Alexa Metrics

Melihat Peluang Industri Sandang, Industri Modest Fashion Paling Moncer

Melihat Peluang Industri Sandang, Industri Modest Fashion Paling Moncer Ragam busana modest fashion mengikuti tren dunia. (Foto: Dewi Maryani/INDOPOS)

indopos.co.id – Populasi Muslim di Indonesia sangat besar. Hal itu menjadi kesempatan emas bagi desainer tanah air untuk menciptakan busana Muslim dengan wastra Indonesia.

Industri fashion modest wear jelas tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, diakui sebagai salah sagu sektor penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri modest wear. Ditambah bisnis modest wear kini telah merambah ke seluruh penjuru dunia.

Indonesia menghabiskan sekitar USD20 miliar atau senilai Rp300 triliun terkait transaksi bisnis busana Muslim ini. ”Indonesia merupakan konsumen busana Muslim terbesar ke-3 di dunia,” jelasnya, pekan lalu.

Tentunya, dengan mendunianya industri fashion modest wear ini membuat para pelaku bisnis harus cerdas dalam berinovasi dan berkompetisi. Baik dalam pasar lokal hingga global.

Oleh karena itu, dia berharap agar para pelaku bisnis fashion tanah air mampu membangun kerja sama secara global untuk meningkatkan lini fashion mereka di kancah dunia. ”Maka produk fashion Muslim Indonesia, potensial sebagai komoditi untuk mengintegrasikan kerja sama internasional,” ucapnya optimistis.

Selain itu, potensi modest wear yang sangat besar di tanah air diharapkan juga mampu mendorong dunia untuk mengenal Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal. ”Dan menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal global,” tegas Destry.

Data Indonesia Fashion Chamber menyebut, mayoritas dari 200 pelaku usaha fashion yang tergabung menggarap busana produk pakaian santun. Global Islamic Economy memprediksi nilai pasar busana santun dunia pada 2020 akan mencapai USD327 miliar.

State of the Global Islamic Economies juga memprediksi industri halal dunia akan tumbuh melebihi USD1 triliun. Perancang Busana Tuty Adib mengatakan, Indonesia harus terus memiliki ide kreatif dan memperkuat riset pasar untuk bisa jadi barometer dunia dalam tren busana santun. Menurutnya, beberapa negara cenderung memilih pakaian yang ready to wear dan ringan, sesuai dengan karakter kesibukan masing-masing. Sementara itu dari sisi warna kain, warna sesuai warna kulit menjadi salah satu pertimbangan.

”Contohnya, untuk orang-orang yang berkulit hitam cenderung memilih warna yang bisa memaksimalkan eksotisme kulitnya. Jadi ada yang suka warna pastel dan mungkin ada juga yang nggak suka sama model yang sangat Indonesia, jadi kayak warna-warna nude juga ada,” paparnya.

Sementara itu, untuk negara-negara dengan empat musim, bahan-bahan seperti katun atau viscose kerap menjadi pilihan. Pada intinya, lanjut dia, riset mendalam menurutnya menjadi hal yang sangat penting.

”Asia mungkin senang detail, tapi seperti orang Eropa, Amerika, mungkin tidak begitu suka yang detail. Tidak bisa digeneralisasi. Kita mau bidik negara mana, harus kita pelajari,” tambahnya.

Chief Creative Officer EBW World Wide Stevy Giani Sela juga mengklaim, angka pembelanjaan untuk modest fashion di seluruh dunia cukup besar, mencapai 11 persen dari total sekitar USD258 milliar belanja pakaian. “Untuk angka sebesar itu, 11 persen lumayan signifikan dan terus tumbuh,” imbuhnya.

Menurut Stevy, karakter modest fashion sendiri masih berbeda-beda di setiap negara. Misalnya di Indonesia, modest fashion seringkali digambarkan sebagai koleksi baju Muslim yang seringkali memiliki detail baju yang berangkap, tebal, dan ciri khas lainnya.

Adapun di negara yang penduduknya bukan mayoritas Muslim, Inggris misalnya, modest fashion cenderung lebih sederhana. “Bahkan kemeja longgar yang dipadukan dengan bawahan seperti celana atau rok saja sudah bisa masuk ke kategori modest fashion,” sebutnya.

Dia mengatakan, melalui beberapa ajang modest fashion week dengan pasar yang berbeda di setiap negara, diharapkan bisa mempersatukan semua serta saling membangun jejaring untuk meningkatkan bisnis. “Kami berharap lewat satu platform semuanya jadi satu. Jadi kalau kita pusatkan semuanya, trennya bisa diketahui,” ujar Stevy. (dew)



Apa Pendapatmu?