

Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, untuk meminimalisasi spekulasi tentang penyebab kebakaran itu, diperlukan penyelidikan yang terbuka, terutama karena musibah ini terjadi ketika Kejagung menangani sejumlah kasus yang menjadi sorotan publik.

“Saya menyarankan agar dilakukan penyelidikan yang menyeluruh dan terbuka, terutama karena musibah ini terjadi ketika Kejagung masih menangani kasus Djoko Tjandra dan kasus Jiwasraya, dua kasus yang masih menjadi perhatian publik,” ujar Bambang Soesatyo.

Meski para pejabat Kejaksaan Agung sudah menegaskan tidak ada berkas perkara dan alat bukti yang terbakar, tetapi Bambang Soesatyo menilai pernyataan itu tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu publik.

Hal itu tampak dengan munculnya spekulasi yang mengait-ngaitkan kebakaran dengan sejumlah kasus di ruang publik sebab kebakaran besar itu dinilai sebagai kejadian sangat luar biasa.

Dia menyebut muncul juga dugaan kalau kebakaran itu sebagai tindakan sabotase untuk menghilangkan barang bukti atau berkas perkara. Untuk itu. Bambang Soesatyo mendorong Kejagung segera merespons isu-isu yang beredar itu.

“Menurut saya, itu kebakaran skala besar untuk sebuah komplek perkantoran yang strategis karena berlangsung selama beberapa jam hingga tengah malam tadi. Gedung itu pasti selalu dijaga karena ada dokumen penting, termasuk alat penyadap,” ujar BambangSoesatyo.

Selain itu, dia yakin Gedung Kejaksaan Agung dilengkapi dan didukung sejumlah alat bantu pencegah kebakaran besar, seperti detektor asap, alarm kebakaran hingga alat pemadam api, tetapi api sangat besar dan cepat melalap gedung itu.

Hal sama dikemukakan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. Dia meminta aparat kepolisian mengusut tuntas penyebab peristiwa kebakaran Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang terjadi pada Sabtu malam (22/8).

’’Aparat kepolisian segera mengungkap peristiwa tersebut agar tidak terjebak pada spekulasi dan berita hoaks,’’ kata Jazilul dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu, menanggapi peristiwa kebakaran Gedung Kejagung itu.

Menurut dia, berbagai spekulasi dan komentar terhadap kebakaran ramai di media sosial. Mereka menyampaikan pendapat dengan masing-masing dugaan. Karenanya diperlukan pengusutan tuntas agar berbagai spekulasi tidak membias ke mana-mana mengingat itu memiliki berbagai catatan, arsip, dokumen, serta berkas perkara yang terkait dalam masalah penegakan hukum dan pemberantasan korupsi dalam skala besar dan penting.

’’Segera jelaskan ke publik penyebab kebakaran,’’ ucapnya.

Kebakaran yang terjadi, menurut dia, harus dijadikan pemacu bagi Kejagung untuk mempercepat kasus yang ditangani termasuk keterlibatan aparat jaksa.

“Bila tidak segera dituntaskan akan muncul spekulasi terjadi ‘kebakaran berencana’ di Kejaksaan Agung,” kata Jazilul.
Pria yang biasa disapa Gus Jalil ini mengaku prihatin atas musibah kebakaran Gedung Kejagung itu. “Apa yang terjadi pasti menimbulkan kerugian yang besar baik material mapun immaterial,” ujarnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu merasa aneh sebab gedung sekapasitas Kejaksaan Agung tidak memiliki alat deteksi, early warning system, kebakaran yang canggih.

Karena itu, tambah dia, apa yang terjadi di Kejagung bisa dijadikan pelajaran bagi kantor dan gedung pemerintahan lain untuk memiliki dan mengaktifkan alat deteksi dini terhadap berbagai bencana agar peristiwa seperti itu tidak terulang.

Di tempat terpisah, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman meyakini kebakaran pada Gedung Utama Kejaksaan Agung RI bukan sabotase. Karena, gedung yang terbakar hanya gedung tempat berkas laporan administrasi dan kepegawaian, tidak ada terkait berkas perkara.

“Kalau berdasarkan pengalaman saya saat berkunjung ke Kejagung, itu hanya gedung yang berisi berkas laporan administrasi dan kepegawaian dan tidak ada berkas perkara,” ujar Boyamin di Jakarta, Minggu (23/8).

Bonyamin meyakini, berkas-berkas perkara termasuk kasus pelarian Djoko Tjandra tidak terdampak dari kebakaran. Karena prosesnya di gedung Bundar Jampidsus. “Kalau dari lokasinya aman, kan jauh dari tempat kebakaran,” katanya.

Ia menegaskan, tidak ada alasan penanganan perkara terkait kasus pelarian Djoko Tjandra untuk ditunda. Jadi tidak ada hambatan apa-apa soal penanganan perkara, seharusnya tetap melanjutkan perkara.

