Alexa Metrics

Gelandang Persija Mac Klok Ternyata Suka Gado-gado, Otavio Dutro Pilih Nasi Uduk

Gelandang Persija Mac Klok Ternyata Suka Gado-gado, Otavio Dutro Pilih Nasi Uduk Marc Klok dan Otavio Dutra.

indopos.co.id – Tak ubahnya seperti selebriti. Penampilan seolah menjadi hal wajib dijaga dan diperhatikan bagi para pemain sepak bola. Pasalnya, jutaan pasang mata di stadion maupun di rumah pasti tertuju kepada mereka saat bertanding.

Seperti dilakukan pemain gelandang Persija Jakarta, Marc Klok. Pemain naturalisasi asal Belanda ini selalu menjaga rambutnya agar tetap klimis di dalam dan luar lapangan.

Selain itu Klok juga hobi mengoleksi tato. Dia memiliki dua tato di leher bagian belakang dan tangan kanan. Klok menggambar lehernya dengan inisial nama kedua orang tua dan saudara perempuannya. Sedangkan di tangan kanannya terdapat tato ’’XXX’’. Simbol dari Amsterdam. Kota kelahiran Klok.

Tak hanya itu. Klok juga memiliki sebuah tato bergambar macan di kaki kanan. Namun, Klok belum puas dengan tato itu. Pemain bernomor punggung 10 ini menambah satu tato lagi yang bergambar David Beckham saat masih membela Manchester United di betisnya.

Klok pun memiliki alasan memilih gambar David Beckham. Dia menjadikan mantan kapten Timnas Inggris itu sebagai panutan dalam kariernya.

’’Menurut saya tato adalah cerita kehidupan saya. Tato bercerita pengalaman serta mimpi saya dan membuat saya lebih termotivasi,’’ ujar Klok melalui pesan Whatssap dari Amsterdam, Minggu (23/8).

’’Saya mengidolai sosok David Beckham sejak saya masih kecil. Dia sosok yang menginspirasi saya dan banyak pria seumuran saya,’’ tambahnya.

Klok masih ingin menambah satu tato lagi. Tato ini merupakan salah satu yang terpenting baginya. Yakni sebuah trofi juara bersama Persija. ’’Saya berambisi menambah satu tato lagi. Yakni gambar yang menceritakan gelar juara bersama Persija,’’ tutupnya.

Selain jaga penampilan, Marc Klok juga sangat menyukai masakan Khas Indonesia, yakni Gado-gado. Apalagi setelah pindah dari Makassar ke Jakarta. ’’Di Jakarta sangat mudah mendapatkan Gado-gado dan saya sangat menyukai. Apalagi saya seorang vegetarian,’’ imbuhnya.

Marc Klok datang ke Indonesia saat usianya masih muda. Baru 24 tahun. PSM Makassar menjadi klub Indonesia pertama yang dibela Marc Klok.

Selama dua tahun, Marc Klok yang dijuluki ’gelandang pengangkut air’ atau pekerja keras ini  mencatatkan 100 penampilan dan mencetak 17 gol buat PSM. Pada 2020, Marc Klok memilih melanjutkan karier di Persija Jakarta.

Selain itu, Marc Klok juga mengajukan diri untuk bisa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Saat ini, proses naturalisasi pemain asal Belanda itu masih berlangsung.

’’Saya sangat terkesan dengan Indonesia. Pertama, saya menyukai masyarakatnya. Saya suka suasana masyarakat di Indonesia. Mereka menyukai dan berbicara dengan saya. Sehingga saya merasa diterima di sini,’’ kata Marc Klok.

’’Indonesia juga sangat Indah dan luas. Di sini cuaca panas dan setiap hari ada matahari. Banyak tempat yang sangat bagus, terutama pantai. Saya juga suka jalan-jalan di Indonesia,’’ ungkapnya.

Marc Klok juga takjub dengan atmosfer sepak bola di Indonesia. Menurutnya, atmosfer pertandingan dan suporter di Indonesia sangat mengagumkan.

’’Saya juga suka dengan sepak bola Indonesia. Ketika saya datang, saya langsung mencintai suporternya dan juga atmosfer di lapangan,’’ kata Marc Klok.

’’Saya pikir, lebih bagus saya bermain di sini. Selain itu, juga banyak pemain yang berasal dari Belanda,’’ lanjut Klok.

Di Persija, Marc Klok bermain sebagai gelandang serang bersama Evan Dimas dan eks pemain Juventus, Marco Motta. Marc Klok berambisi membawa Persija menjadi juara Liga Indonesia.

