Alexa Metrics

Gotong Royong Lawan Bencana Hidrometeorologi, Sumsel

Gotong Royong Lawan Bencana Hidrometeorologi, Sumsel Polda Sumsel tambah pasukan perkuat satgas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah rawan. (ANTARA/Yudi Abdullah/20)

indopos.co.id – Bencana hidrometeorologi menghantui Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan kekeringan menyisakan kerugian fisik dan materi setiap tahun.

Peristiwa itu harus menjadi perhatian kalau lingkungan hidup memiliki batas daya dukung dan daya tampung. Karena itu, bisa menimbulkan bencana apabila melebihi dosisnya. Begitu pula kala musim kemarau, terjadi kekeringan berpotensi menimbulkan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengakibatkan kabut asap.

Bencana banjir Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, dan OKU Timur pada Mei 2020. Jembatan rusak, bangunan rumah penduduk, fasilitas umum, dan sejumlah korban jiwa. Bencana itu, terus mengancam masyarakat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah kabupaten/kota Sumsel berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel mencatat Januari-Juli tahun ini terjadi sejumlah bencana banjir, tanah longsor, dan karhutla. Menilik data dan fakta itu, masyarakat diharap intensif mencegah dan penanggulangan bencana hidrometeorologi selalu terjadi sepanjang tahun.

Untuk mencegah, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus mengendalikan bersikap tegas menghentikan investasi dan eksploitasi SDA. Mematuhi rencana tata ruang wilayah (RTRW). Bencana terjadi karena akumulasi kerusakan menyusul salah pengolahan, pemanfaatan SDA, dan eksploitasi untuk kepentingan industri.

Banyak korban dan kerugian bencana itu menunjukkan terjadi ketidakseimbangan ekologis, kemudian memicu perubahan iklim. Perubahan iklim menimbulkan bencana hidrometeorologi sepanjang tahun dengan dampak sangat luas.

Gubernur Sumsel Herman Deru meminta para bupati dan wali kota mematuhi RTRW dalam melakukan pembangunan daerah agar bisa mencegah bencana hidrometeorologi. Selain itu, meminta masyarakat menjaga lingkungan, kelestarian daerah aliran sungai (DAS), dan kearifan lokal peninggalan nenek moyang.

Menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi macam kekeringan memicu karhutla, mengalokasikan dana puluhan miliar rupiah, menyiapkan peralatan pendukung seperti alat berat dan helikopter. Menyiagakan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, satgas gabungan karhutla didukung aparat TNI/Polri.

Petugas BPBD, Dinas Sosial, dan satgas gabungan itu, sewaktu-waktu siap turun lapangan membantu masyarakat yang tertimpa bencana, ujar gubernur. Anggota kepolisian ditempatkan pada sejumlah daerah rawan karhutla. ”Aparat dikerahkan melakukan pembinaan masyarakat meninggalkan kebiasaan membakar ketika membersihkan lahan atau membuka kebun baru, dan menegakkan hukum,” tegas Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri S.

Berdasar hasil pemetaan Satgas Karhutla Sumsel, ada 10 kabupaten dan kota berpotensi terjadi karhutla. Untuk menanggulangi karhutla dengan menggelar perlengkapan, kendaraan, dan personel Satgas Karhutla. Kalau terjadi karhutla petugas dengan peralatan lengkap bergerak cepat menuju lokasi kebakaran. (raf/ant)



Apa Pendapatmu?