’’Karena penanganan perkara kan sepenuhnya di Gedung Bundar, jadi tidak alasan penanganan perkara tertunda,’’ tuturnya.”

Dia meminta, pihak Kejaksaan Agung lebih mewaspadai hal-hal tak terduga dengan meningkatkan pengamanan pada objek vital di lingkungan Kejagung. Dengan melengkapi alat pemadam kebakaran. “Dari kebakaran ini Kejagung harus melengkapi alat pemadam kebakaran di Gedung Bundar dan objek vital lainnya,” katanya.

Selanjutnya, masih ujar Bonyamin, Kejaksaan Agung harus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengamanan di lingkungan tersebut menghindari kecurigaan sabotase. Dengan terus meningkatkan sistem keamanan. “Bisa dengan menyiapkan petugas satu pleton yang piket di situ untuk memastikan semua ini aman,” jelasnya.

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif menegaskan, petugas agar segera mengetahui penyebab kebakaran di gedung Kejaksaan Agung. Namun, saat ditanya lebih jauh terkait persepsi masyarakat terhadap dugaan “permainan” kebakaran gedung Kejagung, Laode enggan berkomentar.

“Ya intinya, harus segara dicari tahu penyebab kebakaran gedung Kejagung itu,” ujar Laode kepada INDOPOS.

 

Amankan CCTV

Polda Metro Jaya masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran hebat yang melanda gedung utama Kantor Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan, salah satunya mengamankan “closed circuit television” (CCTV) dari lokasi kejadian.

“Ada CCTV yang sudah diamankan, tapi hasilnya belum bisa kita lihat,” kata Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat usai meninjau gedung Kejaksaan Agung yang terbakar, Minggu (23/8).

Setelah pemadaman lalu pendinginan, pihaknya memulai penyelidikan. Yang pertama diamankan Tim adalah kamera CCTV. Menurut dia, langkah ini dilakukan agar bisa membatu penyelidik mengungkap penyebab kebakaran gedung cagar budaya tersebut.

“Diharapkan bisa menjawab pertanyaan apa yang terjadi sebenarnya,” ujar Ade.

Dari sejumlah CCTV yang diamankan, Ade mengaku belum mengetahui apakah kondisinya baik atau rusak akibat kebakaran. Namun yang pasti petugasnya telah mengamankan CCTV tersebut.

Terkait berapa jumlah CCTV yang telah diamankan, Ade menyebutkan belum menghitung jumlahnya dan belum bisa menyampaikan kepada publik.

“CCTV belum kita hitung, tapi untuk ini sudah kita amankan. Kalau yang detail masalah jumlah kita belum bisa jawab,” ujar Ade.

Kebakaran hebat melanda gedung utama Kantor Kejaksaan Agung di Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu (22/8) pukul 19.10 WIB.
Sebanyak 56 unit pemadam kebakaran dan 300 personel Damkar gabungan lima kota di DKI Jakarta dikerahkan untuk memadamkan api hingga memakan waktu selama 11 jam.

Hingga saat ini petugas Damkar masih melakukan upaya pendinginan. Selama proses tersebut olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh Puslabfor Mabes Polri belum bisa dilaksanakan karena masih ada asap di sejumlah bagian di gedung yang terbakar.

Polda Metro Jaya menjadwalkan ulang olah TKP esok hari Senin (24/8), setelah pendinginan benar-benar selesai dilakukan sehingga petugas Puslabfor dapat melaksanakan olah TKP dalam keadaan aman.N

Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Nana Sudjana mengatakan setelah upaya pemadaman berhasil dilakukan pihaknya menindaklanjuti dengan tetap melakukan pengamanan di lokasi kebakaran termasuk menutup jalan mengarah ke Kantor Kejaksaan Agung. “Untuk jalan tetap kita tutup, kemudian kita melakukan penyelidikan,” kata Irjen Nana.

Nana menyatakan untuk mengungkap penyebab kebakaran, pihaknya telah membentuk tim Labfor dan Inafis yang bertugas melakukan penyelidikan usai pemadaman.
Tim Labfor dan Inafis, lanjut dia, mulai bekerja melakukan penyelidikan hari ini guna mencari tau penyebab pasti kebakaran.

“Kebakaran memang cukup bisa dikatakan parah, dan titik api dari keterangan sementara yang ada, api dari lantai enam lalu turun ke lantai satu,” ujar Nana.

Peristiwa kebakaran melanda Gedung Utama Kantor Kejaksaan Agung RI pada Sabtu (23/8) pukul 19.10 WIB. Sebanyak 56 unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan, dan 300 personel dilibatkan untuk memadamkan kobaran.

Api berhasil sepenuhnya berhasil dipadamkan pada Minggu pagi, pukul 05.30 WIB sudah dilakukan pendinginan yang masih berlangsung hingga berita ini diturunkan. (cok/nas)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.