Alexa Metrics

Butuh Kuota Internet Gratis, Berharap Dapat Perhatian Pemerintah

Butuh Kuota Internet Gratis, Berharap Dapat Perhatian Pemerintah Pekerja menjalankan aktivitas WFH. (Foto: ANTARA)

Indopos.co.id – Pandemi COVID-19 memaksa masyarakat beraktivitas di rumah, atau dikenal luas dengan sebutan Work From Home (WFH). Aktivitas yang tak pernah terjadi itu tentunya ditanggapi beragam. Sebagian masyarakat ada yang senang lantaran bisa berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga, namun sebagian lainnya kebingungan.

Bagi mereka yang beraktivitas di luar dalam mengais rezeki, langkah itu menjadi sebuah beban berkepanjangan. Mereka  tak bisa berkeliaran dan beraktivitas diluar untuk berjualan. Penghasilan pas-pasan semakin membuat mereka kebingungan.

Bukan hanya mereka, pekerja kantoran pun banyak yang terancam dirumahkan hingga gaji dipotong setengah penghasilan. Belum lagi mereka yang berpenghasilan sendiri yang mengantungkan pada aktivitas keramaian.

Sebut saja pekerja seni, hingga industri kreatif yang belakangan ini pun tergerus akan ekonomi yang tak berjalan secara maksimal Tentunya masa pendemi ini membuat masyarakt berfikir ekstra keras, belum lagi ditambah dengan beban kehidupan yang terus berjalan, mulai dengan kebutuhan pokok yang tak murah, biaya operasional yang tidak bisa berhenti dan aktivitas anak-anak sekolah yang berjalan dengan virtual.

Kebijakan baru yang diterapkan oleh pemerintah dalam menanggapi pandemi COVID-19 tersebut memang menyakitkan. Akan tetapi, semuanya harus dilakukan dengan terpaksa karena modal yang dikeluarkan cukup besar.

”Seharusnya pemerintah memberikan kuota gratis bagi masyarakat, karena mereka dipaksa untuk bekerja dirumah,” ujar Produser dan Pencipta Lagu Kawendra Lukistian.

Pria yang juga ketua Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrfas) itu mengakui, beban yang dihadapi masyarakat memang begitu besar. Pemerintah seharusnya bisa memposisikan diri dengan benar dan tak menganggap enteng permasalahan yang dihadapi masyarakat.

”Permasalahan masyarakat sekarang ini sangat kompleks, ketika aktivitas mereka dibatasi, tentunya pergerakan ekonomi mereka tentunya berkurang, namun beban tak bisa direm,” kata dia.

Kawendra berharap, pemerintah bisa meringankan beban masyarakat, minimal aktivitas anak-anak sekolah yang menggunakan quaota internet dalam belajar.

”Minimal ada pembebasan quota,” kata dia. Emosi dan Andrenaline Tak Sama Aktris Olivia Zalianty mengakui aktivitas daring memang menguras energi. Selain tak bisa disalurkan dalam bentuk nyata. Aktivitas darling bagi para pekerja seni tak bisa menjadi acuan.

“Jujur, saya ‘gaptek’, belum terbiasa. Rasanya banyak hal yang tereduksi dan hilang,” tutur dia. Olivia merasakan fenomena tersebut saat terlibat dalam musikal “Bawang Merah & Bawang Putih”.

Dia mengaku, gagap teknologi ketika harus berlatih bersama sutradara dan pemeran lainnya melalui layanan video konferensi seperti Zoom. Dirinya pun tak bisa membayang jika ini dilakukan par siswa sekolah.

”Tantangannya, buat saya tidak maksimal karena tidak ada tatap muka dan blocking, apalagi mereka anak-anak, kita yang dewasa saja kesulitan,” kata Olivia melalui siaran virtual, beberapa waktu lalu. Dalam musikal ini, Olivia berperan sebagai Nenek Hutan yang “sakti”.

Pendalaman karakter yang harus dilatih secara jarak jauh pun menjadi hal yang menantang bagi adik dari Aktris Marcella Zalianty itu. “Untuk pendalaman karakter menjadi seorang nenek pun belum ada experience. Apalagi ini juga musikal, saya siul aja fals,” kata Olivia lalu tertawa.

“Namun, kak Sari (Madjid) meyakinkan saya tidak usah ada gerakan artificial untuk menunjukkan (sisi) tua si nenek ini. Saya juga tidak ada scene nyanyi, sehingga kita memutuskan untuk fokus ke gerakan/olah tubuh,” ujar dia melanjutkan.

Persiapan dari praproduksi hingga pascaproduksi yang hanya memakan waktu sekira satu bulan ini pun merupakan hal yang baru bagi wanita yang akrab disapa Oliv itu. Namun, dengan segala persiapan dan kreativitas yang diusung di musikal tersebut, semakin membuatnya bersemangat dan menghormati para seniman yang terlibat.

Ia pun mengatakan, Sutradara Sari Madjid dan Fajar Nugros memberikan banyak bantuan dan kebebasan untuknya berekspresi memerankan tokoh Nenek Hutan ini. Pun dengan pemeran lainnya seperti Sha Ine Febriyanti, yang banyak berbagi adegan yang sama dengannya.

“Kak Ine mau menggaet kita secara emosi untuk dijaga dan saling membantu. Sutradara juga meyakinkan untuk berani bebas berekspresi dan nyaman dengan kostum, green screen, dan one shot terakhir,” papar Olivia.

Suara Hati Pedagang Kecil Cahaya hangat sinar matahari siang itu menembus kaca bening gerobak dagangan gorengan milik Yos. Pria berperawakan kurus, kulit sawo matang, mengenakan masker itu tetap asik menggoreng membolak-balikan tempe dan tahu yang berbalut tepung terigu persis dipojokan SPBU di Jalan Dr. Sahardjo, Tebet, Jakarta Selatan.

