Alexa Metrics

Persimpangan Ramai Itu Kini Sunyi

Persimpangan Ramai Itu Kini Sunyi

indopos.co.id – Javie Rubio, lebih dikenal sebagai Mickey Mouse yang menyapa pejalan kaki di sepanjang Hollywood Walk of Fame. Dia berdiri di bawah tenda, menatap ke jalan yang sebagian besar kosong dan mengerutkan alisnya ketika memikirkan tentang seberapa banyak penghasilan yang bisa ia bawa pulang untuk hari itu.

Di sepanjang Hollywood Boulevard, Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS), Rubio dan mereka yang menggunakan kostum karakter kartun menjelajahi trotoar sambil dengan ramah mengulurkan tangan ke kerumunan turis yang lewat.

Biasanya, keramahan dan kepalan tangan yang dia tawarkan dapat membujuk pengunjung untuk berfoto dan memberinya uang. Tetapi sejak pandemi melanda, semua itu tidak lagi bisa ia lakukan. Sekarang, ke Setelah empat jam berada di bawah sinar matahari musim panas, Rubio, yang setiap hari menyemprotkan kostumnya dengan disinfektan, hanya mendapatkan USD53 di sakunya.

Padahal tahun lalu, dia biasanya pulang ke rumah, untuk menemui istri dan anaknya, dengan membawa penghasilan 10 kali lipat.

“Satu-satunya hal yang kami coba lakukan sekarang adalah bertahan hidup,” katanya dilansir Los Angeles Times.

Persimpangan Ramai Itu Kini Sunyi

Virus Corona telah sangat mengubah kehidupan di salah satu persimpangan paling ramai dan ajaib di Los Angeles. Sebuah tempat yang telah menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Hollywood Boulevard adalah pusat ekonomi turis di LA, tempat yang begitu ramai dengan pejalan kaki sehingga kota itu bahkan mempertimbangkan untuk menutup jalur tersebut untuk mobil.

Tetapi semua itu berakhir pada Maret. Ketika bisnis-bisnis mulai ditutup, pariwisata mengering, dan mantra jarak sosial telah mengalahkan keinginan untuk melihat dan dilihat. Musim panas biasanya merupakan musim sibuk di Hollywood Boulevard, di mana turis dari seluruh dunia bergabung dengan penduduk setempat untuk pergi ke bioskop, klub malam, dan restoran.

Meski persimpangan Hollywood dan Highland Avenue tidak sepenuhnya ditinggalkan, namun yang dirindukan adalah perpaduan kesemrawutan antara artis jalanan, bus wisata, penjaja suvenir, dan TCL Chinese Theater. Dengan seluruh ekosistem boulevard dibangun di tengah kerumunan besar yang ingin berbaur dalam jarak dekat, banyak orang bertanya-tanya apakah Covid-19 akan secara permanen mengubah tempat yang telah menjadi tujuan impian selama hampir satu abad itu.

Meski pesona Tinseltown 1940-an mungkin telah memudar, blok tersibuk di Hollywood itu selalu ramai dengan turis dan pedagang yang melayani mereka. Puncak kerumunan biasanya terjadi saat pemutaran Rubio selalu bisa mengandalkan kerumunan orang dengan uang di tangan untuk mengambil foto. Tetapi dengan penutupan bioskop dan museum ikonik di blok itu, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para turis.

Seluruh Bisnis di Hollywood bBoulevard Juga Ikut Terdampak

Di seberang TCL Chinese Theatre, lampu El Capitan Theatre berkedip-kedip berkilauan di trotoar yang hanya dilihat sedikit orang. Pintu masuknya gelap. Bahkan, dinosaurus raksasa di atas atap museum Ripley’s Belive It or Not! juga mengenakan masker.

Di luar, sebagian jalan diblokir untuk melindungi tulisan ‘All Black Lives Matter’ di trotoar. Sebuah jalan yang dulunya menjadi tempat para pedagang berjualan, sekarang hanya diisi oleh satu gerobak hot dog dengan payung pelangi di sudut Hollywood dan Highland.

Armando Lopez menyiapkan paprika dan bawang bombai dan dengan cermat membalik hot dog yang dibungkus bacon untuk memastikan proses memasak merata sambil memanggil calon pelanggan. Dalam beberapa minggu terakhir, dia hanya menjual 10 hot dog sehari.

Jika dia beruntung, Armando  bisa menjual hingga seperempat dari hasil penjualannya yang biasa. Beberapa meter dari tempat Armando berjualan, di mana musik dari pertunjukan jalanan pernah bergema di sepanjang trotoar, kesunyian dipecah oleh derit eskalator di halte Metro berubin biru yang kosong.

Data dari Juni 2019 dan Juni 2020 di halte bus Metro Hollywood dan Highland menunjukkan penurunan penumpang sebesar 71 persen, sedangkan penumpang Red Line mengalami penurunan 83 persen. Pada siang hari, seorang drummer bersiap untuk membawakan satu set lagu rock klasik di jalanan yang hampir kosong.

Pandemi telah menyapu para musisi jalanan yang bersaing, dan memberinya kesempatan sempurna untuk masuk ke dunia musik. “Aku belum menemukan orang lain yang ingin melakukan apa yang aku lakukan sekarang,” kata Patrick Lamay yang berusia 53 tahun.

“Aku hanya mewujudkan mimpiku,” pungkasnya. Hari-hari ketika bus wisata bertingkat diarak melalui jalan-jalan   dengan deretan pohon palem juga sudah lama berlalu. Hanya seperempat dari perusahaan-perusahaan tur yang kembali beroperasi ketika ekonomi mulai dibuka kembali, memberikan beberapa harapan untuk operasi yang lebih kecil seperti Hollywood Value Tours.

Persimpangan Ramai Itu Kini Sunyi

Pemiliknya, Mohammed Jewel adalah yang pertama dari dua lusin perusahaan tur yang memulai kembali. Meskipun memiliki lebih sedikit persaingan lebih menguntungkan, tidak banyak orang yang berlangganan. Jewel telah mengurangi stafnya, hanya menyisakan dirinya, manajer, dan beberapa pengemudi. Pada hari biasa di bulan Juli, dia akan memberikan 16 tur.

Sekarang, jumlahnya menyusut menjadi dua. Terlebih, dia harus mendiskon harga tur pribadinya untuk menarik minat para wisatawan.

“Tidak tahu apa yang diharapkan dari bisnis. Itu adalah ketidakpastian karena tidak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana cara memenuhinya,” ucap Jewel sedih.

Beberapa toko mempekerjakan kembali karyawan mereka ketika diizinkan untuk buka kembali. Tetapi banyak yang terpaksa harus memberhentikan karyawan mereka sekali lagi ketika Gubernur California Gavin Newsom memerintahkan penguncian kedua di kota itu.

Britney Hernandez, manajer Souvenirs of Hollywood and the Hollywood Experience, tetap membuka tokonya meski masih mengkhawatirkan orang yang datang, sedikit turis, tidak mengikuti tindakan pencegahan keamanan di toko,” kata Hernandez.

“Hal ini sangat mengkhawatirkan karena kami ingin terus maju. Tetapi aku masih mendapatkan pelanggan yang marah dan membentakku karena meminta mereka menggunakan masker,” ungkapnya.

Toko suvenir milik Hernandez telah terbiasa dengan pasang surut arus lalu lintas pejalan kaki, tetapi belum pernah separah ini. “Ini adalah kota hantu,” ujarnya. Tapi sampai turis-turis kembali, dia masih harus berusaha bertahan. (fay)



Apa Pendapatmu?