Alexa Metrics

Masih Banyak Siswa Kesulitan Belajar Daring

Masih Banyak Siswa Kesulitan Belajar Daring

indopos.co.id – Kebijakan belajar daring atau dalam jaringan dampak Pandemi COVID-19, membuat sejumlah orang tua siwa SMA/SMK di Provinsi Banten yang berekonomi pas-pasan kelabakan.

Pasalnya, mereka harus menyediakan handphone android dan kuota bagi anaknya. Apalagi, dalam satu keluarga ada lebih dari satu anak yang sekolah. Sehingga tak sedikit satu keluarga bergantian untuk menggunakan handphone android agar mereka dapat mengikuti pelajaran yang diberikan sekolah.

Selain itu, banyaknya daerah di Banten yang belum terjangkau oleh jaringan internet juga menjadi kendala serius dalam pembelajaran daring. Bahkan, tak jarang untuk mencari sinyal para siswa itu harus pergi ke perbukitan atau keluar rumah untuk bisa mengikuti belajar daring.

”Memang di sini sinyal handphone susah. Para siswa terkadang harus pergi ke perbukitan atau dekat kantor kecamatan hanya untuk bisa mengikuti pembelajaran daring,” ungkap Nia, seorang guru salah satu SMA di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, kepada INDOPOS, Senin (24/8).

Menururnya juga, kendala lain dalam menghadapi pembelajaran daring adalah tidak semua siswa memiliki handphone android. ”Alhamdulillah, untuk belajar daringnya  tidak ada masalah. Tetapi ada siswa yang tidak memiliki handphone android, sehingga meminjam milik orang tua maupun keluarganya,” ungkapnya juga.

Sementara itu, salah seorang kepala sekolah kejuruan di Kota Serang memberi usul guna mengatasi siswa yang tidak memiliki handphone android untuk belajar daring. Langkah strategis itu dapat dilakukan oleh Pemprov Banten atau Dinas Pendidkan dan Kebudayaan (Dindikbud) setempat.

Yakni, dengan mendata siswa yang tidak memiliki handphone android untuk mengikuti PDR (pembelajaran dari rumah) di sekolahnya masing-masng. Lalu, menyiapkan handpohone android untuk siswa yg tidak mampu itu berdasarkan seleksi dari Dindikbud.

”Temasuk menyiapkan paket kuota internet selama masih berlangsungnya PDR bagi siswa yang tidak mampu itu,” ujarnya juga. Selain itu, menurut kepsek senior ini, Dindikbud Banten harus menjalin koordinasi dengan Dindikbud kabupaten/kota se-Banten.

Tujuannya, agar satu pemahaman dalam kaitan kegiatan di sekolah, baik itu tingkat SD, SMP, maupun tingkat SMA atau perguruan tinggi. ”Instruksikan kabupaten/kota agar mendata dan menyiapkan handphone android untuk kegiatan PDR itu,” ujarnya juga.

Dia juga mengaku prihatin dengan Pemprov Banten yang tidur nyenyak meski begitu banyak orang tua yang tidak mamu membelikan anaknya handphone android akibat keterbatasa ekonomi. ”Jika ini tetap dibiarkan, mau jadi apa nanti SDM di Banten,” cetusnya.

Sebab, menurutnya, pandemi ini banyak orang tua siswa yang terpaksa mengangur akibat terkena PHK. ”Bantuan COVID-19 yang Rp600 ribu saja nggak jelas kelanjutannya. Saat ini orang mau makan aja susah, sekarang terbebani lagi dengan alat pembelajaran sekolah anak. Dari mana uangnya,” katanya balik bertanya.

Dia juga memaparkan, salah satu solusi untuk bantuan handphone bagi siswa yang tidak mampu secara ekonomi bisa didapatkan melalui dana CSR. Bisa juga, katanya lagi, setiap perusahaan yang ada di Banten diwajibkan membantu sekolah menyediakan handphone bagi siswa kurang mampu.

Sedangan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Banten Lilik Hidayatullah mengaku kerap menerima keluhan para kepala sekolah jika ada siswanya yang kesulitan mengikuti pembelajaran daring akibat tidak punya handphoe android dan tidak mampu membeli kuota internet.

Tidak hanya di sekolah yang jauh dari perkotaan, di SMKN 2 Kota Serang yang dipimpinya saja,  masih ada siswa yang tidak memiliki handphone android. ”Saya sudah minta kepada orang tua siswa, untuk belajar daring wajib memiliki handphone android. Namun, jika tidak ada saya sudah siapkan 7 laboratorium komputer untuk digunakan oleh siswa yang tidak memiliki handphone android,” ujarnya. (yas)



Apa Pendapatmu?