Namun siapa sangka, dibalik gerobak si penjual gorengan, terdapat cerita keluh kesah pria yang telah dikaruniai tiga orang anak itu. Seperti yang dirasakan oleh para orangtua murid Sekolah Dasar (SD) lainnya, Yos juga mengalami kesulitan mengenai Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) bagi kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD tersebut.

Sedangkan si bungsu masih balita berusia 2 tahun. “Ya, anak pertama saya yang kelas 4 SD namanya Muawanah sedangkan yang kelas 1 SD namanya Nefridiah Baitul Hikmah, keduanya belajar di sekolah yang sama di SDN 17 Tebet Timur,” akunya sambil membolak-balikkan gorengan tempe khawatir gosong.

Yos menambahkan, dirinya merantau untuk mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta. Usai tamat SMU dia ke Jakarta. Tapi dia mengaku tidak pernah sama sekali mendapatkan perkerjaan pada umumnya yang kata kebanyakan orang ini kota metropolitan mencari kerja itu gampang. Pria asal Desa Jakapura, Kec. Gegesik, Cirebon, Jawa Barat itu menjelaskan, kala merantau dulu dia sudah merasakan berbagai kerjaan seperti menyemir sepatu, dagang rokok ketengan dan berdagang gorengan hingga kini.

“Jadi memang belum pernah kerja seperti orang-orang kantoran pada umumnya,” ungkap dia. Kemudian Yos, yang kini genap berusia 32 tahun itu menambahkan, hingga dia menikah dan kini anak pertama dan keduanya sekolah. Kehidupan berjalan apa adanya, serba kekurangan, tapi disyukuri saja. Tapi ketika pandemi melanda Jakarta. Hidup malah menjadi tambah susah, apa-apa mahal.

Untuk makan, biaya kontrakan, belum bayar listrik. Lengkap sudah, terlebih anak – anak yang belajar online Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tidak gratis mengeluarkan pulsa untuk kuota.

“Pulsa kuota Rp 90 ribu habis dalam waktu 2 minggu saja, anak dua tapi HP cuma satu. Jadi minta keringanan sama gurunya kalau telat kumpulkan tugas. Ya kan HP cuma satu dipakai barengan Mas,” ungkap dia sambil melayani pembeli gorengan tahu, tempe, bakwan dan pisang goreng itu.

Dia mengungkapkan, untuk menbayar kontrakan 1 bulan sebesar Rp1 juta. Ditambah lagi dengan biaya listrik dan sampah yang harus dibayar Rp50 ribu/bulan. Perlahan tapi pasti, dia memotong obrolan, sambil mengambil satu persatu tahu berwarna putih yang sudah dalam bentuk potongan kotak-kotak dalam dirigen putih yang sudah dilubangi untuk kemudian dimasukkan kedalam adukan tepung terigu yang tercampur air hangat.

Lalu tahu berbalut terigu itu dimasukkannya kedalam wajan besar berisi minyak yang sudah dipanaskan. Perlu diketahui jika dirinya telah berdagang gorengan itu selama sekitar 5 tahun. Mulai jarum jam diangka 07.00 WIB, Yos selalu berdoa (berharap dagangannya habis terjual) sambil mendorong gerobaknya dari rumah tuk mangkal di SPBU seberang Universitas Sahid, Tebet, Jakarta Selatan.

“Pukul 19.00 WIB saya pulang, habis gak habis ya harus pulang karena anak dan isteri menunggu di rumah,” akunya sambil mengelap keringat di dahi.

Pada masa pandemi COVID-19 beberapa bulan belakangan ini. Untuk pendapatan separuh saja dari berdagang gorengan itu, menurut dia, sudah bagus.

“Biasanya sebelum pandemi sehari dapat lebih dari Rp 100 ribu sudah syukur. Ini sekarang hanya Rp 70 ribu saat pandemi,” keluh dia.

Jika dikalkulasi satu bulannya saja, dia satu bulan kalau dihitung-hitung mah serian buat kebutuhan hidup. Ya untuk makan, minum, belum lainlain.

“Menyisihkan uang Rp 1030 ribu mah dapet sehari. Tapi kalau itungan bulan ya impas alias serian,” ungkap dia.

Beruntung jika keluarganya mendapatkan bantuan sosial (bansos) berupa beras, mie, makanan kaleng. Bansos dari pemerintah dapat dari RT 4 Tebet Barat Raya, Tebet. Tahun ini lengkap baginya, sebab, biasanya tiap tahun dia dan keluarga terkadang pulang kampung setap tahun.

“Tahun ini aja gak pulang karena COVID-19 Mas,” kata dia. Dalam dari keluh kesahnya itu terbersit dalam hatinya dia dan keluarga memiliki secercah harapan. “Harapan saya pengen cepat normal dan keluarga kita sehat. Kita mau kuota dikhususkan bagi orang tak mampu seperti saya, dibedakan dan ada kebijaksanaan khusus buat pelajar tak mampu,” keluh dia lagi.

“Kalau nggak bisa beli pulsa buat kuota internet bagaimana. Buat makan saja susah. Masa numpang sama tetangga Mas. Kan gak mungkin juga ya kalau tetangganya mampu. Kalau tetangga kita gak mampu juga gimana,” akunya serba salah. Sehingga di masa pandemi COVID-19, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi ini dibutuhkan solusi guna mengatasi orangtua murid SD yang banyak merasakan keberatan dengan beban kuota pulsa. (ash/ibl)



Apa Pendapatmu?