Alexa Metrics

Fokus pada Segmentasi

Fokus pada Segmentasi Fashion modest wear memiliki pangsa pasar besar di Indonesia. (Foto: Adrianto/INDOPOS)

indopos.co.id – Paris memiliki haute couture sebagai simbol industri fashion. Amerika Serikat terkenal dengan sport wear-nya, Tokyo dengan fashion kontemporer modern. Sementara Milan dikenal karena gaya busana klasik bangsawan.

Bagaimana dengan Indonesia? Presiden Indonesia Fashion Chamber (IFC) Ali Kharisma mengatakan, Indonesia tidak memiliki banyak pilihan. ”Salah satu tempat yang masih kosong dan bisa kita usung adalah busana Muslim,” ujarnya terus terang.

Dia mengatakan, apabila ditelisik dari segi pangsa pasar, dirinya menyebut industri fashion Muslim Indonesia relatif menawarkan ragam konsep dan gaya berpakaian bagi seluruh pasar Muslim di dunia. “Pangsa pasarnya Indonesia cocok dengan pangsa pasar seluruh dunia karena cara berpakaian sangat beragam. Cocok dengan Timur Tengah, cocok dengan muslim Amerika Serikat, Eropa, Turki, bahkan Asia,” lanjutnya.

Bahkan, untuk mendukung iklim usaha bisnis fashion Muslim, lanjutnya, Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan untuk segera membentuk forum internasional yang dapat mempertemukan antara pelaku bisnis fashion Muslim Indonesia dengan mancanegara. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai pusat mode modest wear.

Salah satunya dengan memberikan pelatihan daring khusus bagi para pelaku bisnis di bidang fashion. Deputi Infrastruktur dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Hari Sungkari mengatakan, untuk bisa bersaing dan menciptakan produk unggul, pertama-tama diperlukan SDM yang unggul terlebih dahulu. Untuk menciptakan SDM yang unggul, maka diperlukan manajemen, mentoring dan pelatihan serta dukungan ekosistem yang teruji.

”Karena itu kami mendukung kegiatan yang memberikan wadah bagi para wirausahawan atau entrepreneur untuk berkonsultasi langsung dengan para mentor terkait dunia usaha. Termasuk persoalan teknis yang sering dihadapi,” ungkapnya.

Kemudian yang kedua, lanjutnya, pemberian akses pemodalan yang sesuai dengan karakter industri. Menurut Hari, saat ini pemerintah tengah mewacanakan penggunaan aset kekayaan intelektual sebagai salah satu kolateral dalam penilaian pemberian kredit bagi perbankan.

Dia menilai, langkah itu diharapkan mempermudah akses modal bagi industri kreatif. Sehingga produk-produknya mampu kompetitif dan dapat diserap dengan optimal.

Industri pakaian jadi juga memiliki peran besar pada kontribusinya terhadap PDB nasional di tahun 2019, yaitu sebesar 5,4 persen yang mengalami pertumbuhan sebesar 19,5 persen. Melihat kekuatan yang dimiliki oleh sektor industri fashion Muslim nasional, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mendorong seluruh pihak mulai dari pelaku industri, desainer, pemerintah, marketplace, akademisi, hingga pihak terkait lainnya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh industri tersebut.

”Kita juga harus bersama-sama mempromosikan dan memperkenalkan produk-produk industri fashion Muslim nasional sehingga dapat semakin dikenal oleh dunia,” ujarnya. Secara khusus, dirinya mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mendukung keberlangsungan sektor IKM nasional, salah satunya dengan membeli produk-produk yang dihasilkan.

”Dukungan ini akan memberikan dampak yang besar kepada sektor terkait seperti penjahit, penyedia bahan baku, logistik dan sektor terkait lainnya dan pada akhirnya akan menjaga perekonomian Indonesia untuk tetap bertahan. meskipun sedang menghadapi krisis akibat pandemi COVID-19,” tuturnya. (dew)



Apa Pendapatmu?