Alexa Metrics

Usaha Nasi Kapau Coba Bertahan di Tengah Pandemi

Usaha Nasi Kapau Coba Bertahan di Tengah Pandemi Erwin Lismar, pengusaha Nasi Kapau yang bertahan di masa pandemi COVID-19. (Foto: Joevicar Iqbal/INDOPOS)

indopos.co.id – Di Kedai Nasi Kapau Pak Ciman (Authentic Traditional and International Foods), tepatnya di Jalan Minangkabau, Setiabudi, Jakarta Selatan, terlihat ramai. Sederet mobil dan motor tampak rapi berjejer hingga meluber di jalan raya depan resto tersebut.

Ketika INDOPOS mencoba masuk menemui pemilik kedai yang menyajikan menu tradisional itu, di dalam kedai riuh ramai pengunjung yang makan sambil mengobrol santai. Haji Erwin Lismar, 47, putra dari Pak Ciman langsung menemui INDOPOS. “Yuk, di luar saja Mas. Di dalam rada bising karena lagi ada hiburan yang menghibur pengunjung,” ujar dia.

“Nah, mendingan di luar sini,” sambung Erwin seraya tak ingin berlama-lama. Ia mengatakan bahwa ika Kedai Pak Ciman di Jalan Minangkabau itu merupakan kedai ketujuhnya. Awalnya, Pak Ciman merintis rumah makan pagi – sore di Palembang, Sumatera Selatan. “Saya yang bantu-bantu Bapak Ciman yang merupakan ayah saya sendiri,” tutur anak ke 10 dari 12 bersaudara itu.

Ia menceritakan, sejak 25 tahun berkecimpung di usaha kuliner. “Ya bantu Bapak membesarkan Kedai Pak Ciman di Palembang,” tutur Erwin.

Pria yang mengenakan kemeja batik lengan panjang itu katakan, kedai selalu dibuka mulai pukul 07.00 WIB – 10.00 WIB, meski belum semua masakan matang. Sekitar pukul 10.00 WIB, makanan sudah matang semua.

“Buka tiga sesi, sarapan pagi, menu sarapan pukul 07.00 -10.00 WIB, lalu masakan utama itu pukul 10.00 WIB sudah lengkap. Malam ada menu panas-panas, seperti Sop, Sup, Soto Padang. Kita di sini pekerjakan 25 orang karyawan. Mulai dari chef sampai pelayanannya,” ungkap Erwin.

Walaupun masih kondisi COVID-19, namun banyak rekan-rekan yang menyarankan untuk tetap membuka kedai di lokasi tersebut. Letaknya yang strategis membuat pengunjung tak pernah berhenti datang.

“Banyak rekan menyarankan buka di sini sesuai nama jalannya yaitu Jalan Minangkabau. Jadi rasanya kayak balik ke kampung kita sendiri,” seloroh dia sambil tertawa.

Menghadapi kondisi pandemi COVID-19, Erwin mengaku hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT. Dirinya selalu berdoa dan berusaha yang terbaik untuk menjalankan usaha kedai makanan tradisional tersebut.

Berbagai menu makanan khas Minangkabau tersaji. “Kita ada menu kaleo ayam, dendeng ayam bakar bakoko, tunjang, rendang, ikan bakar, gajebo yang lezat hingga cumi asin pedas,” beber dia memancing air liur berkumpul.

Kapasitas tempat makan itu bisa mencapai 150 site. Namun, kondisi pandemi yang menerapkan prosedur dan protokol kesehatan maka dikurangi 30 persen. “Jadi hanya 120 site yang dapat terisi,” imbuh dia.

Tak terasa sudah hampir 20 menit berlalu, Erwin berharap, pandemi COVID-19 cepat berlalu. Terlebih, dirinya sempat merumahkan sejumlah karyawannya sebagai dampak dari pandemi. “Ya, pas awal kita hanya melayani take away saja. Bertahan intinya,” tutur dia.

Namun, kata Erwin, sejumlah karyawan yang dirumahkan akan dipanggil kembali setelah keadaan membaik. “Tiga bulan sempat dirumahkan karyawan, lalu kita panggil lagi sekarang,” kata dia.

Salah satu bentuk kepedulian Erwin di masa pandemi, pada 21-22 Agustus 2020, dirinya menggratiskan makan bagi ojek online atau nasi bungkus untuk dibawa pulang. “Ya untuk meringankan mereka ojek online. Gak banyak. Yang penting berbagi,” tandas dia.

Terbukti, ketika itu INDOPOS menemui Agus Istianto, 43, driver Ojek Online. Agus mengatakan, usai antar pesanan pelanggan. Pihak rumah makan itu memberikan nasi dan lauk secara gratis. “Alhamdulillah, semoga bisa membantu kami para ojek online ini,” tukas Agus sambil bergegas pergi dari lokasi itu. (ibl)



Apa Pendapatmu?