Alexa Metrics

Ketika Patung Sudirman Batal Dipasangi Masker

Ketika Patung Sudirman Batal Dipasangi Masker Pekerja membersihkan patung Sudirman, di Jakarta, belum lama ini. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Banyak kalangan sempat dibuah terheran-heran dengan rencana Pemprov DKI Jakarta untuk memasang masker di Patung Jenderal Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Rencana yang bocor ke media itupun mengundang penolakan dari berbagai kalangan.

Rencana pemasangan masker itu kemudian dibatalkan. Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Satriadi Gunawan sebelumnya mengungkapkan pemasangan masker ini disebut telah direncanakan sebelumnya oleh Pemprov DKI Jakarta. ”Sudah ada rencananya,” ujar Satriadi. Meski demikian, Satriadi belum dapat menjelaskan alasan pemasangan masker di Patung Jenderal Sudirman. Menurutnya, pihaknya hanya bertugas sebagai tim pemasangan.

”Prinsipnya, pemadam kebakaran hanya membantu proses pemasangan,” katanya. Sedangkan Kepala Seksi Publikasi Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Saepul mengungkapkan pemasangan masker yang sejatinya akan dilakukan pada Rabu, 19 Agustus 2020, oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

”Ralat, untuk kegiatan pemasangan simbolis masker (Patung Jenderal Sudirman) oleh Pak Gubernur (ditunda), menunggu info lebih lanjut dari Diskominfotik,” ujar Saepul dalam keterangan tertulisnya. Rencana pemasangan masker di Patung Jenderal Sudirman kemudian menuai sorotan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta hingga warga ibu kota melontarkan kritik.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun akhirnya menanggapi rencana yang kontroversial itu. Dirinya menyebut seharusnya manusia yang memakai masker saat pandemi COVID-19 ini, bukan patung. ”Kita yang harus pakai masker, manusianya,” kata Anies dalam sebuah acara diskusi daring di Jakarta.

Menurut Anies, Pemprov DKI tidak memikirkan apa yang dibicarakan pihak luar. Menurut Anies, pihaknya tidak ambil pusing. ”Jakarta perlu garis bawahi, nggak terlalu pusing dengan percakapan di luar,” katanya.

Sementara itu Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menilai rencana Pemprov DKI Jakarta memasang masker di Patung Jenderal Sudirman sebagai pertanda Pemprov DKI sedang bingung. ”Itu pertanda Pemprov kebingungan, panik,” ujar Gembong.

Dirinya menganggap aneh kalau misalkan patung dipasangi masker. ”Luculah kalau patung dimaskerin,” ucapnya. Menurutnya, masa perpanjangan PSBB transisi keempat kalinya ini menjadi momentum Pemprov DKI Jakarta untuk menyadarkan bahaya COVID-19. Sebab, menurut Gembong, saat ini angka kasus positif Corona di Jakarta masih tinggi.

Begitu pula Partai Demokrat (PD) berpendapat rencana memasang masker di Patung Jenderal Sudirman tidak berguna. ”Nggak efektif, nggak ada gunanya,” kata anggota Fraksi Demokrat DPRD DKI Jakarta Mujiyono. Sedangkan Ketua Fraksi Demokrat DPRD DKI Desie Christhyana Sari menilai banyak cara lain untuk bersosialisasi protokol Kesehatan. Antaralain  dengan mengerahkan seluruh elemen masyarakat untuk mensosialisasikan secara langsung.

Partai Nasdem mempertanyakan tujuan Pemprov DKI Jakarta akan memasang masker di Patung Jenderal Sudirman. Nasdem menilai upaya itu tak ada kaitannya sama sekali untuk menekan penyebaran COVID-19.

”Tujuan utamanya apa memasang masker di Patung Jenderal Sudirman. Kalau korelasi untuk menurunkan angka COVID, nggak ada hubungannya,” kata Wakil Ketua Fraksi Nasdem DKI Jakarta Nova Harivan Paloh. Nova mengatakan sebaiknya Pemprov DKI menyosialisasikan secara masif penerapan protokol kesehatan. Nasdem meminta Pemprov memberdayakan seluruh masyarakat untuk melakukan pengawasan.

Politisi PDIP DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menyebutkan langkah itu tidak efektif dijadikan kampanye melawan COVID-19. Hal itu karena, kata dia, jumlah masyarakat Ibu Kota yang melintas di kawasan ini hanya segelintir orang saja dan didominasi oleh karyawan perkantoran, sementara masyarakat di perkampungan tetap tidak mendapatkan informasi apa pun.

”Tentu itu sekadar simbol. Hanya yang lewat Jalan Sudirman berapa banyak? Pesannya itu terbatas kepada pengguna jalan protokol,”kata Gilbert. Menurutnya, Langkah yang pas untuk melawan COVID-19 adalah pengawasan jangka panjang. Sasaran pengawasan ketat adalah perkampungan padat dan pasar tradisional karena kerap kali masih terjadi pelanggaran protokol kesehatan.

Menurutnya, apapun bentuk kampanye yang dilakukan Pemprov DKI tidak bakal efektif. Sebab, COVID-19 yang melanda Jakarta saat ini bukan baru baru berlangsung satu atau dua hari melainkan telah lima bulan. (dni)



Apa Pendapatmu?