Alexa Metrics

Lima Kawasan Industri Halal On Progress

Lima Kawasan Industri Halal On Progress Wisata halal menjadi wacana yang belum direalisasikan secara utuh. Di beberapa daerah, wisata halal terbukti menjanjikan. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Makin banyak restoran halal di Korea Selatan menjadi daya tarik turis dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Korsel membuktikan, wisata kuliner halal mampu mendongkrak kunjungan wisata, sebelum Pandemi COVID-19. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Muslim belum mampu mengemas industri halal sebagai pundipundi devisa.

Pemerintah sendiri sudah menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan industri halal dalam rangka meningkatkan pemanfaatan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), industri halal merupakan salah satu sektor penting dalam meningkatkan ekonomi dan keuangan syariah.

”Kita tidak hanya berkutat pada masalah keuangannya saja, tapi juga masalah ekonomi (syariahnya). Karena itu, maka yang kita kembangkan di situ adalah empat hal, yakni industri halal, industri keuangan, dana sosial masyarakat, dan usaha-usaha yang berbasis syariah,’’ ujar Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin dalam ”Dialog Spesial Indonesia Bicara dengan tema Optimalisasi Kontribusi Ekonomi dan Perbankan Syariah di Era New Normal” secara virtual, belum lama ini.

Terkait pengembangan industri halal, jelasnya, Menperin sudah mengeluarkan keputusan. Keputusan itu memberi kesempatan untuk membuka industri halal di berbagai kawasan.

”Apakah juga termasuk industri wisata? Iya, pokoknya industri halal itu menyangkut produk-produk halal, jasa, kemudian juga wisata,’’ tegasnya.

Menurut Ma’ruf, pengembangan wisata halal saat ini menjadi isu global. Tak hanya negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, negara lainnya juga ikut memikirkan, mengembangkan, serta membuka wisata halal di negaranya. Seperti Singapura, Taiwan, Jepang, hingga Korsel. Di Korsel bahkan turut mengembangkan produk-produk halal untuk mengambil pangsa pasar Muslim dunia.

”Di Korsel, mereka membuka kawasan (wisata halal) dan mereka meminta sertifikat halal dari kita, terutama industri kosmetiknya. Jadi mereka ingin menguasai dunia dengan produk-produknya itu,’’ urainya.

Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak, utamanya pegiat ekonomi syariah untuk terus mengembangkan usaha dan produk-produk yang sesuai syariah. Termasuk pelaku wisata syariah hingga pegiat keuangan syariah.

”Prospek ekonomi dan keuangan syariah itu begitu besar sehingga sekarang menjadi mode, tren. Produk-produk (halal) kita di mancanegara itu diminati. Ini yang saya kira menjadi penting untuk memiliki semangat mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,’’ ajaknya.

Sementara itu, Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar menuturkan, ada lima kawasan industri halal yang sedang dalam proses persiapan pembentukan. Kelima kawasan tersebut yakni Modern Cikande, Bintan Inti, Batamindo, Jakarta Pulogadung, dan Safe and Lock Sidoarjo.

Dia menilai, kawasan industri halal potensial untuk mengembangkan industri halal terintegrasi. Dia berharap, semua proses sesuai rencana, apalagi sejak Juni 2020 keluar Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No 17 tahun 2020 tentang Prosedur Pendaftaran dan Pembangunan Kawasan Industri Halal. Kawasan ini, kata dia, diharapkan mempercepat pertumbuhan industri halal.

Sebab saat ini, baru beberapa sektor yang mulai terlihat, seperti fashion. Namun untuk halal food dan farmasi belum terlihat. Bahkan beberapa ingredient makanan masih bergantung impor. Kondisi ini harus segera diselesaikan.

”Kawasan industri halal, hanya salah satu fokus utama KNEKS. Fokus utama kami lainnya yakni penyusunan strategi nasional pengembangan industri produk halal, pengembangan zona halal, dan kawasan industri, pengembangan destinasi pariwisata halal dan peningkatan kualitas UMKM, pengembangan halal port, dan peningakatan riset dan inovasi industri halal,’’ bebernya.

Sementara itu, Islamic Financial Expert Sudarso Kaderi Wiryono mengatakan, nilai perdagangan industri halal di Indonesia mencapai USD3 miliar. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat mengingat Indonesia berkepentingan dengan pengembangan produk halal.

”Hadirnya kawasan industri halal akan mempermudah untuk pengembangan kebijakan, mudah memonitor, dan menjamin kehalalannya,’’ ujarnya.

Industri halal jelas bisa menjadi tumpuan bisnis masa depan Indonesia. Sebab cakupan industri halal luas, mulai dari keuangan, manakan, minuman, kosmetik, obat-obatan, fashion, travel, dan lainnya. Head of Corporate Communication Bio Farma sekaligus Tim Advokasi Halal Bio Farma Iwan Setiawan mengungkapkan, sebanyak 52 dari 140-an negara yang menggunakan produk Bio Farma merupakan negara Islam.

Karena itu kehalalan produk menjadi sangat penting. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi agar produk dikatakan halal. Pertama, material yang digunakan tidak terkontaminasi. Kedua, fasilitas yang digunakan tidak boleh ada barang haram. Ketiga, proses tidak boleh memanfaatkan barang yang haram, meski itu hanya bersentuhan. (dew)



Apa Pendapatmu?