Alexa Metrics

Pep Itu Filsuf, tapi Borosnya Minta Ampun

Pep Itu Filsuf, tapi Borosnya Minta Ampun

Indopos.co.id – Manchester City dan trofi Liga Champions. Dua hal yang tampaknya harus berjalan bersama namun tetap berjauhan. Ketika City menunjuk Pep Guardiola pada 2015, itu seharusnya menjadi awal era baru untuk menempatkan mereka di klub elit Eropa. Salah satu manajer terhebat yang pernah hidup dan salah satu dari sedikit yang mengangkat hadiah terbesar Eropa dua kali datang untuk mengubah permainan di city.

Pelatih Spanyol itu mendapat banyak dukungan di bursa transfer dari pemilik City di Abu Dhabi. Dukungan itu memungkinkannya membeli sejumlah pemain dengan harga wah. Pep membawa kesuksesan ke klub. Gelar Liga Premier berturut-turut, tiga Piala Liga, satu Piala FA, dan Treble domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pep juga dibikinkan stadion baru bernama Etihad. Tujuannya merangsang Pep menggapai prestasi Eropa.

Sayang, pasukan Pep selalu patah hati di Eropa. Terakhir, mereka kalah 1-3 dari dari tim underdog Lyon  di perempat final. Itu adalah paling tragis bagi mereka. Sebab, Pep sudah diberi suntikan dana jumbo. Bayangkan Pep total sudah membakar 693 juta pounds sejak 2015.

Sebenarnya Pep bernasib lebih buruk daripada pelatih sebelumnya. Manuel Pellegrini yang dia gantikan mencapai semifinal pada 2015-16. Nah, tiga kali berturut-turut tersisih di pentas elit Eropa adalah sebuah persoalan serius yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuang uang semata.

Kekalahan spektakuler dari Tottenham di edisi 2018-19 bisa dianggap sangat tidak beruntung setelah VAR menilai bahwa Fernando Llorente tidak menyentuh bola dengan lengannya saat mencetak gol penentu di leg kedua.

Tahun sebelumnya mereka disingkirkan oleh Liverpool yang akhirnya menjadi juara. Kali ini tidak ada alasan bagi Pep Guardiola untuk menghindar. Ia harus bertanggung jawab.

Sejak meninggalkan Barcelona pada 2012 – di mana starting XI-nya sering dipilih sendiri – Pep telah mengembangkan reputasinya sebagai seorang tinkerman.

Bayangkan saja, Pep sudah 144 kali mengubah kompisisi starting 11. Bahwa City penuh dengan pemain yang berbakat dan kedalaman skuad itu adalah berkah. Tetapi berkah itu hanya efektif di kompetisi lokal. Di Eropa, Pep Guardiola kembali masuk kategori manajer pesakitan. Ia tidak mampu mengubah keadaan. Sebab, Lyon masuk kategorisasi klub ‘’kelas dua’’, baik dari perspektif prestasi maupun status sosialnya.

Konon, Manchester City kalah dari Lyon pekan lalu gara-gara isi kepala Pep yang ‘’hang’’. Keputusan taktisnya menerapkan formasi 3-5-2 adalah sebuah kesalahan besar. Itu formasi tidak lazim buat City. Beberapa pemain City bahkan mengangkat alis atas keputusan yang tidak taktikal yang tidak biasanya itu.

Guardiola memang sudah menyiapkan bentrokan dengan sistem itu dalam latihan sepanjang minggu, tetapi taktik itu semstinya akan dipakai  tatkala mereka berjumpa Bayern Munich. Di atas kertas, Lyon tak lebih dari tim keset.

Yang terjadi di lapangan justru jadi malapetaka. City malah tak berdaya menghadapi serangan cepat Lyon. Akibatnya, para pemain bingung dan frustrasi, tetapi tidak ada yang berani mengingatkan sang filsuf.

Pep baru bereaksi setelah Lyon sudah unggul 1-0 melalui Maxwell Cornet.  Ia kembali ke pola normalnya 4-3-3 yang selama ini menjadi trade mark City hampir sepanjang musim.

Sumber yang dekat dengan City mengatakan pemain City putus asa. Para pemain hancur. Itu sulit, terutama bagi para pemain. Mereka dipaksa bermain dengan pola yang sangat asing di lapangan.

Konon ulah Pep itu dilakukan setelah ia mengakali  Real Madrid dan Zinedine Zidane di putaran 16 besar. Sebagian besar penggemar mengira Pep sudah gila ketika dia menggunakan formasi 4-4-2 di Bernabeu untuk leg pertama, dengan Gabriel Jesus di kiri dan Kevin De Bruyne di depan bersama gelandang Bernardo Silva.

Itu berhasil. Mereka menekan Madrid. Cara itu banyak menciptakan ruang untuk berada di belakang mereka saat City memenangkan leg pertama 2-1. Nah, saat menghadapi Lyon, hal itu justru menjadi senjata makan tuan.

Di Bayern Munich, klub lain yang berjuang untuk mencapai elit Eropa di bawah bimbingannya, pep menderita kekalahan kandang 0-4 yang memalukan dari Real Madrid di semifinal 2014. Agregat akhir 0-5.

Kala itu, Pep berbalik dari formasi 4-3-3 regulernya dan mengatakan kepada para pemainnya untuk bermain lebih hati-hat. Menurut mantan asisten manajernya Dominic Torrent, para pemain sempat menentang perintahnya.

Konon pula, Munich dilaporkan dibuat bingung oleh kecenderungan Pep Guardiola untuk mengubah keadaan “ Saya pikir dalam empat tahun kami di sini bersama Pep kami memiliki beberapa kejutan dan bahkan para pemain. Mereka tidak benar-benar tahu sampai pertandingan dimulai apa yang perlu kami lakukan,” kata De Bruyne.

Pep cenderung eksperimentati dengan pola. Ia lupa bahwa perubahan polanya itu sudah membakar uang lebih dari setengah miliar pound

Lebih dari 300 juta pounds telah dihabiskan untuk meningkatkan pertahanan, namun bintang-bintang lini belakang City kerap bermain di luar posisi aslinya.

Tujuh pemain bertahan utama telah dibeli sejak ia mengambil alih. Yang terakhir adalah Nathan Ake seharga 41 juta poundsterling.  Hampir setiap rekrutannya untuk pemain belakang bergaji lumayan di atas 50 juta pounds.

Begitulah krisis pertahanan City. Pep memilih memainkan tiga bek dalam pertandingan terbesar mereka musim ini. Ia menampilkan gelandang Fernandinho dan pemain muda Eric Garcia bersama Aymeric Laporte senilai 60 juta poundsterling.

Di bangku cadangan duduk Benjamin Mendy senilai 50 juta poundsterling, yang gagal muncul sebagai bek kiri pilihan pertama, di samping Stones dan Nicolas Otamendi yang tidak disukai. Pep memang pelatih jempolan, tapi ingat lho ya. Dia juga boros.

Ternyata Pep Guardiola adalah pelatih boros. Hahaha. (*)



Apa Pendapatmu?