’’Saya tertarik bermain dengan Persija karena suporternya, Jakmania, sangat banyak. Karena itulah saya memutuskan meninggalkan PSM Makassar dan bergabung dengan Persija. Target saya membawa Persija menjadi juara musim ini,’’ paparnya.

Pemain asing Persija lainnya adalah Otavio Dutra. Pemain jangkung asal Brazil ini berposisi sebagai stoper bek tengah. Dutra didatangkan Persija dari Persebaya musim ini. Seperti halnya Marc Klok, Dutra juga mengaku sangat terkesan dengan Indonesia. Makanya dia rela dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia.

’’Saya sangat nyaman tinggal di Indonesia. Inilah yang membuat saya mau jadi WNI. Anak-anak di sini juga sangat ramah dan sangat hormat kepada orang tua,’’ kata Otavio Dutra kepada INDOPOS melalui Whatsapp, Jumat (21/8).

Selama di Indonesia, Dutra tentunya telah beradaptasi dengan lingkungan maupun makanan. Salah satu makanan yang disukainya adalah Nasi Uduk.

’’Saya sudah tinggal di Indonesia dan sangat cocok dengan  makanannya. Makanan favorit saya Nasi Uduk. Bahkan saya sudah bisa membuatnya sendiri di Brazil,’’

Senada dengan Marc Klok, Dutra juga ingin membawa tim ’’Macan Kemayoran’’–julukan Persija–juara Liga 1 musim ini. ’’Tentu, saya ingin membawa Persija juara musim ini. Saya sudah dua kali juara di Liga Indonesia dan kali ini ingin juara bersama Persija,’’ paparnya.

Dutra yang telah bermain dengan Timnas Indonesia juga memuji sepak bola Indonesia. Menurut dia, sepak bola Indonesia luar biasa dan berpotensi ke depannya. Karena itu, Dutra selalu ingin bermain membela Timnas Indonesia. ’’Sepak bola Indonesia sangat luar biasa dan berpotensi luar biasa juga. Saya ingin selalu bermain membela Timnas Indonesia,’’ paparnya.

Naturalisasi Pemain 

PSSI masih berencana melakukan naturalisasi pemain untuk Timnas Indonesia. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengaku masih membuka peluang untuk menaturalisasi pemain buat Timnas Indonesia. Namun, pihaknya akan lebih selektif lagi dalam menaturalisasi pemain.

Program naturalisasi memang sudah dilakukan PSSI dalam 10 tahun terakhir demi menggenjot performa Timnas Indonesia. Sebanyak 27 pemain asing dan keturunan telah mendapatkan status Warga Negara Indonesia (WNI). Namun, program yang telah dilakukan PSSI tersebut tak membawa banyak dampak terhadap permainan Timnas Indonesia. Tak semua pemain yang dinaturalisasi mampu memberikan performa mengesankan.

Mayoritas pemain yang menjadi WNI pun sudah berusia di atas 30. Hal itulah yang membuat Mochamad Iriawan ingin lebih selektif lagi dalam menaturalisasi pemain.

’’Dalam rapat terbatas (Ratas) bersama Presiden Jokowi, beliau mengatakan kenapa tidak melakukan naturalisasi pemain? Lalu saya bilang, saya tidak alergi dengan naturalisasi. Akan tetapi, kalau naturalisasi datangnya dari umur 37, kemudian dari sana dia hanya bermain di kasta ketiga, keempat, untuk apa?’’ kata Mochamad Iriawan dalam seminar online belum lama ini.

’’Kalau mungkin nanti melakukan naturalisasi, siapa tahu ada yang umur 19. Kalau memang dia pemain yang bagus, kemudian mudah prosesnya dan tidak memberatkan PSSI, itu akan kami pertimbangkan,’’ ujar  pria yang akrab disapa Iwan Bule.

Program naturalisasi pemain yang dilakukan PSSI bisa dikatakan belum sepenuhnya berhasil. Dari nama-nama yang sudah diganti kewarganegaraannya, ternyata hanya tiga nama yang memberikan dampak langsung buat Timnas Indonesia.

Mereka adalah Cristian Gonzales, Stefano Lilipaly, hingga Beto Goncalves. Dua nama terakhir masih aktif bermain dan langganan dipanggil Timnas Indonesia.

Adapun sisanya belum mampu memberikan dampak spesial. Bahkan, ada pula yang sama sekali tidak pernah dipanggil ke Timnas Indonesia. (bam)



Apa Pendapatmu?